
Hacim... hacim... hacim...
Beberapa kali Reina bersin-bersin, setelah ia dan Hendri melaksanakan kewajiban mereka bersama.
"Kenapa sayang?" Tanya Hendri yang sudah berbalik menghadap Reina.
"Bersin mas... hacim... hacim..." Reina terus bersin. Bahkan suara Reina juga terdengar sumeng. "Hua... sepertinya aku flu mas. Aku nggak mau sakit. Nggak lucu banget pengantin baru sakit." Adu Reina dengan suaranya yang super manja setelah mencium punggung tangan Hendri.
"Ayo kita ke rumah sakit sayang." Hendri yang mulai bucin akut terlihat wajah khawatirnya. Hendri menyentuh lagi kening Reina dengan punggung tangannya. Mencoba merasai suhu tubuh Reina sekarang. "Tuh kan sayang hangat badannya."
"Ih nggak usah lebai deh mas. Hanya bersin juga nggak perlu sekhawatir itu."
"Lebih cepat di obati lebih baik kan sayang."
"Bukannya lebih baik mencegah dari pada mengobati?" Reina menimpali ucapan Hendri.
"Bagaimana mau mencegah kalau sekarang kamu sudah sakit."
"Lagian mas sih. Subuh-subuh udah garap aku dua kali." Tutur Reina blak blakan tanpa sensor.
Hendri yang tengah di tuduh jelas tidak terima dengan ucapan Reina barusan.
"Sayang jangan lupa ya. Yang goda aku waktu kita masih berendam itu kan sayang duluan."
__ADS_1
Hendri mengatakan kelakuan Reina tadi. Bisa-bisanya saat mereka berendam saling berhadapan. Reina dengan tingkah usilnya menyentuh nyentuh milik Hendri dengan kakinya. Hendri yang awalnya tidak ingin tergoda dan menahan gejolaknya tentu saja langsung bereaksi. Menerkam Reina dengan rasa yang begitu menuntut untuk mendapatkan penuntasan. Dasarnya Reina perempuan spek bidadari level brutal terakut. Membuat Hendri tidak menyangka dengan tingkahnya tadi.
Seolah seperti dunia terbalik. Bukan Reina yang keheranan dengan tingkah mantan duda yang tengah bekerja keras menyenandungkan erangan. Tapi Hendri yang dibuat tercengang dengan tingkah Reina yang seolah profesional padahal masih pemula dan jelas amatiran.
"Ok aku akuin itu mas. Tapi kita kan didalam air hangat. Terus yang kedua mas yang mengajak ya. Main hujan-hujanan air shower, kan dingin mas."
"Terus kenapa tadi nggak bilang kalau kamu nggak bisa kelamaan main pake air dingin."
"Ya gimana mau bilang kalau mas sudah nyerang aku lagi." Padahal Reina sendiri juga keenakan tadi. Dasar.
"Mana semalam kita hujan-hujanan sayang." Hendri jadi mengingat adegan opening semalam.
"Tuh kan. Mas yang bikin aku begini, Jadi mas kudu tanggung jawab."
"Aku cuma butuh istirahat mas. Gendong." Reina sudah merentangkan kedua tangannya dengan manja.
"Nanti kamu makin sakit kalau nggak segera berobat Re."
"Ih mas ini sumpah. Lebai nggak ketulungan." Reina langsung berdiri dan melepas lalu melipat alat solat yang telah usai ia kenakan.
"Aku khawatir loh sayang."
Reina langsung lompat menggapai tubuh Hendri. Melingkar kan kedua tangannya di leher suaminya. Lalu kedua kakinya melingkar di pinggang Hendri. Menyontek adegan adegan romantis dari film yang pernah Reina tonton.
__ADS_1
Tentu dengan spontan Hendri menangkap Tubuh Reina yang sudah hinggap di tubuhnya. Agar sang istri tidak jatuh dari tubuhnya yang tinggi.
"Ayo mas kita tiduran lagi." Ajak Reina dengan suaranya yang tercekat karena wajahnya sudah menyusup ke leher Hendri.
Hendri menghela nafasnya yang terasa berat. Sadarkah Reina dengan caranya yang seperti ini membuat tubuhnya meremang spontan.
"Kita makan dulu Re."
Baru saja bibir Hendri mengatup. Seketika suara perut Reina berdendang jelas.
Krucuk... krucuk... krucuk...
Reina langsung menarik wajahnya menjauh dari leher Hendri. Menatap wajah Hendri yang nampak tegang, tapi Reina tidak menilai hal itu.
"Sepertinya makan memang sangat kita perlukan mas."
"Sangat." Hendri langsung melangkah menuju sofa dan menurunkan Reina disana.
"Hufffttt..." Hendri menghela nafas lega. Mengontrol tubuhnya agar kembali normal.
Bersambung...
Bosen nggak sih sama adegan mereka π€π€π€ aku jadi kangen Zenπππ
__ADS_1
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan π₯° kasih like dan komennya π tab favorit juga ya β€οΈ