
Hubungan yang masih bau kencur dan akan segera melangsungkan pernikahan itu nampak sangat mesra padahal sedang di area umum.
Bayu juga tak sungkan menyuapi Reina menu makan siang milik mereka. Antara mau dan tidak mau Reina tetap berusaha senang menerima perlakuan Bayu padanya. Karena sejak tadi pikirannya sudah terbagi.
"Mereka sedang membicarakan apa sih. Kenapa sedekat itu?" Batin Reina. Tanpa sepengetahuan Bayu, sejak tadi Reina mencuri waktu untuk melirik aktifitas Hendri dan Tasya.
Reina semakin dibuat tidak karuan saat melihat Hendri dan Tasya sesekali tertawa. Entah pembicaraan apa yang bisa membuat mereka nampak sangat bahagia.
"Sudah lama mas Hen nggak tertawa seperti itu lagi dengan ku." Batin Reina yang semakin sedih saja.
"Yang. Aku ke toilet dulu ya." Ucap Reina yang langsung beranjak.
"Kebelet banget kali ya, sampek buru-buru gitu." Gumam Bayu sambil melihat langkah cepat Reina.
Reina terus berdiri di depan lorong toilet laki-laki. Kakinya ia hentak-hentakkan sambil menunggu seseorang yang tak kunjung keluar dari sana.
Sudah hampir 15 menit, Hendri langsung keluar dari sana. Ia menatap sejenak perempuan yang berdiri mematung saat melihatnya.
"Mas Hen." Panggil Reina sambil mencekal pergelangan tangan Hendri agar berhenti pergi dari nya.
"Sepertinya aku nggak salah toilet." Ucap Hendri sambil melihat tulisan 'Toilet Laki-laki" yang tercetak jelas di dinding. "Aku rasa kamu salah toilet." Ucap Hendri sambil melepaskan tangannya dari cekalan Reina.
"Zen mana mas?" Tanya Reina kebingungan mau bilang apa.
"Apa kamu menunggu lelaki hanya untuk menanyakan ini?"
"Mas kenapa nggak ajak Zen kesini?"
"Apa mungkin aku tidak mengajak anak bos ku saat dia bersama ku, sebelum aku pergi kesini? Aku pikir kamu sangat mengenal baik saudara mu ini." Sindir Hendri.
Reina menunduk dalam. "Mas jangan seperti ini mas."
"Lalu aku harus seperti apa?"
"Mas nyiksa aku tahu nggak. Dimana tempat mas cuekin aku, padahal aku masih tetap ingin berkomunikasi seperti biasanya." Ucap Reina pelan.
"Aku ataukah kamu yang egois Re." Batin Hendri.
"Ini lebih baik untuk semua orang Re. seperti ucapan mu, kalau Bayu tidak menyukai jika kamu dekat dengan ku. Maka aku membantu mu." Hendri menghela nafasnya. "Aku duluan, nggak enak kalau Tasya dan Nabila menunggu ku terlalu lama."
"Mas benar-benar menjalin hubungan dengan mbak Tasya." Tanya Reina menatap Hendri serius.
"Iya." Singkat tapi sangat meyakinkan.
__ADS_1
"Apa tidak bisa dipikirkan baik-baik lagi?"
Hendri dan Reina seolah tidak menyadari beberapa orang yang sejak tadi lalu lalang melewati mereka berdua.
Reina melangkah mundur sampai kakinya terhenti saat punggungnya mentok pada dinding. Menatap Hendri dalam yang kini sudah mengunci pergerakannya dengan kedua tangannya yang berada di sebalah kiri dan kanan.
"Mas mau apa?" Tanya Reina menantang saat jarak wajah mereka sudah sangat dekat.
"Apa yang terjadi padamu Re? aku bahkan tidak pernah meminta mu untuk berfikir ulang saat kamu memutuskan untuk menerima Bayu menjadi kekasih mu. Atau bahkan meminta mu berfikir dengan benar saat kamu setuju, Bayu datang kerumah mu untuk melamar." Ucap Hendri pelan.
Reina membuang muka saat Hendri semakin mendekatkan wajahnya lagi. "Mari bergerak menjadi saudara yang baik dan kita bisa saling mendukung pilihan kita masing-masing." Bisik Hendri tepat, dekat dengan telinga Reina.
"Ada apa dengan perasaan ku ini?" Batin Reina sambil melihat Hendri yang sudah pergi meninggalkannya lebih dulu.
.
.
.
