Dikira Janda

Dikira Janda
BAB 18 PERKENALAN DENGAN PAK OJEK


__ADS_3

Sesuai dengan janji yang disepakati. Malam ini, Reina mengajak Zen jalan-jalan. Setelah melakukan bujuk rayu seribu bahasa untuk meluluh hati Yusuf dan Nissa. Mengizinkan mereka berdua untuk keluar tanpa diikuti orang tua mereka.


Walau berat hati Yusuf memberikan izin kedua anaknya keluar rumah berdua saja. Namun ia harus mulai memberikan kepercayaan penuh pada Reina yang memang bukan anak kecil lagi.


Kini Reina dan Zen berada disebuah lapangan. Lapangan yang menjadi tempat pameran. Banyak berbagai macam pedangan disana. Lokasinya pun tidak begitu jauh. Perlu menghabiskan waktu satu jam perjalanan dengan menggunakan mobil.


"Suka nggak dek?" Tanya Reina setelah mereka berdua keluar dari mobil. Reina bahkan sampai menggunakan mobil merk sejuta umat untuk pergi kesini. Akan menjadi pusat perhatian jika ia menggunakan mobil mewah miliknya.


"Suka banget kak." Girang Zen.


"Ayo mau main apa aja kakak turutin."


"Serius kak?" Tanya Zen memastikan.


"Serius dong. Kapan kakak bohong sama adek kakak satu ini." Tutur Reina sambil menarik pipi Zen.


"Termasuk beli cilok itu kak." Tunjuk Zen pada penjual cilok bakar.


Reina langsung mengikuti arah tangan Zen. Ia langsung duduk jongkok untuk menyamakan tinggi badan adiknya. "Bukannya kakak nggak mau belikan adek. Tapi ingat kata nda, adek nggak boleh sembarangan jajan kan?"


Zen menatap Reina serius. "Tapi waktu itu kakak bolehin Zen makan bakso." Ucap Zen mengingatkan Reina.


"Itu karna ada om Hendri." Ucap Reina bingung mau memberi alasan apa. "Mas Hen maafkan aku menggunakan nama mu." Batin Reina. Tapi sama sekali tidak ada rasa bersalah sedikitpun.


"Jadi kalau sama om Hendri, Zen boleh beli itu kak?" Tanya Zen dengan wajah seriusnya.


"Tentu saja sayang." Ucap Reina yakin.


Kalau ada apa-apa dengan Zen kan ada Hendri yang menjadi tameng Reina. Agar ia tidak sendirian mendapat omelan Yusuf. Duh Reina sungguh memanfaatkan Hendri dengan baik tapi tidak benar.


"Zen pinjam ponsel kakak." Pinta Zen sudah mengulurkan tangan.


"Buat apa?" Tanya Reina mulai curiga.


"Pinjam saja kak."


Reina yang memang selalu meminjamkan ponselnya, langsung memberikan begitu saja. Dipikir Reina, mungkin saja adiknya ini mau berselfi. Selain tengil Zen juga anak yang super narsis. Tingkat percaya dirinya sudah overdosis sejak dini karena menyebut diri sendiri ganteng. Walau kenyataannya seperti itu.


Zen : "Halo om." Sapa Zen setelah Hendri mengangkat panggilan video callnya.


Reina yang sejak tadi melihat kesana kemari, spontan menoleh ke adiknya yang sudah saling terhubung video call


Hendri : "Halo bos."


Zen : "Om lagi ngapain?"


Hendri : "Lagi tiduran dikamar. Kenapa?"


"Dek ngapain nelpon om Hendri?" Bisik Reina sepelan mungkin. Tapi sepertinya Zen tidak menanggapi Reina.


Zen : "Om, Zen mau sesuatu. Kata kak Re Zen boleh beli kalau ada om."

__ADS_1


Spontan Reina membekap mulut adiknya yang tanpa filter itu. Sungguh kelewat jujur mulut anak kecil memang.


Reina : "Eh enggak mas, Zen bohong."


Zen : "Kakak sendiri tadi yang bilang begitu."


Hendri : "Memang kalian dimana?"


Reina hanya dapat menatap adiknya dengan rasa gemas ingin mengcoel-coel adiknya. Dan lagi, kenapa juga tadi Reina mengatakan begitu saja pada Hendri dimana lokasi mereka saat ini.


Niat hati ingin kencan dengan Zen, hancur sudah. Karena sudah dapat di pastikan Hendri sekarang sudah meluncur menyusul mereka berdua.


Kini Reina tengah duduk di belakang Zen. Menunggu adiknya yang tengah mewarnai gambar hewan. Zen memilih ikut mewarnai terlebih dahulu sambil menunggu kedatangan Hendri.


"Hai bu." Sapa seseorang pada Reina.


Reina langsung menoleh. "Hai." Ucap Reina biasa saja saat melihat siapa yang ada didekatnya kini.


"Lagi nungguin anaknya mewarnai ya?" Tanyanya akrab.


"Iya."


