Dikira Janda

Dikira Janda
BAB 29 ADEGAN YANG KETAHUAN


__ADS_3

"Kenapa mas?" Tanya Reina bingung. Ia masih belum rela saat semuanya sudah berakhir. Tangannya mengusap kepala Hendri agar ia segera mendapatkan sebuah jawaban.


Hendri masih terdiam. Menenangkan gejolak yang tadi sudah sangat memburu jauh setelah sekian lama tenang tanpa pergerakan. Menarik nafas dalam untuk menentramkan seluruh organ tubuhnya agar bekerja dengan normal kembali.


"Maaf telah menyentuh mu terlalu jauh." Ucap Hendri setelah mengangkat wajahnya dan menatap Reina kembali.


"Aku yang memulai jadi kenapa mas minta maaf." Reina memancarkan senyuman.


Hendri memejamkan mata lagi dan menggelengkan kepalanya untuk mengusir ketertarikannya pada bibir Reina yang nampak membengkak akibat perbuatannya. Menjadikan kesan se*ksi dan memerah saat melihat benda kenyal tersebut.


"Aku memilih egois dan yang pasti akan menjadi penilaian buruk untuk tindakan ku ini." Reina menatap Hendri, belum paham dengan apa yang yang dimaksud Hendri. "Ayo akhiri rencana pernikahan mu. Kali ini aku benar-benar tidak bisa melepaskan mu."


"Mas serius?"


Hendri mengangguk mantap. "Maaf karena aku tidak bertindak sejak dulu. Tapi mari kita akui saja pada pak Yusuf dan semuanya. Mumpung semua keluarga berkumpul disini. Aku akan menjadi tameng untuk mu jika siapapun akan memarahi keputusan kita kali ini."


"Aku pikirkan lagi mas."


"Kenapa?" Tanya Hendri tidak paham. "Bukankah tadi kamu sendiri Re yang berharap aku membawa mu pergi."


"Biarkan aku berpikir dengan jernih mas, karena sekarang perutku sangat lapar."


Oh my god Reina. Hendri sudah senam jantung padahal melihat ekspresi wajahmu yang sudah meragukan.


Namun didalam lubuk hati Reina yang paling dalam. Ia tidak ingin melibatkan Hendri dalam keputusan yang akan diambilnya nanti.


.


.


.


"Pagi saudari-saudari sekalian." Ucap Reina yang baru gabung di ruang tamu. Disana ada Nissa, Luna, Wati dan Jumiasih.


"Pagi calon manten." Sapa semua orang serentak. Reina langsung merebahkan diri dipangkuan wati.


"Ini belum mandi ya?"


"Oma dukun ya? kok bisa tahu."


"Baunya asem."

__ADS_1


"Rere wangi oma. Nah cium." Reina langsung bangun dan menyodorkan pipinya agar Wati segera menciumnya.


Bukannya Wati segera mencium pipi Reina. Kini wati malah menatap serius bibir Reina yang nampak menebal karena bengkak. Jarak sedekat itu bisa membuat siapapun menyadari perbedaan bibir Reina saat ini.


"Lah ini belum ijab sah kok bibirnya sudah bengkak saja to cucu ku." Ucap Wati terlalu jujur.


"Eh." Reina menutup mulutnya dengan telapak tangan.


"Masak bengkak sih oma."


"Coba lihat." Luna bergerak cepat mendekati Reina dan langsung menarik tangan Reina karena kepo.


"Tanteee..." Teriak Reina kalah.


"Lah ini mah beneran bengkak. Kamu cipo*kan sama apa Re?" Ucap Luna kuat.


"Digigit semut mungkin ini." Alibi Reina berharap semua orang percaya.


Karena tidak mau di ledek terus menerus, Reina memutuskan untuk beranjak dari sana dan keluar rumah untuk duduk di teras rumah.


Bukannya duduk di kursi yang ada disana, Reina memilih duduk di bagian anak tangga. Kedua tangannya menyangga dagu dan Reina mulai teringat kembali kejadian dini hari. Ciuman bersama Hendri memang bukanlah yang pertama bagi Reina. Karena dulu ia sempat di paksa dan nyaris di perkosa oleh mantan kekasihnya. Tapi apa yang terjadi semalam adalah hal yang pertama bagi Reina karena memang ia sendiri yang menginginkannya.


"Ayo om kejar." Teriak Zen sambil lari kencang menuju rumah.


