Dikira Janda

Dikira Janda
BAB 93 RUMAH SAKIT


__ADS_3

Reina : "Assalamualaikum Oma." Salam Reina setelah menerima panggilan video call dari Wati.


Wati : "Waalaikumsalam. Lagi dijalan?" tanya Wati karena jelas terlihat Reina sedang berada di dalam mobil.


Reina : "Iya Oma. Ini Rere mau berangkat kerja."


Hendri : "Oma." Sapa Hendri sejenak saat Reina mengarahkan kamera ke Hendri.


Wati : "Kalian hati-hati kalau lagi di jalan."


Reina : "Iya Oma. Akhir-akhir ini, Oma setiap hari telpon Rere? Oma kangen ya?" walau merasa aneh tapi Reina mencoba untuk berpikir positif.


Wati : "Oma sangat kangen sama cucu Oma satu ini. Kalau kalian ada waktu sempatkan untuk pulang ke Malang."


Reina : "Nanti setelah launching tas, insha Allah Rere sama mas Hen pulang, lihat Oma. Kami juga ingin Ziarah kubur."


Wati : Wati mengangguk. "Tadi malam Oma mimpi gendong bayi. Oma nggak tahu anak siapa yang Oma gendong, tapi wajah Rere sama Hendri jelas terlihat sangat bahagia. Oma berharap kalian segera di beri momongan."


Reina dan Hendri : "Aamiin."


Reina : "Oma harus jaga kesehatan ya Oma. Dan selalu doakan kami agar kami bisa segera kasih Oma cicit."


Wati : "Aamiin."


.


.


.


Sudah sejak tadi pagi hingga siang hampir berganti sore, Reina dan Gita masih berada di lokasi syuting.


"Ibu kenapa?" tanya Gita saat melihat Reina tiba-tiba duduk jongkok.


"Sejak kemarin kepala aku sering pusing mbak." Ucap Reina. Ia yang menganggap enteng rasa pusing yang sering datang dan pergi beberapa hati ini, Reina sampai tidak mengatakan pada Hendri.


"Ibu, Saya antar pulang ya Bu."


Reina berdiri sambil dibantu Gita. Gita langsung mencengkram kuat tubuh Reina agar tidak limbung.

__ADS_1


"Pesankan aku taksi saja mbak. Biar aku pulang ke rumah Nda sendiri."


"Enggak, saya sendiri yang antar ibu. Ibu masih kuat jalan?" tentu saja Gita tidak membiarkan Reina pulang seorang diri, apalagi dalam keadaan seperti ini.


"Kuat mbak." Ucapnya pelan. Padahal tubuhnya sudah terasa sangat lemas.


.


.


.


Yusuf : "Assalamualaikum Bunda." Salam Yusuf setelah menerima panggilan video call dari Wati.


Wati : "Waalaikumsalam. Sedang sibuk nak?" tanya Wati, karena Yusuf nampak sedang merapihkan kembali beberapa berkas.


Yusuf : "Lumayan Bun."


Wati : "Anak sama Ayahnya sama-sama sibuk terus. Kapan kalian pulang lihat Bunda?" Wati yang sangat merindukan Anak pertama dan cucunya mulai meluapkan perasaannya.


Yusuf diam, nampak berpikir sejenak.


Wati : "Iya. Biasanya kamu pulang dua atau tiga bulan sekali untuk lihat Bunda."


Yusuf : "Bunda kangen sekali dengan kami?"


Wati : "Memangnya kalian tidak kangen sama Bunda." Ucap Wati terdengar kesal.


Klek


Yusuf langsung menoleh kearah pintu setelah mendengar suara ketukan pintu dan handle pintu terbuka.


"Sudah waktunya meeting pak." Ucap Hendri setelah melangkah mendekati meja kerja Yusuf.


"Ok!"


Yusuf : "Tentu kangen Bun. Yusuf harus meeting sekarang Bun. Nanti Yusuf akan lihat jadwal senggang , Kami pasti cepat pulang ke Malang."


.

__ADS_1


.


.


Sejak tadi, Nissa menemani Zen bermain. Meski Zen sudah bisa memakai baju seperti biasanya, dan jalan pun sudah nampak lebih nyaman. Tapi Zen masih belum mulai masuk sekolah.


Nissa langsung menerima panggilan suara dari Gita saat sedang asik bermain puzzle. Membuat sebuah bangunan rumah.


Wajah Nissa seketika nampak khawatir saat mendapatkan kabar dari Gita, kalau Reina ia bawa ke rumah sakit. Tentu Nissa dan Zen segera bergegas menuju rumah sakit yang akan di tuju Gita.


Saat mobil sudah sampai di parkiran, Nissa langsung melangkah cepat sambil menggendong Zen menuju UGD.


"Ibu Nissa." Panggil Gita saat melihat Nissa celingukan.


"Mbak Gita. Rere gimana?"


"Masi di periksa sama dokter Bu."


"Gimana ceritanya Rere dibawa kesini mbak?"


"Tadi waktu masih di lokasi syuting pruduk, Bu Reina tiba-tiba lemes Bu. Katanya pusing. Tadinya Bu Reina minta di antar pulang ke Ibu, tapi di tengah jalan tubuh Bu Reina sudah dingin dan pucat. Karena saya takut terjadi apa-apa, akhirnya saya bawa langsung ke rumah sakit dan memberi kabar ke ibu."


Zen yang sejak tadi hanya mendengarkan pembicaraan Nissa dah Gita, tentu ia sudah nampak khawatir.


"Mbak sudah kabari mas Hendri?"


"Sudah Bu, Tapi telepon saya tidak di angkat. Mungkin pak Hendri sedang meeting Bu."


Nissa mengangguk. Ia kemudian duduk di sebuah kursi yang ada disana.


"Zen mau lihat Kakak, Nda."


"Kakak masih di periksa dokter dek."


"Kak Re nggak akan kenapa-napa kan Nda?"


"Kita doakan, semoga Kak Re baik-baik saja."


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan πŸ₯° kasih like dan komennya πŸ’‹ tab favorit juga ya ❀️


__ADS_2