
Sejak tadi, Nissa dan Luna duduk di pinggir Wati. Tangan mereka sesekali memberikan pijatan pada kaki Wati. Sedangkan Yusuf, Adam, dan Zen, Mereka pulang untuk menjemput Qia.
"Kaki bunda kena terasa dingin." Batin Nissa saat satu tangannya menyusup masuk kebawa selimut, menyentuh secara langsung kaki Wati. Kemudian Nissa menyentuh tangan Wati. "Hangat." Batinnya lagi.
"Bunda kedinginan?" tanya Nissa serius.
"Enggak nak."
"Apa suhunya kurang hangat Bun?" kini giliran Luna yang bertanya.
"Enggak nak. Sudah pas suhunya."
Wati menatap kedua menantunya bergantian. Kedua tangannya terulur mengusap puncak kepala Nissa dan Luna secara bersamaan.
"Bunda sangat bersyukur mempunyai anak perempuan seperti kalian."
"Kami juga bersyukur punya Bunda yang begitu sayang pada kami." Tutur Nissa.
"Bunda akan selalu berdoa untuk kebahagiaan kalian nak."
"Kami juga akan selalu berdoa agar Bunda selalu sehat dan panjang umur."
Jika mengingat masa lalu, tentu Wati adalah orang yang sangat berperan penting, bagaimana Luna bisa cepat menikah dengan Adam. Bagaimana Wati menjalankan konspirasi perjodohan untuk Yusuf dan Nissa.
Sungguh tidak di sangka, rencana yang dilakukan Wati berjalan lancar. Karena kini kedua anak lelakinya sudah bahagia dengan pasangan hidupnya masing-masing.
"Rasanya baru kemarin Bunda melihat kalian menjadi pengantin."
.
__ADS_1
.
.
"Mas tidur sini." Ucap Reina manja, setelah perawat usai mengganti cairan infusnya.
"Kamu sudah mengantuk sayang?" tanya Hendri sambil mendaratkan tubuhnya di kursi.
"Ih aku bilang mas tidur disini, aku mau peluk."
"Sempit nanti sayang, kalau aku ikut tidur disini."
"Ih malah enak mas kalau sempit, lebih berasa sensasinya." Ucap Reina sambil mengedipkan sebelah matanya menggoda suami.
"Hah maksud kamu apa sih sayang?" Hendri dengan wajah polosnya, sangat tumben tidak maksud dengan ucapan istrinya.
"Ckckck bukannya mas sering bilang gini enak banget sayang, sempit berasa di pijit, gitu." Reina sambil mengikuti nada suara Hendri.
"Aw..." Ringis Reina sambil mengusap keningnya. "Mas aku ini lagi sakit loh mas, bisa-bisanya mas tega nyentil istri cantik spek bidadari yang lagi hamil."
"Kamu tuh ya Re. Sakit juga masih saja bisa memikirkan hal seperti itu. Kalau aku lepas kendali bagiamana coba?"
"Mas, nyoba di rumah sakit pasti sensasinya berbeda." Usul Reina dengan ide usilnya.
Hendri menepuk jidatnya sendiri. Merasa heran dengan jalan pikiran istrinya yang tidak terduga. Ini masih beberapa jam mereka tahu kehamilan Reina, dan itu membuat jalan pikiran Reina sudah membuat Hendri senam jantung. Lalu bagaimana selanjutnya?.
"Sepertinya aku harus buat tulisan bed rest sebesar mungkin biar istri ku ini berhenti menggoda ku."
"Is... aku bukan setan mas."
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu biar berhenti merayu ku."
"Itu sama saja mas."
"Tolong berhenti sayang. Kata dokter, aku harus puasa sampai kandungan kamu benar-benar kuat. Jadi jangan uji keimanan ku."
"Makanya, mas cepat naik sini. Aku mau peluk."
Hendri tentu langsung ikut naik keatas brankar saat Reina menggeser posisi tubuhnya memberi ruang untuk suaminya.
Hendri langsung membawa kepala Reina untuk tidur di lengannya. Lalu satu tangan Hendri melingkar di perut Reina. Satu kecupan dari Hendri mendarat di pipi Reina.
"Mas."
"Hem..."
"Nanti kalau Zen sudah siap gantikan posisi Ayah, kita pulang ke Malang ya mas."
"Kamu nggak betah disini?"
"Betah mas. Hanya saja, aku lebih suka di Malang."
"Aku ikut apa mau mu sayang." Tangan Hendri menyusup masuk kedalam baju Reina untuk mengusap perut Reina secara langsung. "Ini sudah malam, Ayo tidur."
"Cium dulu mas." Pinta Reina menatap Hendri.
Hendri tersenyum. Tak perlu waktu lebih lama, Hendri langsung mendaratkan bibirnya pada milik Reina.
"Aku bilang cium mas, bukan kecupan." Kesal Reina tidak terima.
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan π₯° kasih like dan komennya π tab favorit juga ya β€οΈ