Dikira Janda

Dikira Janda
BAB 78 BERAKTING


__ADS_3

Tok... tok... tok...


Ini sudah kedua kalinya Nissa menuju ke lantai atas mengetuk pintu kamar Reina. Memberi tahu kalau dokter keluarga mereka sudah datang. Agar Hendri cepat diperiksa oleh dokter dan mendapatkan penanganan yang tepat.


Zen, si bocah yang sangat pengertian dan begitu menyayangi kakaknya, Tentu tadi ia langsung melaporkan apa yang terjadi pada Hendri ke Yusuf dan Nissa.


Yusuf dan Nissa jelas langsung sangat khawatir, tidak ingin mantu mereka kenapa-napa. Yusuf langsung menelpon dokter keluarga mereka sekaligus temannya untuk segera datang ke rumah.


Zen merasa senang karena memang itu tujuannya melaporkan pada kedua orang tuanya. Agar Hendri cepat sembuh.


"Belum di buka juga sayang?" tanya Yusuf saat melihat Nissa kembali masuk ke ruang keluarga.


"Belum ayy. Duuuhhh apa parah banget ya mual muntahnya, sudah dua kali keatas kok belum di bukain pintu?" Nissa jadi semakin khawatir.


Yusuf dan Zen yang biasanya pergi ke masjid untuk sholat magrib disana, kini keduanya sholat berjamaah di rumah bersama dokter keluarga mereka juga.


"Apa kita dobrak saja pintunya?" Usul Yusuf yang menurutnya paling singkat.


"Kita tunggu sebentar lagi sama bro." Ucap dokter Rudy.


"Aku jadi nggak enak ini, buat kamu lama nunggu anak dan mantu ku. Pasien mu pasti sudah banyak yang menunggu." Ucap Yusuf.


"Santai bro. Di klinik kan masih ada istriku dan beberapa perawat kok."


.


.


.


Seolah lupa waktu, Hendri dan Reina sejak tadi asik mereguk kepu*asan raga. Meraih puncak indahnya kehidupan bersama. Membuat ruang kamar mandi tidak hanya ramai dengan air show yang mengalir deras. Suara des*ah nafas keduanya bahkan terus berperang hebat.


Setelah usai dengan beberapa gaya dan mencapai puncak kedua kalinya, Hendri dan Reina dengan cepat membersihkan diri. Karena mereka sangat sadar waktu magrib tidaklah panjang.

__ADS_1


Klek


"Ayo mas kita turun, aku laper banget." Ajak Reina sambil menarik gagang pintu. "Eh nda, ayah." Reina terkejut saat sudah menarik pintu dan akan melangkah keluar, ia melihat Nissa dan Yusuf di depan kamarnya. Dan ternyata ada Zen dan juga dokter keluarga mereka, dokter Rudy.


"Ada apa nda?"


"Kata adek, mas Hen tadi sakit, muntah-muntah. Jadi ayah telponkan dokter Rudy."


"Hah." Reina di buat tercengang. Sungguh tidak menyangka adiknya akan melakukan tindakan sejauh ini.


Sedangkan Hendri hanya bisa tepuk jidat mendengar penuturan ibu mertuanya tersebut.


"Silahkan di periksa dulu dok." Ucap Yusuf.


"Eh... tunggu... tunggu... tunggu..." Ucap Reina cepat. "Nda, ayah. Sebenarnya..." Reina menatap semua orang yang ada disana. Tidak mungkin ia menceritakan semuanya dengan jujur. Tapi Reina bingung harus apa sekarang.


"Sebenarnya apa Re?" tanya Yusuf tak sabaran mendengar ucapan menggantung Reina.


Hendri yang sejak tadi berdiri di belakang pintu. Ia langsung menampakkan diri pada semua orang.


"Stop mas." Ucap Reina menghentikan ucapan Hendri.


"Ini dokter Rudy sudah datang Hen, kamu mau di periksa dimana?" tanya Yusuf yang masih khawatir.