Seharian ini, Reina hanya mengikuti saja kemana pun Bayu mengajaknya. Berbeda dengan hari-hari biasanya, entah kenapa hari ini Reina tidak begitun antusias saat Bayu terus menggenggam tangannya dan menikmati kebersaam mereka yang tidak setiap hari bisa mereka luangkan.
Mobil yang di kemudikan Bayu, sudah berhenti tepat di depan rumah Reina.
"Mampir sebentar yuk, ketemu ayah sama nda." Ajak Reina sambil melepas savety beltnya.
"Ok." Jujur Reina selalu kecewa dengan sifat Bayu yang ini. Sangat jarang sekali Bayu mampir kerumah untuk sekedar basa basi setelah membawanya pergi.
"Yang." Bayu menghentikan Reina yang akan membuka pintu mobil.
"Kenapa?" Tanya Reina menatap Bayu juga.
"Sekali saja, aku ingin berpelukan atau sekedar ciuman, sekali saja." Pinta Bayu dengan suara memohon.
Semenjak mereka pacaran sampai sekarang, Reina memang tidak menunjukkan sinyal kalau ia mau di ajak berpelukan atau sampai berciuman. Menurut Reina hanya cukup bergandengan tangan saja. Reina masih harus membatasi sentuhan dengan Bayu walau mereka sebentar lagi akan menikah.
"Kita lakukan nanti setelah menikah yang."
"Hanya sesekali apa salahnya. Toh kita bukannya tidur bersama membuat anak. Mau ya?"
Reina bingung harus menjawab apa. Agar Bayu mengerti apa maksudnya. Ia terus memundurkan kepalanya saat Bayu mendekatkan wajahnya. Sampai kepala Reina membentur kaca pintu mobil.
Dengan cepat Reina menutup bibirnya dengan telapak tangan saat Bayu sudah mau menempel padanya.
__ADS_1
"Kita lakukan nanti." Ucap Reina mempertahankan komitmennya. Kedua tangannya mendorong tubuh Bayu agar memberi jarak lagi.
"Payah kamu yang." Gumam Bayu kecewa.
Reina langsung membuka pintu mobil agar ia cepat keluar. "Mas hen." Gumam Reina saat melihat Hendri berdiri di ambang pintu. "Hati-hati ya." Ucap Reina sebelum kembali menutup pintu mobil.
Karena Bayu tidak menanggapi ucapannya. Reina langsung menutup pintu mobil dan saat itu juga, Bayu langsung mengemudikan mobilnya untuk keluar dari sana.
Reina melangkah takut untuk memasuki rumah karena Hendri memang masih ada disana. "Kenapa aku jadi merasa sedang kepergok padahal aku dengan calon suami aku sendiri." Batin Reina sambil menguatkan kakinya untuk melangkah cepat menuju pintu masuk. Lebih tepatnya Hendri.
"Mas. Itu tadi..."
"Wajar kok dan nggak perlu di jelaskan."
"Mas tapi tadi itu nggak terjadi apa-apa mas." Tutur Reina tidak mau Hendri salah menilainya.
"Mau terjadi atau tidak, lalu untuk apa kamu jelaskan pada ku Reina?"
Kicep sudah mulut Reina karena sudah tidak bisa untuk berkata-kata apa.
"Dua manusia yang tidak dewasa padahal sudah padu cukup usia." Batin Nissa yang sudah mendapatkan tontonan gratis sejak tadi.
Nissa langsung melangkah cepat saat Hendri meninggalkan Reina yang masih terdiam.
"Maaasss... tungguuu..." Teriak Nissa menghentikan Hendri yang akan memasuki mobil.
"Kenapa Bu?"
"Apa?" Nissa tidak terima jika tidak ada Yusuf masih tetap di pamggil Ibu. Ya meskipun memang sudah ibu-ibu sih.
"Ehm... Kenapa Niss?"
"Ini kue buat ibu sama bapak." Nissa memberikan kantong plastik yang terdapat toples berisi berbagai macam kue kering.
"Kok jadi ngerepotin gini sih, coba sekalian yang banyak gitu."
"Bilang apa kalau sudah di kasih sesuatu?"
"Matur suwon mak. (Terimakasih bu.)" Ucap Hendri sopan.
"Makannya gerak cepat. Sekarang yang satu sudah di lamar orang kalian berdua pada uring-uringan nggak jelas. Ih cemen." Cibir Nissa yang langsung meninggalkan Hendri begitu saja.
"Ini orang kalau bukan istri bos sudah tak solasi itu mulut biar nggak gregetin orang." Ucap Hendri yang merasa tersindir telak.
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan π₯° kasih like dan komennya π tab favorit juga ya β€οΈ