Dikira Janda

Dikira Janda
BAB 46 HARIMAU KELAPARAN


__ADS_3

"Kamu akan sulit tidur lelap malam ini dan malam selanjutnya. Apa kamu siapa istri?" Tanya Hendri berbisik dengan nada penuh gejolak, setelah ia mengecup mesra daun telinga Reina.


"Itu tujuan ku juga, suami." Ucap Reina pelan.


Walau Hendri masih berada di belakang Reina, Namun tangan kiri Hendri semakin berat saja membelit perut Reina.


(Lanjut baca setelah buka puasa bagi yang menjalankanπŸ™)


Tangan kanan Hendri memegang dagu Reina agar wajah Reina menghadap ke samping sehingga wajah mereka bisa berdekatan, Hendri langsung mencecap lagi bibir Reina karena belum menemukan titik kepua*san. Melainkan rasa candu dan rasa ingin melakukan lagi, lagi, dan lagi.


Tangan kanan Reina langsung membelit leher Hendry agar aktivitas mereka semakin dalam dan inten.


Pelan-pelan Hendri memutar tubuh Reina agar tubuh mereka saling berhadapan tanpa harus melepaskan luma*tan yang semakin menuntut.


Hendri menghisap mesra secara bergantian bibir bawah dan atas milik Reina. Cecapan menuntut seperti harimau kelaparan.


Sejujurnya Reina benar-benar di buat kewalahan menyeimbangi maunya Hendri. Tapi entah kenapa dirinya sangat menikmati apapun yang di lakukan Hendri padanya.


Hendri dan Reina saling melepaskan diri. Cecapan yang sebenarnya tidak ingin mereka akhiri namun ternyata harus mereka jeda sejenak. Bagaimanapun juga paru-paru mereka butuh pasukan udara dengan normal.


Hendri mengangkat tubuh Reina agar duduk di atas pagar. Walau keduanya tak melontarkan kata, namun tatapan mengunci keduanya seolah menyampaikan apa yang tidak bisa mereka ungkapkan.


"Aku suka rambut panjang mu ratu bekicot." Ucap Hendri sambil menarik ikat rambut yang Reina kenakan. Membuat rambut panjang dan hitam milik Reina langsung tergerai indah.


Kedua tangan Reina yang sejak tadi sudah melingkar di leher Hendri, langsung menarik tengkuk Hendri agar wajah mereka saling dekat. Saling bercecap mesra lebih tepatnya.


Seolah waktu begitu mendukung, seolah cuaca telah memberi isyarat untuk keduanya agar berlaku semakin jauh.

__ADS_1


Hujan turun dengan sangat deras. Angin berhembus semakin kencang. Membuat tubuh mereka terasa dingin karena terpaan angin.


Kedua tangan Reina terus membelai punggung Hendri yang masih tertutup kaos. Sedangkan satu tangan Hendri menahan tengkuk Reina agar peperangan lidah dan pertukaran saliva semakin dalam.


"Hem... hem..." Teriak Reina yang tertahan akibat aktivitas benda kenyal mereka. Tangan Reina memukul punggung Hendri karena kini tubuh mereka terkena air hujan.


Langit terus menurutkan air hujan yang semakin deras. Hendri seolah menikmati momen yang sangat unik untuk melakukan malam pengantin mereka.


Sedangkan Reina kini semakin pasrah dengan cumbuan Hendri yang lakukan dengan tubuh mereka yang mulai basah.


Tangan Reina semakin mencengkram erat baju Hendri. Sedangkan satu tangan Hendri menahan tubuh Reina saat ia di beri celah oleh Reina untuk menikmati leher jenjang dengan kulit halus yang sangat terawat.


"Maaasss..." Rintih Reina menikmati sensasi yang ia terima dari sentuhan yang Hendri berikan.


Tangan Hendri yang satunya membelai pelan kaki Reina yang berada di antara tubuh Hendri. Merambat pelan bergerak sensual, tangan Hendri semakin naik membeli pa*ha Reina.


"Ahhh..."


Lenguhan Reina semakin menjadi karena tangan Hendri yang bergerak lambat naik keatas dan kini membelai punggung Reina.


Belaian yang kini terasa beda rasanya, Karen kulit tangan Hendri langsung menyentuh punggung Reina.


Tangan Hendri melepas pengait yang menjadi pengaman benda kembar milik Reina. Setelah itu tangan Hendri membelai ke depan dan menyentuh salah satu daging kembar.


"Mas ahhh... Ki...kita sudah basah mas." Tutur Reina terbata karena merasa tubuh mereka sudah kuyup dengan air hujan.


Tanpa bicara sepatah kata, Hendri langsung menggendong Reina untuk masuk kedalam kamar mereka, sedangkan Kedua tangan Reina langsung mengalung di leher Hendri.

__ADS_1


Hendri menurunkan Reina dari gendongannya. Membuat mereka berdiri berhadapan.


Hendri mengusap wajah Reina untuk menyingkirkan anak rambut yang menempel pada wajah cantik Reina yang sudah basah. Tatapan mereka terus saling mengunci dan begitu terasa dalam. Menembus ke jantung yang kini bekerja ekstra.


Reina menaikkan kaos yang di kenakan Hendri. "Buka ya mas." Ucap Reina pelan seolah iya sudah tidak sabar untuk segera ke tahap selanjutnya.


Hendri langsung melepas kaosnya sendiri. Karena sudah dapat di pastikan Reina tidak mungkin bisa menyelesaikan maunya Karena tinggi tubuh mereka yang jelas berbeda.


"Aku suka tubuh mas." Cicit Reina. Tangannya meraba dada telanjang Hendri. Wajahnya mendekat, memberikan kecupan di dada bidang yang begitu Reina kagumi.


"Re..."


Racau Hendri yang kini memejamkan mata menikmati sentuhan bibir yang Reina berikan. Sejujurnya Hendri heran dan juga tidak menyangka jika Reina bisa sejeli ini.


Namun hati nurani penuh cinta dan juga nafsu mereka kini, pasti dengan mudah menuntun Hendri dan Reina melakukan hal apapun yang mereka inginkan. Terlebih lagi Reina yang baru memulai hal panas menggelora seperti saat ini.


Hendri sudah tidak tahan lagi jika terus seperti ini, tangan langsung bergerak untuk meloloskan gaun kurang benang hingg merosot kelantai. Lalu kaca mata pelindung benda berharga pun langsung Hendri kelas dan ia lempar sembarang arah.


"Aku sudah nggak tahan Re." Ucap Hendri sambil menuntun tangan Reina untuk menyentuh milik Hendri yang sudah ingin di bebaskan.


"Eh." Reina jelas terkejut. Menatap Hendri dengan pupil melebar. Sedangkan tangannya terasa bergetar saat merasakan benda keras seperti tertahan seolah ingin di bebaskan.


Bersambung...


Wes emboh wes mumet aku memikirkan tangan Reina menyentuh benda apaπŸ€”πŸ€”πŸ€” akhirnya jadi sesad lagi novel aku ya Allah 😫😫😫 awalnya aku nggak niat buat kaya gini. mau tobat dari kelakuan Arjuno x Zantisya dan Rey x QaiπŸ€•πŸ€•πŸ€• tapi apalah aku dengan jari yang suka salah arah 😴😴😴


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan πŸ₯° kasih like dan komennya πŸ’‹ tab favorit juga ya ❀️

__ADS_1


__ADS_2