Dikira Janda

Dikira Janda
BAB 58 KELUARGA YANG BEDA


__ADS_3

"Kakak..." Teriak Zen yang lari ngebut menuju ke arah Reina yang sedang bergandengan mesra dengan Hendri.


Reina tentu langsung menoleh mencari sumber suara saat Indra pendengarnya menangkap suara Zen.


"Adeeekkk..." Reina tidak kalah heboh saat melihat Zen lari ke arahnya. Tidak tahu tempat dimana ia berada saat ini.


Reina langsung membungkuk untuk menangkap tubuh kecil Zen agar bisa ia gendong.


"Kakak kangen." Ucap Reina erat sambil menggoyang adiknya ke kiri dan ke kanan. Padahal baru semalam Reina tidur tanpa mengerjai Zen terlebih dulu. Tapi ternyata rasa kangennya begitu memuncak seperti ia sudah lama tak berjumpa dengan adiknya yang punya sikap tengil sok dewasa nggak ketulungan.


"Ih Zen saja nggak kangen sama kakak." Kata Zen. Namun Reina bisa merasakan bagaimana eratnya kedua tangan Zen yang erat melingkar di lehernya.


"Kalau nggak kangen kenapa lari ngebut ke arah kakak. Gengsi banget buat ngaku." Cibir Reina.


Sedangkan Hendri hanya tersenyum melihat keduanya. Sudah terbiasa melihat drama kedua anak bosnya. Ehm, bos yang kini merambah jadi mertuanya juga.


"Karena Zen tahu, pasti kakak kangen sama Zen."

__ADS_1


"Zeeennn... Lari ngacir saja nggak ingat tempat. Ini bukan lapangan Zen." Omel Nissa yang baru datang. Ia juga tadi ingin lari menangkap Zen, namun situasi tempat yang tidak mendukung membuat Nissa jalan cepat saja. Toh ia tahu siapa yang di samperin Zen.


Zen langsung menoleh ke arah Nissa. "Ah nda lemah. Masak ngejar Zen saja nggak bisa." Cibir Zen yang kini merenggangkan lilitan kedua tangannya pada leher Reina.


"Uuuhhh... Gemes tenan aku Karo arek iki." Dumel Nissa yang rasanya ingin menarik bibir lamis yang suka ngomong tanpa sensor.


"Nda sama Zen kesini sama siapa?"


"Sama Tante kamu Kak. Ada Qia sama Amira juga."


"Wah ramean dong." Wajah Reina langsung berbinar saat mendengar dua bocah yang masuk daftar kesayangannya.


"Nggak ganggu kok bu, Kami malah senang kalau ramaian begini." Jelas Hendri yang memang menyukai anak kecil. Terlebih lagi jika itu Zen. Siapa coba yang tidak terpesona dengan kejahilan dan daya tarik Zen. Bocah kecil dengan banyak tingkahnya dan kepintarannya.


"Tuh kan kak Re sama mas Hen saja nggak apa-apa nda. Ayo kak Re kita makan, Zen lapar sekali."


Zen yang mulai tidak salah memanggil Hendri dengan sebutan mas. Membuat Hendri terasa geli sendiri. Bocah tengil yang lebih pantas menjadi anaknya, yang biasanya memanggilnya om. Kini Zen menjadi adik iparnya dan mulai memanggilnya mas.

__ADS_1


"Ayo kita cari makan. Dimana Tante Luna sama Qia dan mbak Amira?" Tanya Reina sambil melangkah meninggalkan Nissa dan Hendri.


"Lah aku ditinggalin." Batin Hendri yang menatap Reina sambil menggendong Zen. "Bahkan pesona ku tidak bisa menandingi Zen." Batin Hendri ingin tergelak tawa.


"Maaf ya mas Hen. Kami jadi ganggu mengganggu waktu kencan kalian." Tutur Nissa tidak enak hati jadinya.


"Tidak apa-apa Nissa, Eh maksudnya bu. Duuuhhh... kok jadi gagu gini sih ya." Ucap Hendri sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Nissa dan Hendri jadi terkekeh. Nissa yang menganggap Hendri seperti kakaknya sedangkan Hendri menganggap Nissa adiknya. Belum Kahi keluarga mereka yang sangat dekat dulu saat masih bertetangga. Biasanya mereka mengobrol santai, kini malah terasa lucu dengan status keduanya.


"Keluarga kita memang beda." Kata Nissa masih terkekeh.


"Betul. Takdir yang sangat mengesankan." Timpal Hendri.


"Ya sudah mas, Ayo nyusul mereka. Kasian anak-anak pasti sudah sangat lapar." Ajak Nissa yang langsung jalan cepat lebih dulu.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan πŸ₯° kasih like dan komennya πŸ’‹ tab favorit juga ya ❀️


__ADS_2