
"Kita pulang sekarang ke Malang. Bunda masuk rumah sakit."
Hanya sederet kata itu yang Yusuf ucapkan pada Nissa saat mereka keluar dari ruang rawat Reina.
Yusuf sengaja tidak memberitahukan perihal keadaan Wati pada yang lainnya, mengingat keadaan Reina yang tidak diperbolehkan untuk berpikir tentang banyak hal.
Sepanjang perjalanan dari mobil menuju bandara. Yusuf hanya terus diam sambil mendekap Zen. Nissa sendiri memilih untuk diam karena tidak ingin membuat semakin rumit pikiran suaminya.
Sedangkan Zen. Bocah kecil itu seolah bisa merasakan apa yang tengah di pikirkan Ayahnya. Zen juga tidak banyak bertanya kenapa tiba-tiba ayahnya mengajaknya dan Nda nya pulang ke Malang.
Yusuf hanya terus menggandeng Nissa erat sambil menggendong Zen, saat mereka akan menaiki jet yang senagaja Yusuf sewa untuk mempercepat perjalanan.
Kurang lebih satu jam setengah, pesawat sudah mendarat di bandara, kota Malang. Yusuf langsung bergegas menuju mobil karena disana sudah ada sopir yang menjemput mereka.
Nissa terus melangkah cepat karena tangannya terus di genggam erat oleng Yusuf. Setelah mobil sampai di parkiran, tentu saja Yusuf langsung mengajak Nissa untuk bergegas.
"Assalamualaikum." Salam Yusuf dan Nissa bersamaan, setelah Yusuf langsung membuka pintu ruang rawat.
"Waalaikumsalam." Jawab Adam dan Luna bersamaan.
Yusuf langsung meletakkan Zen yang tertidur pulas di sebuah sofa, yang bisa di jadikan kasur tidur.
__ADS_1
Nissa dan Luna saling berpelukan. Meski belum mengucapkan sepatah kata, tapi mereka kini terasa sedang saling menguatkan.
Apalagi bagi Luna setelah kedua orang tuanya meninggal beberapa tahun lalu, orang tuanya kini tinggal Wati dan kedua orang tua Nissa.
"Mas."
Yusuf langsung menepuk punggung Adam saat adiknya menghambur ke pelukannya. Adam sudah mencoba kuat, tapi kini kekuatannya terasa luruh saat melihat kedatangan Yusuf.
Yusuf bukan hanya berperan sebagai saudara bagi Adam. Tapi juga sudah seperti seorang ayah. Apalagi disaat Ayah mereka sudah berpulang.
"Bagaimana semuanya bisa terjadi Dam?" tanya Yusuf setelah Adam cukup tenang.
Adam menatap Luna. Kemudian Luna dan Nissa mendekati Yusuf dan Adam.
"Lalu kata dokter bagaimana?"
"Bunda terkena serangan jantung mas. Maaf mas, padahal Adam yang ada di dekat bunda, Adam yang setiap hari bertemu bunda. Tapi, baik Adam dan Luna. Kami sama-sama tidak tahu kalau ternyata sudah hampir satu bulan ini bunda konsumsi obat anti nyeri untuk jantung."
Setelah mendapatkan banyak penjelasan dari Adam dan Luna, Yusuf dan Nissa duduk di kursi yang ada di dekat brankar.
Kata Adam, satu jam sebelum kedatangan mereka. Wati sempat sadarkan diri sejenak dan memanggil nama Yusuf.
__ADS_1
"Bunda harus sadar dan kembali sehat, Rere sedang hamil. Bukankah kabar ini yang sangat bunda tunggu-tunggu." Ucap Yusuf pelan sambil menggenggam erat tangan Wati.
.
.
.
Saat Yusuf dan Nissa serta Zen pergi dari rumah sakit. Tak lama kemudian, Bu Rumi dan pak Makruf juga segera pulang ke rumah.
"Masih belum di angkat?" tanya Hendri setelah keluar dari kamar mandi.
"Belum mas. Oma kemana ya?" Gumam Reina.
"Mungkin Oma sedang ada kesibukan."
"Sesibuknya Oma, kalau aku yang telpon pasti langsung di angkat mas. Kalau nggak, pasti Oma cepat telpon aku." Gerutu Reina. Ia sudah menghubungi nomor Wati seperti seorang gadis yang tidak mau di putuskan dari kekasihnya, karena sudah puluhan kali menelpon.
Hendri mengusap puncak kepala Reina. "Nanti juga pasti Oma langsung telpon kamu kalau sudah selesai dengan kegiatan disana."
"Aku nggak sabar kasih tahu Oma mas." Reina mengusap perutnya yang masih rata. "Pasti Oma sangat senang sekali."
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan π₯° kasih like dan komennya π tab favorit juga ya β€οΈ