Sedangkan Nissa nampak memperhatikan Hendri dan Reina. Wajah Hendri bahkan tidak nampak seperti orang sakit. Rambut keduanya bahkan masih jelas nampak lembab. Nissa jadi mengingat ucapan yang samar-samar ia dengar saat Reina sudah membuka handle pintu.


"Apa jangan-jangan sejak tadi mereka sedang..." Batin Nissa mulai menerka-nerka. Sepertinya Nissa sudah mengerti keadaan. Karena di wajah Reina tidak ada raut kecemasan melainkan rasa panik seperti orang yang tengah kepergok.


"Cepat om dokter periksa mas Hen." Ucap Zen sambil menarik tangan dokter Rudy.


Reina nampak semakin panik. Ia menggigit ibu jarinya karena merasa takut ketahuan kalau ternyata Hendri tidaklah sedang sakit.


Nissa langsung membisikkan sesuatu pada Yusuf. Seketika Air muka Yusuf berubah dan menatap Hendri dan Reina bergantian.

__ADS_1


"Dasar bocah sontoloyo." Geram Yusuf didalam hati.


Yusuf langsung berbisik pada dokter Rudy untuk melakukan sesuatu. Tentu dengan menahan kekehan, dokter Rudy siap berakting untuk memuaskan hati Zen yang masih nampak khawatir.


"Hen, keluar. Biar kamu cepat di periksa dokter Rudy." Perintah Yusuf.


Hendri langsung merebahkan tubuhnya di atas sofa setelah meraka semua telah sampai di ruang tengah. Dokter Rudy pun langsung melakukan tindakan agar aktingnya nampak natural.


Sedangkan Reina masih belum paham kalau sekarang mereka sedang berakting. Ia masih sangat panik dengan terus menggigit ibu jari tangannya.


"Kenapa om dokter tidak membuka baju mas Hen. Biar itunya dokter nempel ke mas Hen." Ucap Zen sambil menunjuk alat stetoskop yang menempel pada perut Hendri yang masih berbalut kaos.


"Nggak apa-apa anak ganteng. Begini pun sama saja." Jawab dokter. Ia benar-benar terkesima dengan kejelian Zen. Padahal ia sendiri tahu kalau Zen belum berusia enam tahun. Zen yang sepantaran dengan cucu pertamanya.


"Duuuhhh... jangan Sampek di buka itu baju mas Hen." Batin Reina cemas.


"Tapi dulu om dokter waktu periksa ayah, baju ayah dokter buka." Ucap Zen yang masih mengingat kejadian sebelum Reina datang ke Jakarta.


Dokter Rudy tentu melihat Hendri Sejenak. Nampak jelas wajah memohon Hendri untuk tidak mengikuti maunya Zen.


"Percaya sama om dokter Zen." Ucap Nissa membuat Zen pasrah walau pun sebenarnya Zen tidak puas hati. Hal itu tentu membuat Hendri dan Reina bernafas lega.


Setelah akting berjalan lancar, dokter Rudy langsung menuliskan resep untuk Hendri.


"Ini obat apa dok?" tanya Hendri setelah menerima kertas resep dan membaca nama obat yang di tulis dokter Rudy.


"Itu vitamin agar kamu semakin kuat dan bertenaga." Jawab dokter Rudy yang dengan sengaja menggoda Hendri.


"Apa..." Pekik Hendri terkejut.


Nissa dan Yusuf terkekeh melihat ekspresi wajah Hendri sekarang. Sedangkan Reina malah semakin panik karena sepertinya mereka sudah ketahuan. Wajah Reina bahkan sudah berubah merah karet menahan malu.


"Mas Hen nanti harus rajin minum obatnya, biar cepat sembuh." Ucap Zen yang super perhatian.

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan πŸ₯° kasih like dan komennya πŸ’‹ tab favorit juga ya ❀️


__ADS_2