Dikira Janda

Dikira Janda
BAB 64 MASAKAN SPESIAL


__ADS_3

Hendri sampai rumah sekitar jam setengah tujuh. Ia langsung memasuki rumah setelah memasukkan mobilnya kedalam garasi.


Rumah nampak sepi. Sudah dapat di pastikan kedua orang tuanya pasti sedang ke mushola di daerah perumahannya.


Klek...


Reina langsung menoleh saat pintu kamar terbuka. Tentu senyumnya langsung mengembang saat melihat sosok suaminya yang sudah memasuki kamar.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


"Sudah solat?" Tanya Hendri.


"Sudah mas." Tanpa melepas mukena yang Reina kenakan, Ia langsung beranjak cepat dan langsung menghambur ke pelukan Hendri.


"Aku bau asem sayang."


"Asem dari mananya. Wangi gini kok."


"Kangen ya?"


Reina menatap wajah Hendri yang menunduk karena menatapnya. Dagunya menancap pada dada Hendri. "Jangan terlalu percaya diri bapak Hendri. Aku peluk, karena aku tahu bapak pasti sangat merindukan ku."


Hendri langsung bergerak cepat mengangkat tubuh Reina. Dan Reina sigap langsung mengalungkan kedua tangannya pada leher Hendri.


"Mas cepat mandi, lalu makan malam. Aku masak spesial hari ini."


"Kasih aku ciuman lebih dulu."


Cup


Sesuai permintaan Hendri, Reina mengecup sekilas bibir Hendri. "Udah."


"Yang aku minta ciuman sayang, bukan kecupan."


"Dasar mesum." Cibir Reina.


Setelah mencibir seharusnya Reina menyuruh Hendri untuk segera menurunkannya. Dan meminta Hendri untuk segera mandi.


Namun sepertinya beda hal dengan pengantin baru, Karena kini keduanya saling ******* dengan lembut saat Reina mendaratkan bibirnya pada benda yang sering membuat jejak di tubuh Reina.

__ADS_1


Sampai tanpa terasa Keduanya sudah mendarat di atas tempat tidur. Membuat peperangan mulut mereka semakin dalam dan semakin kebablasan.


"Sudah mas." Ucap Reina setelah mendorong tubuh Hendri. Agar pertukaran saliva mereka berakhir.


Cup


"Aku mandi dulu." Ucap Hendri langsung beranjak dari tubuh Reina.


Reina hanya menatap punggung Hendri sampai menghilang karena memasuki kamar mandi.


"Hufffttt..." Reina menghela nafas lega. "Kenapa semakin kesini mas Hen semakin kuat saat ciuman. Memangnya dia tidak butuh bernafas dengan normal apa?" Gerutu Reina yang semakin kewalahan saja.


.


.


.


Semua orang sudah berkumpul di ruang makan. Diatas meja, Tersedia cah kangkung, daging pedas manis, sambel terasi, Rebusan daun, ikan asin dan tempe goreng. Menu sederhana yang nampak menggugah selera.


"Dari salah satunya ini. Ada masakan ku yang sangat spesial loh mas."


"Benarkah?" Hendri mulai menelisik menu yang terhidang di atas meja.


"Mas harus cobain semuanya biar bisa nebak mana masakan aku."


"Aku tahu mana masakan kamu Re."


"Mas belum nyicipin mana mungkin tahu yang mana masakan aku."


Jika Hendri akan menjawab daging pedas manis, cah kangkung, atau sambal terasi tentu salah. Karena pandangannya tertuju pada rebusan sayuran, ikan asin dan tempe goreng.


Karena Hendri dan Reina duduk berdampingan, Hendri pun langsung membisiki Reina.


"Kalau jawaban ku benar aku minta 3 ronde malam ini." Bisik Hendri yang sukses membuat bola mata Reina membulat.


"Kalau tebakan mas salah gak ada jatah selama tiga hari ke depan."


"DEAL." Ucap Reina dan Hendri bersamaan.


Bu Rumi dan pak Makruf yang sejak tadi sudah menikmati makan malam yang tersaji, membuat mereka berdua menatap Hendri dan Reina.

__ADS_1


"Kalian kenapa to sejak tadi kok malah bisik-bisik?" Tanya bu Rumi yang jadi penasaran.


"Bu, masakan Rere disini tempe goreng kan?"


"Kok mas bisa tahu?" Tanya Reina keheranan. Bagaimana mungkin Hendri bisa menebak dengan benar sedangkan semua menu belum ia cicipi.


"Loh ini tempe yang goreng Rere to bu e?" Tanya pak Makruf yang sejak tadi sudah makan banyak tempe goreng.


"Iya. Bapak kira ini yang goreng ibu?"


"Iya e Bu." Pak Makruf melanjutkan menikmati tempe goreng.


"Mas kok bisa tahu?" Tanya Reina ulang.


"Karena ibu paling males buat tempe goreng di tepung. Ribet katanya."


"Owalah Hen, Kok malah ngerasani ibu e ndek ngarepe ibu langsung."


"Biar nggak dosa bu."


Bu Rumi dan pak Makruf kembali fokus dengan makanan yang belum habis.


"Jadi bagaimana, siap nanti malam?" Tanya Hendri berbisik setelah Reina mengisi piringnya dengan nasi dan beberapa menu yang terhidang.


"Makan mas makan."


"Kok kamu makan sedikit Re?" Tanya Hendri saat melihat piring Reina diisi sepucuk centong nasi.


"Aku lagi Diet mas."


"Oh diet." Hendri mengangguk saja. "Bu tadi siapa yang bikin ibu seneng, karena tadi sore ada yang makan banyak sampai nambah-nambah?"


Sangking senangnya bu Rumi saat tadi sore setelah Reina mandi, Reina makan dengan daging pedas manis habis banyak. Sangking antusiasnya bu Rumi sampai menelpon Hendri untuk menceritakan perihal Reina yang makan banyak.


"Ibuuu... kenapa buka kartu. Kan Rere gagal jaga image."


Ucapan Reina barusan malah membuat bu Rumi dan pak Makruf terkekeh.


Bersambung...


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan πŸ₯° kasih like dan komennya πŸ’‹ tab favorit juga ya ❀️

__ADS_1


__ADS_2