Dikira Janda

Dikira Janda
BAB 31 MENEMUI BAYU


__ADS_3

"Kenapa Rere bisa berfikir seperti itu?" Tanya Wati. Padahal ia belum sama sekali melihat Bayu secara langsung. Semua keluarga yang baru datang Dari Malang itu masih tahu Bayu dari foto saja.


"Rere mencoba mendekatkan Bayu dengan Zen. Tapi Rere tidak berhasil karena Bayu sepertinya enggan. Awalnya Rere paham, mungkin karena kami masih baru menjalin sebuah hubungan jadi Bayu ingin bersama Rere saja. Tapi akhir-akhir ini justru hal itu mengganggu pikiran Rere." Reina menarik nafas dalam. Mengungkapkan apa yang menjadi unek-unek hatinya, agar semuanya jelas.


Sedangkan Nissa tidak menyangka jika Reina memiliki perasaan demikian. Nissa menggenggam tangan Yusuf saat ia melihat suaminya terus memejamkan mata. Mendengarkan dengan seksama apa yang diutarakan Reina.


"Rere juga sadar akhir-akhir ini, jika Bayu tidak bersikap dengan ayah. Apa lagi saat terakhir kali kami makan siang bersama. Rere sadar wajah Bayu menunjukkan keterpaksaan. Dia bahkan jarang sekali mampir setelah seharian mengajak Rere keluar jalan-jalan. Rere mau lelaki yang mencintai Rere juga mencintai keluarga Rere."


"Ayo ayah antar menemui Bayu dan mengatakan ini semua."


"Ayah." Panggil Reina pelan dengan suara bergetar. Sejak tadi ia sudah bersiap untuk menerima omelan dari Yusuf. Tapi ternyata ayahnya itu bersikap tenang dan tidak terlihat sorot amarah dari kedua matanya.


"Tidak masalah pernikahan anak ayah gagal. Yang terpenting Rere menemukan lelaki yang memang tepat mendapatkan Rere." Tutur Yusuf paham dengan pandangan anaknya.


"Tidak bisa begitu mas. Menyiapkan sebuah pernikahan ini jelas butuh tenaga, waktu dan uang. Aku nggak setuju kalau pernikahan dibatalkan." Tolak Adam.


"Sayang." Luna mencoba menghentikan tuturan Adam.


"Adam. Yang menikah itu Rere, jadi kita semua harus menghargai keputusan yang di ambilnya sekarang." Wati jadi tidak terima dengan ucapan anak keduanya.


"Ada lelaki lain yang di sukai Rere mas."


Semua orang langsung menatap kearah Adam atas pernyataan dari ucapan Adam barusan.


"Dasar bocah somplak, masih aja itu mulut bocor dari dulu hingga sekarang." Batin Nissa yang mulai curiga dengan Adam yang sepertinya tahu hubungan Reina dan Hendri.


"Apa maksud om?" Telisik Reina yang kini sadar sepertinya Adam mengetahui ia dan Hendri.


"Apa perlu aku sebut namanya sekarang?" Tantang Adam menatap Reina penuh keyakinan.


"Apa benar yang di katakan om mu?" Tanya Yusuf jadi penasaran.


"Ayah. Rere baru menyadari perasaan Rere baru-baru ini. Maaf jika Rere membuat ayah kecewa." Reina menunduk dengan ucapan yang pelan.


Bukan ini rencana Reina dan Nissa sebenarnya. Tapi semua sudah terjadi jadi mau bagaimana lagi.


"Bawa lelaki itu untuk menemui kami.”


Reina menatap tidak percaya dengan si pemilik suara. Buka ayahnya yang mengatakan itu, tapi nda nya, Nissa.


"Nda."


"Yang dikatakan om Adam ada benarnya juga, pernikahan tetap harus dijalankan nanti."


"Nda, Rere sudah membuat keluarga Rere malu dengan keputusan Rere ini. Mana mungkin Rere melanjutkan pernikahan setelah semua ini terjadi."

__ADS_1


"Oma setuju dengan nda dan om kamu nak."


"Hubungi lelaki yang kamu sukai. Suruh dia datang bersama keluarganya malam ini juga. Ayo kita bersiap menemui Bayu terlebih dahulu untuk menyelesaikan urusan kalian lebih dulu."


Yusuf, Adam dan Reina sedang bersiap untuk menemui Bayu segera. Sedangkan yang lainnya masih tetap di ruang keluarga untuk berbincang.


Setelah mengurus suaminya, Nissa langsung keatas menuju kamar Reina. Ia langsung masuk begitu saja setelah sampai di depan kamar anaknya.


"Mau nda bantu ikat rambutnya?" Tawar Nissa sambil terus mendekati Reina yang duduk di depan meja rias.


"Boleh nda."


Nissa langsung mengambil alih, dan langsung menata rambut Reina agar lebih rapi dan tetap cantik.


"Ini bukan Rencana kita nda." Keluh Reina. Mau senang atau putus asa jadi bingung sekarang.


"Kakak tadi menyusul mas Hen ya?"


"Iya."


"Pasti om Adam tadi melihat kakak sama mas Hen. Makanya tadi Reaksinya begitu."


"Nda juga kenapa jadi dukung om Adam?" Reina jadi sedikit kecewa.


"Ya ingin nda."


"Lalu untuk apa di tunda lagi. Keburu mas Hen ubanan kak."


