
Hendri hanya mengikuti Yusuf tanpa bertanya lagi saat ia diajak menuju ke rumah sakit setelah meeting usai.
Ayah mertuanya itu tidak memberikan jawaban walau Hendri bertanya, kenapa mereka kini langsung ke rumah sakit.
Melihat wajah panik Yusuf, Hendri seolah melihat kepanikan saat Zen masuk ke rumah sakit dulu. Hendri jadi berpikir apakah Zen tiba-tiba di larikan ke rumah sakit lagi, hingga Yusuf sepanik ini.
"Handphone ku ketinggalan di ruang kerja ini." Batin Hendri sambil meraba setiap saku jasnya. Ia melirik Yusuf yang nampak fokus dengan jalanan. Kalau di pikir-pikir lagi, ini kali kedua Hendri satu mobil dengan Yusuf dan Yusuf yang mengemudikan mobilnya.
"Ayo Hen cepat." Ajak Yusuf saat mereka sudah sampai dirumah sakit. Melangkah lebar saat pintu lift sudah sampai di lantai tujuan. Tentu saja Hendri langsung melangkah lebar membuntuti ayahnya.
Klek
Semua orang langsung melihat kearah pintu setelah Yusuf membukanya.
"Assalamualaikum." Salam Yusuf.
"Waalaikumsalam." Jawab semua orang yang ada disana.
Yusuf langsung mendekati brankar dimana Reina berbaring disana.
Sedangkan Hendri yang belum tahu kalau istrinya yang tengah dirawat tentu terkejut melihat keberadaan kedua orang tuanya.
Yusuf memang sengaja tidak memberitahu Hendri perihal Reina masuk rumah sakit, dan positif hamil. Karena Yusuf tidak mau Hendri lepas landas mengemudikan mobil, sama seperti saat apa yang dirasakan Yusuf dulu. Saat Nissa dirawat di rumah sakit.
"Loh bapak sama ibu disini?"
"Loh yah iya to Hen. Sana cepat lihat istrimu."
Mendengar kata perintah dari bapaknya, Hendri langsung melangkah cepat menuju brankar.
"Mana yang sakit nak?" Yusuf dibuat khawatir dengan anak perempuannya.
"Sudah nggak ada yang sakit ayah. Pusingnya Rere juga sudah mendingan."
Yusuf langsung bernafas lega. "Lain kali kalau ada yang dirasa sakit, jangan di tahan seperti ini lagi." Ucap Yusuf sambil mengusap puncak kepala Reina.
__ADS_1
"Iya Ayah."
Srak...
Hendri menyibak tirai yang menutupi setengah brankar, yang membuat ia tidak bisa langsung melihat siapa yang berbaring di sana.
"Sayang."
Hendri langsung mendekati Reina. Wajahnya sudah sangat khawatir melihat istrinya yang tadi pagi ia ajak ke rumah sakit tapi ditolak. Dan kini terbaring disana, namun anehnya sama sekali tidak ada wajah sendu menahan sakit. Melainkan raut pucat yang tertutup dengan wajah penuh kebahagiaan.
"Mas." Panggil Reina sambil memasang wajah sok sedihnya dengan mata berkaca-kaca. Hal itu tentu membuat jantung Hendri bekerja tidak normal.
Sedangkan Yusuf dan Nissa sudah menahan tawa melihat aksi Reina yang akan memberikan kejutan. Tentunya Zen juga sudah diajak kompromi.
Sedangkan pak Makruf dan bu Rumi jelas hanya geleng-geleng kepala melihat keunikan mantunya.
"Kamu kenapa sayang? Kamu sakit apa?"
"Aku sakit mas." Hendri mengusap air mata yang menggenang di kedua pelupuk mata Reina.
Sumpah demi apapun dua pasang suami istri itu, seolah tengah menyaksikan serial drama secara langsung.
"Disini mas." Reina membawa tangan Hendri untuk menyentuh perutnya yang tertutup pakaian.
"Ya Allah, kamu sakit apa Re?"
"Sakit hamil mas, sudah dua bulan ternyata."
"Terus tadi gimana kata dokter?" Hendri tentu masih belum mencerna ucapan Reina barusan. Membuat semua yang disana menahan tawa. Apa lagi Reina.
"Kata dokter sembuhnya masih tujuh bulanan lebih mas."
"Ya Allah, kok lama sekali Re."
"Aku juga maunya di percepat biar kita cepat gedong anak. Tapi kan nggak mungkin bisa begitu mas."
__ADS_1
"Hah..." Hendri tercengang saat menyadari kata anak yang di Utarakan Reina. Ia mencerna kembali pembicaraan mereka tadi. Kedua mata Hendri melihat tangannya yang masih berada diatas perut Reina. "Kamu hamil sayang." Dengan senyum cerahnya, tentu Reina langsung mengangguk. "Alhamdulillah..."
"Hiya... adegan ples ples." Spontan Nissa langsung menutup mata Zen saat Hendri yang melupakan orang tua dan mertua serta ipar yang masih bocil, ia mendaratkan banyak kecupan di wajah Reina.
"Udah mas. Banyak orang tua dan ada bocah disini."
"Oh iya." Dengan menahan rasa malu. Hendri mengakhiri aktivitasnya.
"Benerkan kata Zen Nda." Ucapnya tiba-tiba.
"Bener apanya dek?"
"Ini pasti karen Zen sunat makanya kak Re langsung kasih adik buat Zen. Coba Zen nggak sunat, pasti kak Re nggak kasih adik buat Zen."
Celotehan Zen justru membuat tawa semua orang disana langsung menggelegar.
Saat sedang bercengkrama, Yusuf langsung mengambil ponselnya didalam saku.
"Adam." Gumamnya.
Dengan cepat Yusuf menggeser tombol berwarna hijau untuk menerima panggilan suara dari seberang sana.
Yusuf : "Assalamualaikum Dam."
Adam : "Waalaikumsalam."
Entah kenapa, dada Yusuf tiba-tiba terasa sesak. Apa lagi kini Adam tidak mengatakan apa-apa.
Yusuf : "Ada apa Dam?"
Adam : "Mas tolong cepat pulang kesini sekarang." Ucap Adam dengan suaranya yang terdengar berat seolah sedang menahan sesuatu.
Bersambung...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan π₯° kasih like dan komennya π tab favorit juga ya β€οΈ
__ADS_1