Dikira Janda

Dikira Janda
BAB 72 ZEN KANGEN KAKAK


__ADS_3

Nissa terbangun, padahal saat ini masih tengah malam. Nissa menatap jam yang ada di kamarnya. pukul 01.00 WIB.


"Zen." Lirih Nissa kebingungan karena merasa kehilangan anak bujangnya yang masih kecil.


Semenjak Reina menikah, Nissa dan Yusuf memang mengajak Zen untuk tidur bersama mereka. Namun terkadang Zen memilih tidur seorang diri di lantai atas.


Nissa langsung beranjak dari atas ranjang. Meninggalkan Yusuf yang nampak lelap dengan mimpinya sendiri.


Nissa langsung menuju lantai atas setelah keluar dari kamarnya. Dengan cepat Nissa melangkah menuju kamar Zen setelah pintu lift terbuka.


Nissa membuka pintu kamar Zen. "Nggak ada." Gumam Nissa. Ia langsung menuju kamar mandi dan langsung membuka pintunya. "Zen." Panggil Nissa. Namun Tetap saja Zen tidak ada disana.


"Apa mungkin..."


Nissa langsung bergegas cepat keluar dari kamar Zen untuk menuju tempat yang kemungkinan besar di sanalah Zen berada.


Nissa langsung menutup kembali pintu kamar Reina secara pelan karena ternyata sesuai perkiraan Nissa. Zen pindah tidur di kamar Reina.


Nissa melangkah pelan. Kakinya bahkan terasa berat untuk mendekati ranjang. Ia menatap Zen yang memejamkan mata sambil memeluk boneka kesukaan Reina. Boneka yang di beli Reina karena itu pilihan Zen.


Nissa duduk di tepi ranjang dan mengamati wajah Zen yang masih nampak basah dengan jejak air mata. Jujur, hati Nissa merasa tercubit dan terasa ngilu. Nissa jelas tahu Zen sangat merindukan Reina.


Semenjak Reina dan Hendri pulang dari bulan madu, Reina dan Hendri ke rumah hanya untuk memberikan oleh-oleh. Buah tangan yang jelas milik Zen lah yang paling banyak. Namun sepertinya itu tidak memuaskan hati Zen. Karena Nissa tahu dengan jelas, oleh-oleh yang di berikan Reina sama sekali belum Zen buka bungkusnya. Padahal itu semua kesukaan Zen.

__ADS_1


"Zen." Panggil Nissa sambil mengusap pucuk kepala anaknya. Nissa jelas tahu kalau Zen belum tertidur.


"Zen." Panggil Nissa lagi karena Zen masih tetap memilih pura-pura tidur.


"Nda, Zen kangen kakak. Huaaa..." Seketika tangis Zen pecah setelah bangun dan menghambur ke pelukan Nissa.


Nissa yang sangat tahu betapa sangat dekatnya Reina dan Zen. Ia juga jadi ikut menangis. Karena tidak bisa di pungkiri oleh Nissa kalau ia pun sangat merindukan Reina.


Rindu keributan kedua anaknya yang melebihi pasar. Rindu keramaian kedua anaknya saat di meja makan. Rindu segala momen dimana Reina dan Zen yang tidak pernah diam.


Nissa memeluk erat Zen agar anaknya bisa meluapkan segala isi hatinya. Melupakan apa yang terus di tahan Zen beberapa hari ini.


"Kakak sudah nggak sayang Zen, nda."


"Zen sudah nggak suka itu nda. Zen mau kakak, Zen kangen kakak. Tapi kak Re nggak kangen Zen." Zen masih terus menangis tersedu-sedu.


"Kak Re juga pasti kangen sama Zen nak."


"Kalau kak Re kangen Zen. Kenapa kak Re nggak pulang ke rumah kita nda. Kak Re sudah nggak sayang Zen. Hua..." Zen semaki menangis sejadi jadinya.


"Dengar nda Zen. Kak Re itu sayang sekali sama Zen. Zen sangat tahu itu."


"Kenapa mas Hendri nggak kembalikan kak Re ke kita nda. Padahal mas Hen lama pergi bawa kak Re ke luar negeri. Mas Hen jahat nda. Huaaaa..."

__ADS_1


"Dengar nda nak. Kak Re itu sudah menikah dengan mas Hendri. Jadi sudah sepatutnya kak Re ikut kemana mas Hendri berada. Karena kak Re sudah menjadi tanggung jawab mas Hen. Ayah dan nda sudah mempercayakan sepenuhnya tanggung jawab kami menjaga kak Re ke mas Hendri."


Zen merenggangkan pelukannya. Nissa langsung mengusap kedua mata anaknya yang basah.


"Kenapa begitu nda?"


"Karena kak Re sudah jadi istrinya mas Hendri." Jelas Nissa berharap Zen maksud. "Begini saja. Nda anak siapa?"


"Anak mbah kung dan mbah uty." Jawab Zen


"Pinter." Nissa mencolek hidung Zen. "Tapi sekarang nda sudah tidak tinggal bersama mbah kung dan mbah uty karena nda sudah menikah dengan ayah. Sudah menjadi kewajiban nda mengikuti kemana ayah mengajak pergi. Sama seperti kak Re yang menjadi anak ayah dan nda, karena kak Re sudah menikah dengan mas Hen, menjadi istrinya mas Hen jadi sudah sepatutnya kak Re ikut bersama mas Hen" Terang Nissa. "Zen paham?"


Zen mengangguk lalu menghambur ke pelukan Nissa. "Tapi Zen kangen kak Re nda."


Nissa mengusap punggung Zen. "Nanti kalau sudah pagi, kita telpon kak Re ya." Zen mengangguk dalam pelukan Nissa. "Sekarang kita tidur."


"Kita tidur disini ya nda."


"Iya sayang."


Yusuf yang sejak tadi mendengar dan melihat semuanya langsung mengusap kedua sudut matanya yang terdapat genangan air yang siap jatuh. Ia langsung menutup pintu kamar Reina setelah melihat Zen dan Nissa memasukkan tubuh mereka di bawah selimut untuk kembali tidur.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan πŸ₯° kasih like dan komennya πŸ’‹ tab favorit juga ya ❀️


__ADS_2