Hendri berhenti sejanak menatap Reina, kemudian kembali lari kejar-kejaran bersama Zen, Qia dan Amira.


"Bayu bahkan tidak mencoba dekan dengan adik ku satu-satunya." Batin Reina.


Padahal Reina ingin sekali membuat Zen dekat juga dengan Bayu seperti Zen dekat dengan Hendri. Namun Bayu selalu tidak setuju jika kencan membawa Zen. Reina paham saja karena mungkin Bayu memang ingin berdua dengannya dulu.


Bayu juga bahkan sangan jarang mampir kerumah untuk bercengkrama sejenak dengan kedua orang tuanya saat setelah mengajaknya kencan seharian. Walau Reina sudah menawari untuk mampir, namun tetap saja Bayu tidak pernah mau dengan alasan ingin cepat pulang dan istirahat.


"Sebenarnya aku suka dengan dia dari sisi mananya sih?" Tanya Reina pada diri sendiri.


Reina jadi yakin untuk mengakhiri semua sebelum akhirnya ijab sah mengikat dirinya. Apa lagi mengingat Bayu sepertinya hanya mencintainya saja. Tapi tidak dengan keluarganya.


Semua yang baru selesai olahraga langsung menuju kamar masing-masing untuk membersihkan diri. Setelah Nissa selesai mengurus Zen, ia langsung menuju kamar Reina.


"Kak."


"Eh. Iya nda." Reina yang masih menggunakan jubah mandinya gelagapan saat melihat Nissa memasuki kamarnya. Kedua tangan Reina menutupi jejak Hendri yang ada disisi kanan dan kiri lehernya. Caplang yang belum Reina tutupi dengan alat make up nya.

__ADS_1


"Baru selesai mandi?"


"Iya nda."


Nissa langsung mengambil hairdrayer dan langsung menghubungkan pada listrik.


"Apa sampai sejauh itu mereka semalam." Batin Nissa karena Reina tidak menyingkirkan kedua tangannya dari lehernya.


Semalam Nissa memang langsung kembali ke kamar Reina. Ia sadar seharusnya ia menghentikan perbuatan dua insane yang jelas salah. Tapi Nissa tidak ingin membuat keduanya malu dan percaya kalau Hendri dan Reina tahu batasan mereka sampai mana.


Nissa langsung mematikan alat pengering rambut dan langsung menyisir rambut Reina. "Sudah bisa memutuskan pilihan yang tepat?"


"Maksud nda?"


Nissa menghela nafasnya. "Rere dan mas Hendri. Semalam nda lihat kalian berdua." Ucap Nissa langsung menjurus telak.


"Hah." Reina jelas sangat-sangat terkejut sampai kedua tangannya jatuh begitu saja.


"Ayo kita bicarakan ini semua baik-baik kak. Lalu kita juga langsung datang dimana Bayu sekarang tinggal."


Reina berbalik menatap Nissa. "Apa semuanya akan baik-baik saja nda. Rere nggak sanggup merusak kebahagiaan keluarga kita dan juga keluarga Bayu. Belum lagi ayah sudah banyak mengeluarkan uang untuk ini semua." Serba salah Reina berfikir.


"Kami semua akan merasakan sakit juga saat gadis yang sangat kami cintai menikah karena terpaksa. Dan soal uang. Apa ayah pernah perhitungan terhadap kakak? Ayah pasti akan sedih kak saat tahu semua ini."


Reina langsung melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Nissa. Memeluk erat ibu sambungnya yang selalu sabar memberinya pengertian. Bahkan ia tidak disalahkan atas tindakannya sendiri.


"Ayo cepat turun dan kita makan dulu. Baru kita bicarakan semua ini."


"Tolong bantu Rere nda."


Nissa mengangguk. "Pasti kak."


"Dan tolong jangan bawa nama mas Hendri kedalam masalah ini. Nda bisa janjikan hal itu juga kan?"


"Iya." Jawab Nissa singkat tapi mencoba memberikan keyakinan untuk Reina. Sebaik apapun tidak menyebut nama Hendri, pada akhirnya semua ini akan di ketahui juga.


"Rere ganti baju dulu nda."


"Iya. Dan jangan lupa untuk menutup..." Ucap Nissa sambil menunjuk lehernya sendiri.


Wajah Reina memerah malu mendapatkan kode seperti itu dari Nissa.

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan πŸ₯° kasih like dan komennya πŸ’‹ tab favorit juga ya ❀️


__ADS_2