Reina menarik nafas dalam. "Apa ayah akan menerima mas Hen dengan suka hati."


"Meski keadaannya tidak tepat, karena memang seperti ini adanya. Namun nda yakin kalau ayah dan kami semua akan menerima mas Hendri. Lagi pula dimana cacatnya lelaki itu. Dia sangat menyayangi Zen seperti yang kakak ingin kan. Sopan dan sangat mengahargai keluarga kita. Tidak ada alasan Ayah untuk tidak melihat anak gadis kesayangannya bahagia kak."


"Tapi Rere masih takut nda." Cicitnya pelan.


"Kita hadapi semua bersama-sama. Nda akan selalu mendukung kakak. Selama itu baik dan bisa buat kakak bahagia."


Bayu menatap calon istri, calon mertua dan calon omnya juga dengan bingung. Apa lagi ia sampai di susul kelokasi kerja. Dan sekarang mereka berada di sebuah restoran, diruangan privat yang sengaja Yusuf pilih agar pembicaraan mereka lebih inten.


"Ada yang perlu kami sampaikan pada mu Bayu." Ucap Yusuf memecah keheningan diantara mereka semua.


"Ada apa om?"


"Orang tua mu kapan akan datang ke Jakarta?"


"Dua hari lagi om." Bayu menatap Reina yang menatapnya tanpa ekspresi senyuman.

__ADS_1


"Kami semua tahu ini bukan waktu yang tepat. Apalagi tidak ada orang tua mu juga disini. Namun kami meminta maaf jika nantinya ini akan menyakiti kamu dan keluarga." Yusuf menarik nafasnya dalam. "Reina tidak bisa melanjutkan pernikahan dengan mu Bayu." Ucap Yusuf menatap bayu tepat.


Bayu terdiam. Mencerna ucapan yang baru ia dengar dari calon mertuanya. "Maksud om apa?" Bayu menatap Yusuf yang mulai tersulut. "Rei, maksud ayahmu ini apa?" Tanya Bayu dengan menaikkan volumenya.


Reina yang sejak tadi menunduk sampai terkejut dan kini menatap Bayu yang menatapnya dengan mata memerah, menahan amarah, menahan emosi yang sedang ditahannya.


"Meski aku yang salah bukankah dia tidak berhak meninggikan volume suaranya terhadap ayah ku." Batin Reina menatap Bayu dengan amarahnya sendiri.


"Aku tidak mau menikah dengan mu."


"Jangan sembarangan kamu Rei." Bayu berdiri sambil menunjuk Reina dengan nada marah. "Aku sudah mengeluarkan banyak tabungan ku untuk menikahi mu. Bagaimana dengan kedua orang tua ku, saudara-saudara ku bahkan tetangga di kampung ku sudah tahu kalau aku akan menjadi menantu pimpinan DS Group."


Reina tersenyum sinis menatap Bayu. Bagaimana mungkin Bayu mengucapkan terang-terangan di depan ayah dan om nya kalau dia akan menjadi mantu pimpinan DS Group. Bukan karena ia akan menikah dengan perempuan yang sangat ia cintai.


"Jadi yang kamu cintai itu aku atau perusahaan yang di pimpin ayah ku?" Tanya Reina dengan emosinya yang tertahan.


.


.


.


Malam hari pun tiba. Setelah solat isa' semua keluarga sudah berkumpul di ruang keluarga sambil menunggu kedatangan seseorang yang mereka ingin tahu. Lelaki mana yang selama ini telah mencuri hati Reina. Membuat Reina uring-uringan saat menyadari perasaannya setelah ia akan menikah dengan Bayu.


Membicarakan Bayu. Tadi siang Yusuf langsung mengajak Reina dan Adam pulang setelah Bayu secara langsung meminta uang yang telah ia keluarkan untuk acara pernikahan sebanyak tiga kali lipat dari semua pengeluarannya.


Reina dibuat tidak menyangka. Padahal ia berfikir akan kesulitan mengakhiri hubungan yang akan sah ini. Ternyata dengan sangat gamblangnya Bayu menyebut nominal angka yang harus di terimanya.


Apa selama ini Reina salah menilai kepribadian Bayu. Entahlah. Namun yang pasti sekarang, Reina merasa lega walau hatinya masih terasa mengganjal. Biar bagaimana pun ia masih curiga dengan sikap Bayu tadi.


"Assalamualaikum..." Salam dari orang yang baru datang.


"Waalaikum salam." Jawab Yusuf, Adam dan Jaya yang sejak tadi menunggu tamu mereka di ruang tamu.


Yusuf menatap Heran pada Hendri, belum lagi kenapa Hendri membawa bu Rumi dan pak Makruf. Mereka semua bersalaman. Sedangkan Jaya menjadi temu kangen dengan tetangganya dulu.


"Kamu ngapain kesini Hen?" Tanya Yusuf bingung. "Apa ada berkas yang perlu aku tanda tangani?"


Melihat ekspresi Yusuf sekarang. Adam rasanya ingin ngakak. Tapi ia harus bisa tahan karena ia yakin ekspresi selanjutnya pasti akan lebih menantang.


Hendri menarik nafas dalam. Menatap Yusuf dengan Yakin. "Saya kesini karena permintaan Reina pak."


Bersambung...


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan πŸ₯° kasih like dan komennya πŸ’‹ tab favorit juga ya ❀️

__ADS_1


__ADS_2