
Esok paginya, Hendri dan Zen lari pagi seperti biasanya, seusai mereka solat subuh di masjid. Mereka hanya lari berdua saja.
Karena nanti sore keluarga besar akan kembali ke Malang. Jadi setelah bermain di taman kota semalam, Reina memilih untuk tidur di rumah. Tentu saja Hendri menuruti kemana Reina mau.
"Ayo pulang bos. Sebentar lagi kan harus bersiap berangkat sekolah." Ucap Hendri sambil lari mengejar Zen.
"Qia Sama mbak Amira kan pulang ke Malang nanti sore mas. Jadi Zen bolos sekolah saja lah."
Eh bocah kecil ini bisa-bisanya sudah bisa berpikir bolos sekolah. Membuat Hendri geleng kepala, Mau heran tapi ini Zen. Ya sudahlah.
"Memangnya Zen sudah bilang ayah dan nda kalau hari ini Zen mau nggak berangkat sekolah?" Hendri menggunakan senjata akhir. Yang sudah pasti tidak bisa Zen abaikan.
Zen langsung menghentikan langkah larinya. Hendri juga ikut berhenti mengejar Zen. Senyum Hendri terbit samar karena ia yakin Zen pasti menurut.
"Ayo kita pulang mas. Zen tadi hanya bercanda kok, mana mungkin anak sepintar dan seganteng Zen mau bolos sekolah. Itu tindakan yang tidak baik."
Hendri sudah tidak heran lagi dengan tingkat percaya diri Zen yang sudah over dosis sejak dini. Namun sikap dewasanya yang terkesan pintar pasti membuat siapapun terkesima.
"Ayo pulang."
*
Hendri langsung menuju kamar Reina yang kini ikut ia tempati juga. Tak lupa Hendri mengunci pintu kamar, ia harus waspada takut kalau-kalau Zen asal masuk di saat mereka tidak patut untuk di lihat.
Hendri melangkah mendekati Ranjang. Menatap Reina yang nampak sangat lelap. Setelah subuh seperti biasanya Reina kembali tidur.
Jika biasanya Reina tidur lagi karena sepertiga malam di gunakan untuk aduan pribadinya pada sang pencipta dan membuat ide rancangan yang datang begitu saja. Berbeda dengan tidur pagi kali ini. Karena tengah malam Reina terbangun akibat di usik Hendri. Mengakibatkan keduanya kembali mengarungi bagaimana nikmatnya sebuah penyatuan cinta tanpa helaian benang.
Hendri tersenyum, mengingat bagaimana setiap momen panas yang mereka lewati semalam.
"Masih pagi otak kamu sudah mesum saja Hen." Gerutu Hendri pada diri sendiri.
Pelan-pelan kedua kelopak mata Reina mulai mengerjap terbuka. Merasakan pipinya yang sedang di toel-toel seseorang.
__ADS_1
Seseorang yang sudah pasti dapat Reina tebak siapa pelakunya. Yang mengusik tidur lelapnya seperti semalam.
"Mas mau lagi?" Tanya Reina to the point.
"Memangnya boleh?"
"Ck. Bukannya boleh atau nggak boleh mas. Tapi ini mas doyan apa mangas sih sebenarnya?" Cibir Reina. Namun tidak dapat di pungkiri kalau ia selalu menikmati semuanya.
"Mohon di maklumi sayang. Ayo cepat bangun, sudah waktunya sarapan."
.
.
.
Kini Semua orang sudah nampak menikmati sarapan pagi ini. Suasana hangat dapat Yusuf rasakan saat semua orang terpenting dalam hidupnya berkumpul menjadi satu seperti ini.
"Ada apa ayy? Bukannya ayy harus berangkat ke Bandung sekarang?"
"Urusan di Bandung masih bisa di ulur sayang. Aku hanya menemui mandor saja disana."
"Saya akan temani bapak jika di izinkan." Ucap Hendri menawarkan diri. Biar bagaimanapun semua pembangunan, Hendri juga ikut andil dalam mengurus segalanya.
"Tidak perlu. Nikmati saja masa libur mu dan kalian segara tentukan dimana kalian akan bulan madu. Ayah akan jamin semuanya, dan fokus buat cucu untuk kami." Tutur Yusuf asal ceplos tanpa filter.
Uhuk... uhuk... uhuk...
Reina yang tengah menikmati nasi goreng seketika terbatuk akibat ucapan ayahnya yang blak-blakan.
Hendri sigap. Ia langsung memberikan Reina minum lalu menepuk punggung Reina agar batuknya segera reda.
"Pelan-pelan to nduk." Ucap Jumiasih.
__ADS_1
Bahkan wajah Reina memerah kala mendapatkan tatapan dari semua orang. Reina menatap Adam penuh rasa kesal. Ia sangat paham dengan seringai Adam yang sedang menggodanya sekarang. Bahkan walau tanpa kata.
"Ayah..." Reina benar-benar di buat malu.
Zen menatap ayahnya serius. Jelas ia terngiang dengan perkataan ayahnya barusan. Kata buat cucu mengganggu isi kepalanya yang suka kepo dalam segala hal. Cucu artinya seperti dirinya untuk Wati, Jumiasih, dan Jaya. Itu menurutnya.
"Ayah."
"Iya Zen."
"Kak Re memangnya bisa buat cucu?"
"Tentu saja." Jawab Yusuf singkat. Sedangkan semua orang sudah menahan kekehannya sendiri. Kecuali Reina yang mulai nampak panik, siap mendengarkan ucapan Zen yang suka tidak terduga.
"Kalau Kak Re bisa buat cucu berarti Zen juga bisa." Ucapnya polos dengan tanpa dosa.
"Zeeennn..." Pekik Nissa tertahan. Ia sampai menepuk jidatnya sendiri, tidak habis pikir dengan pola pikir anaknya.
"Zen juga bisa. Tapi tunggu sampai Zen dewasa." Ucap Adam.
"Iya. Kalau Zen sudah sebesar Ayah, baru Zen boleh buat cucu untuk ayah dan nda. Tapi sebelum itu harus menikah dulu seperti kak Re dan mas Hendri kemarin." Terang Yusuf berharap Zen mengerti dan tidak bertanya lebih jauh lagi.
"Kenapa harus menikah kalau harus membuat cucu. Memangnya cara membuatnya seperti apa ayah? Zen ingin buat juga tapi kalau nunggu sebesar ayah pasti lama." Tutur Zen dengan wajah polosnya.
Yusuf bingung harus berkata-kata apa untuk menanggapi anaknya yang super. Ia memilih kabur agar Nissa saja yang menjelaskan jika Zen masih butuh jawaban.
"Ayyy..." Pekik Nissa.
*Mangas artinya serakah
Bersambung...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan π₯° kasih like dan komennya π tab favorit juga ya β€οΈ
__ADS_1