
Semua orang sudah berkumpul di ruang makan. Setelah memeriksa Hendri, dokter Rudy langsung bergegas pulang. Yusuf sendiri sudah mengajak dokter Rudy untuk makan malam bersama mereka dahulu. Namun dokter Rudy menolak karena masih ada janji dengan yang lainnya.
Sejak tadi Reina dan Hendri nampak menundukkan wajah mereka sambil menikmati menu makan malam yang terhidang. Keduanya sama sekali tidak berani menatap wajah Yusuf dan Nissa karena benar-benar merasa malu.
Terlebih lagi Hendri, rasa malunya terasa sampai ke ubun-ubun bikin cenat cenut. Kalau saja bisa, Hendri rasanya ingin mengamankan dirinya untuk tidak bertemu mertuanya.
Sejak tadi, sama sekali tidak ada obrolan diantara mereka semua ataupun candaan antara Reina dan Zen. Hanya suara sendok, garpu dan piring yang seolah saling sahut menyahut.
Namun meski begitu, tidak sungkan Reina dan Hendri terus mengambil makanan. Jelas saja Keduanya kelaparan, aktivitas suami istri itu pasti telah menguras seluruh tenaga mereka berdua.
Sedangkan Zen, bocah yang tanpa tahu keusilannya telah membuat kakak dan mas nya malu tujuh tikungan. Sesekali menatap heran semua orang karena tidak ada yang bicara diantara mereka. Sungguh aneh, mungkin itulah yang di pikirkan Zen.
"Kak Re sudah nggak diet lagi ya kak, kok makanya tumben banyak banget." Heran Zen. Bocah kecil yang sangat perhatian terhadap Reina dalam banyak hal.
Yusuf dan Nissa hanya menahan tawa mereka. Apalagi kini wajah Reina kembali memerah.
"Em... Malam ini masakannya enak. Biar nggak
mubazir, kakak harus makan banyak."
"Zen makan dulu nak. Jangan ajak kak Re ngobrol." Ujar Nissa.
"Apa yang mau di makan nda, kan makan Zen sudah habis lebih dulu."
"Zen mau nambah?"
__ADS_1
"Nggak mau nda. Zen sudah kenyang." Ucapnya sambil membusungkan perutnya ke arah Nissa.
Zen mengambil buah jeruk, lalu mengupas kulitnya. Mata Zen memperhatikan Hendri dan Reina bergantian sambil menikmati buah jeruk yang sangat segar.
"Pasti mas Hen nanti cepat sembuh." Ucap Zen.
"Hah." Hendri yang baru meneguk air minum tentu terkejut. Bahkan kini ia harus bersiap dengan ucapan Zen yang tak terduga.
"Kata nda, Kalau sakit harus tetap banyak makan biar badannya cepat sehat. Dan harus minum obat mas. Jadi mas Hen harus minum obat dari om dokter." Terang Zen membuat wajah Hendri dan Reina kembali panik.
"Ya Allah, Zeeennn... adek siapa kamu ini coba?" Geram Reina dalam hati karena terlalu gemas dengan adiknya yang keterlaluan perhatiannya.
Yusuf sudah tidak kuat lagi mendengar celotehan anak bujangnya yang super keren. Membuatnya ingin terbahak namun tidak bisa Yusuf lakukan, karena harus ia tahan. Yusuf segera meneguk air minum untuk melicinkan tenggorokan.
"Anakmu sayang." Bisik Yusuf sambil mencolek perut Nissa. Setelah itu Yusuf langsung beranjak dan meninggalkan ruang makan.
"Zen ayo kita ke ayah." Ajak Nissa sambil mengulurkan tangannya agar Zen mau ia gendong.
"Ayok nda."
"Hah..." Reina dan Hendri seketika langsung menghembuskan nafas lega. Setelah Nissa dan Zen ikut keluar dari ruang makan. Membuat paru-paru mereka terasa bekerja dengan normal kembali.
.
.
__ADS_1
.
Sudah satu jam lamanya Hendri dan Reina memasuki kamar mereka. Namun keduanya malah cekikikan mengingat kejadian yang begitu memalukan.
Bagaimana wajah panik Nissa dan Yusuf tadi terhadap mereka berdua. Padahal mereka yang sedang di khawatirkan malah dengan seenaknya sedang mereguk sebuah indahnya penyatuan cinta.
"Benar-benar adik yang sangat luar biasa." Ucap Hendri.
"Saking penyayangnya sampai bikin kita tercengang mas."
"Dia pasti akan jadi om yang sangat menyayangi anak-anak kita nanti sayang."
"Mas bener." Ucap Reina. Tangan yang sejak tadi mendekap tubuh Hendri, sedangkan kepala yang tidur berbantal dada suaminya. Seketika Reina bangun menatap Hendri.
"Anak-anak?" ulang Reina. Tentu Hendri langsung mengangguk. "Memangnya mas ingin punya anak berapa?"
"Emmm... mungkin tiga, empat atau lima sayang."
Seketika kedua mata Reina melebar. "Banyak sekali mas, satu saja belum di kasih sudah mikir anak lima lagi."
"Memangnya sayang ingin anak berapa?"
Reina kembali tidur dengan posisi yang sama seperti tadi. "Yang pasti nggak hanya dua mas. Biar rumah kita ramai."
Hemmm... nggak ada bedanya dengan Hendri.
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan π₯° kasih like dan komennya π tab favorit juga ya β€οΈ