Dikira Janda

Dikira Janda
BAB 129 DIVYA REINDRI ANNA WIJAYA


__ADS_3

Sudah sejak pagi-pagi sekali, Yusuf dan Zen begitu semangatnya mandi lebih awal, ingin melihat princess terlebih dahulu sebelum melakukan aktivitas.


Yusuf yang biasanya malas-malasan berangkat ke kantor, kini dengan senang hatinya pagi-pagi sekali sudah rapih dengan pakaian kerja. Ingin sekali Nissa heran melihat suami dan anaknya, tapi tidak bisa di pungkiri jika ia juga ingin segera melihat princess.


Yusuf dan Nissa yang sejak tadi berbincang bersama Pak Makruf, Bu Rumi, dan Hendri, tentu saja mereka berdua langsung beranjak dan menghampiri Reina. Bukan, lebih tepatnya princess.


"Uluh-uluh cucu Opa sudah mandi ya?" tanya Yusuf dengan suara yang dibuat sok imut bak anak balita setelah mengambil alih princess dari gendongan Reina.


"Emmm ... wanginya." Ucap Nissa mencium Princess. Suara Nissa juga tak kalah imut seperti Yusuf tadi.


"Ayah sama Nda kenapa suaranya kaya kucing kejepit pintu begitu ya Kak?" tanya Zen bingung.


"Memangnya adek sudah pernah lihat kucing adek kejepit pintu?"


"Belum pernah."


"Terus dari mana adek tahu suara Ayah dan Nda seperti kejepit pintu?"


"Soalnya aneh Kak."


"Kamu ini ada-ada saja toh dek." Gemas sekali Reina. Ingin mengacak-acak rambut adiknya namun adiknya itu akan berangkat sekolah.


Reina menatap Yusuf dan Nissa berganti. Wajah keduanya bahkan sangat jelas terpancar kebahagiaan. "Kalau di pikir-pikir lagi, kenapa Ayah dan Nda nggak ada yang tanya keadaan ku? Aku benar-benar di tikung anak sendiri," batin Reina terkekeh di dalam hati.


Hanya sebentar Yusuf dan Nissa melihat cucunya, karena mereka berdua harus mengantar Zen ke sekolah.


.


.


.


Malam ini, di rumah Pak Makruf sudah begitu banyak orang yang datang untuk memenuhi undangan tua. rumah.


Malam ini, Hendri melakukan acara syukuran atas kelahiran anak pertamanya serta pemberian nama dan aqiqah untuk sang buah hati.


Selama jalannya acara, gadis mungil yang di beri nama Divya Reindri Anna Wijaya itu nampak sangat tenang dalam pangkuan Hendri hingga acara selesai.

__ADS_1


Reina langsung membawa Divya ke dalam kamar saat satu persatu tamu yang datang sudah mulai pulang. Bayi mungil itu sudah pasti kehausan karena sepanjang acara hanya terus tidur pulas tak terusik sedikit pun. Sepertinya Divya terhipnotis dengan lantunan doa yang menggema.


Zen yang sejak tadi duduknya di dekat Hendri tentu saja Om kecil itu mengikuti kemana perginya Reina membawa keponakannya.


"Tuh, ada fans beratnya Divya tuh." Tutur Reina saat melihat Zen ikut masuk ke dalam kamarnya.


"Vy yang fans sama Om ganteng tuh kak."


"Narsis banget sih Om." Reina menarik pipi Zen. "Untung Om nya Vya ini memang beneran ganteng."


"Kakak kapan ajak Vy bobok di rumah kita? Zen ingin tidur dengan Vy, Kak."


"Nanti kalau Vy sudah umur satu bulanan lebih ya sayang. Kalau sekarang dedeknya masih terlalu kecil. Atau kalau nggak, Om tidur di sini saja. Kan besok Om libur sekolah."


"Memangnya boleh Kak?" tanya Zen dengan wajah yang sangat ceria.


"Boleh dong, sana Om izin sama Ayah dan Nda dulu."


"Oke Kak." Zen dengan semangatnya langsung lari keluar menuju keberadaan Ayah dan Nda nya.


"Aku tawari adek tidur di sini Mas, boleh kan?"


"Tentu saja boleh dong sayang."


.


.


.


"Ayo Dek, pulang," ajak Yusuf saat melihat anaknya.


"Ayah, Nda Zen mau tidur di sini sama Vya boleh ya," izin Zen penuh dengan rasa harap.


"Adek tidur di rumah saja. Nanti Adek malah repotin Kak Re sama Mas Hen." Tutur Nissa.


"Zen nggak akan nakal Nda, tadi juga Kak Re yang suruh Zen izin sama Ayah dan Nda."

__ADS_1


"Biarkan saja sayang, lumayan kita bisa begadang," bisik Yusuf dengan isi kepalanya yang sudah senang.


Nissa tentu saja langsung melotot menatap sang suami. Bisa-bisanya suami Nissa itu omes nggak ketulungan, malah semakin parah. Mengambil kesempatan setiap ada peluang.


"Ayy ..." Nissa memperingati sang suami untuk tidak berpikir nakal. "Zen kita tidur di rumah saja ya, besok pagi-pagi Nda antar ke sini lagi," negosiasi Nissa. Tentu saja perempuan itu merasa cemas karena Zen tidak pernah menginap ditempat lain tanpa adanya ia dan sang suami.


"Zen mau tidur sama Vy, Nda," Zen tetap kekeh dengan kemauannya.


"Adek mau tidur sama Vy? Yang ada Vy ketimpa adek nanti."


"Zen tuh kalau tidur nggak pecicilan Nda."


"Kata siapa nggak pecicilan? Adek mana sadar kalau sudah tidur pulas."


"Ehm ... Maaf Nda, Ayah. Nggak apa-apa kok Zen menginap di sini, toh besok Zen libur sekolah." Hendri menengahi ibu dan anak yang sedang debat.


"Ya sudah, boleh."


"Yeee .... asikkkk ..." Zen langsung menghampiri Hendri dan saat itu juga Hendri langsung menggendong Zen.


"Yes." Ucap Yusuf. Mendengar suara pelan Kesenangan Yusuf, Nissa langsung mencubit dengan gemas perut Yusuf. "Awww ... sayang, sakit."


"Kapok." Nissa langsung menatap anaknya. "Adek nggak boleh manja Dan repotin Kak Re sama Mas Hen ya."


"Iya Nda..."


Bersambung...


Terimakasih sudah kasih saran nama untuk anak pertama Mas Hen sama Reina, nanti insha Allah aku pakai salah satu untuk anak bungsu mereka ya🙏


Detik-detik tamat ya🤭


Jangan lupa mampir ke sini ya, sudah mulai update juga🤭



Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️

__ADS_1


__ADS_2