"Aku diterima di DS Group." Infonya, berharap obrolan mereka lebih akrab.


"Oh ya. selamat sudah diterima." Ucap Reina tulus.


"Aku benar-benar tidak menyangka bisa diterima disana. Apa lagi yang melamar bukan satu dua orang. Dan yang lebih menyenangkan adalah itu pekerjaan yang aku sukai." Ucapnya lega.


Reina mengamati laki-laki yang berada disampingnya tadi. "Masih cari penumpang?" Tanya Reina saat melihat lelaki itu masih menggunakan jaket kebanggaan dari salah satu aplikasi ojek online.


Reina jadi berfikir baju seperti apa yang di beli lelaki ini di tempat pameran seperti ini. Bukan niat merendahkan orang lain. Namun dasarnya Reina memang tidak pernah beli baju ditempat seperti ini jadi dia merasa heran.


Reina pergi ke pameran seperti ini hanya untuk membeli makanan tradisional saja. Sambil menikmati apa saja hiburan yang ada di tempat pameran.


"Oh..." Reina mengangguk paham.


"Nama aku Bayu. Bayu Hardityan." Ucapnya memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya.


Reina menjabat tangannya. "Reina."


Zen yang sudah selesai mewarnai langsung berdiri menatap Reina.


"Ka... hamp..." Ucapan Zen terhenti. Saat mulut Zen dibekap Reina. Zen langsung paham saat menerima kode dari Reina.


"Zen sudah selesai mom." Ucapnya.


"Pintar anak mommy. Ayo kita bayar dulu sayang." Ajak Reina. "Aku permisi bayar dulu."


"Iya silahkan Bu." Ucap Bayu.


Bayu masih mengikuti langkah kaki Reina dan Zen. Setelah itu Bayu juga berkenalan dengan Zen.

__ADS_1


"Zen, mau naik itu?" Tawar Bayu.


"Boleh nggak mommy?" Tanya Zen sok akting. Padahal dia ingin langsung mengiyakan tawaran Bayu.


"Boleh sayang."


Akhirnya kini Zen naik kuda-kudaan yang ada disana.


"Rumah ibu di daerah mana?"


"Panggil saja nama aku. Aku belum setua itu untuk di panggil ibu diluar kantor."


Bayu tersenyum dan mengangguk. "Aku kost di daerah sini. Kamu tinggal dimana?"


"Di daerah dekat sini juga." Reina belum ingin memberi tahu bahwa ia adalah anak pimpinan dimana Bayu diterima kerja.


"Mommy sudah." Pinta Zen yang sudah ingin turun.


Bayu lebih dulu menghampiri Zen saat Zen meminta untuk diturunkan dari sana. "Mau naik apa lagi?" Tawar Bayu.


"Naik itu om." Tunjuk Zen pada bianglala.


Akhirnya mereka bertiga naik bianglala bersama. Entah karena terbawa suasana, atau karena Bayu yang mudah bergaul untuk mengakrabkan diri. Membuat suasana di antara mereka bertiga mencair begitu saja. Akrab dengan sendirinya.


Hendri yang baru saja sampai di lokasi yang telah di Share Reina tadi, langsung keluar dari mobil sambil berusaha menghubungi Reina agar ia tahu dimana mereka berdua berada.


Baru saja ponselnya terhubung menunggu Reina menerima sambungan teleponnya. Kaki Hendri langsung terhenti begitu saja, saat melihat Reina dan Zen sedang bersama seorang lelaki. Lelaki yang sudah jelas lebih muda darinya.


Rasa cemburu yang disadari Hendri tidak seharusnya itu kini menguasai hati Hendri begitu saja. Tapi dia bisa apa dengan perasaannya yang sudah diyakini tidak mungkin terbalas.


Melihat Reina dan Zen yang tertawa bersama lelaki yang entah siapa membuat Hendri langsung berbalik arah. Lebih baik pergi saja dari pada menyaksikan apa yang tidak ingin Hendri saksikan.


"Om."


Hendri langsung menghentikan langkahnya dan menoleh saat tangannya di genggam erat oleh Zen.


"Om cari Zen sama kak Re kan?"


Hendri tersenyum lalu duduk jongkok agar tubuh mereka sejajar. "Betul sekali bos." Ucap Hendri yang langsung menggendong Zen.


"Mommy sini." Teriak Zen sambil melambaikan tangan agar Reina dan Bayu mendekat.


"Drama apa lagi yang tengah di lakukan dua bocah prik ini?" Batin Hendri sudah tidak heran lagi.


"Baru datang mas?" Tanya Reina saat ia dan Bayu sudah mendekat.


"Iya." Hendri menatap Reina dan Bayu bergantian.


"Pacar kamu Rei?" Tanya Bayu tiba-tiba.


"Bukan." Jawab Reina cepat. "Kenalin dia mas Hendri, saudara aku."

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan πŸ₯° kasih like dan komennya πŸ’‹ tab favorit juga ya ❀️


__ADS_2