
Demi untuk menyenangkan hati sang anak, malam ini Yusuf membawa anak dan istrinya makan malam disebuah restoran yang ada di hotel miliknya.
Semua karyawan tentu memberikan hormat saat melihat kedatangan Yusuf yang menggendong Zen serta melingkarkan satu tangannya di pinggang sang istri.
"Itu Kakak, Ayah." Tunjuk Zen karena melihat Reina.
"Ah biarkan saja, kita makan bertiga saja." Ucap Yusuf. Ia tidak ingin mengganggu kebersamaan anak dan menantunya.
"Tapi itu Kakak sama Mas, lagi sama siapa ya Ayy?" Nissa jadi ingin tahu karena Reina tidak hanya berduaan dengan Hendri.
"Mana?" tanya Yusuf mencari keberadaan anak perempuannya.
"Itu..." Tunjuk Nissa dan Zen bersamaan.
Tentu Yusuf melihat kemana arah tunjuk istri dan anaknya. "Itu kok kaya Ridwan." Gumam Yusuf sambil menatap lekat. "Ayo kita gabung mereka saja."
"Itu Ayah, Om." Ucap Reina sambil menunjuk kearah Yusuf yang jalan menghampirinya.
Lelaki yang bernama Ridwan pun langsung menoleh kearah tunjuk Reina. "Assalamualaikum bro." Salam Ridwan setelah berdiri dan melihat Yusuf yang semakin dekat.
"Waalaikumsalam." Mereka berdua berjabat tangan. "Seharusnya aku yang salam, kan aku yang baru datang.
Semua orang duduk. Yusuf dan Ridwan saling bertukar kabar. Mereka berdua teman satu sekolah saat SMA. Ridwan adalah salah satu teman yang mengetahui bagaimana nakalnya Yusuf saat dulu sedang menjalin kasih dengan Erlin. Tidak heran kalau pada akhirnya hubungan darah muda yang masih panas-panasnya itu menghasilkan sebuah karya yang kini terlihat nyata didepan mata.
Sedangkan Hendri tentu saja cukup mengenal Ridwan. Karena sudah beberapa kali mereka bertemu. Dimana ada Yusuf, disitu ada Hendri. Begitulah kira-kira nya.
"Lancar pekerjaan?"
"Alhamdulillah. Tapi sebentar lagi aku akan pensiun."
"Loh kenapa? Kita belum sampai 50 tahun bro."
"Badan ku sudah ingin istirahat, Lagi pula aku ingin menghabiskan banyak waktu untuk anak terkecil ku dan istri ku. Mubazir."
Yusuf dan Ridwan tentu langsung tertawa terbahak-bahak. Sedangkan Hendri hanya mengulas senyum tak berkutik. Masih jelas terlihat dimata Yusuf dan Nissa wajah Hendri yang nampak lecek.
"Kalau kamu mah enak bro, tiap hari nyandeng. Lah aku?"
"Terus ini kamu sama istri apa sendiri?"
"Sama istri, lagi nganterin anak ke toilet."
__ADS_1
"Kakak, Tante itu tuh yang sering Zen lihat di sekolah, yang Zen bilang peluk-peluk sama Om Bayu."
Zen yang sering melihat kebersamaan Bayu dengan seorang perempuan didepan sekolahnya, tentu bocah kecil itu hanya menceritakan pada Reina saja. Niat hati Zen saat ini adalah ingin mengghibah berdua dengan kakaknya, tapi suaranya yang cempreng membuat semua orang mendengarnya.
Mendengar ucapan Zen barusan, seketika semua orang menoleh, mengikuti arah tunjuk Zen. Dan betapa terkejutnya semua orang karena perempuan yang ditunjuk Zen itu, kini duduk bersama mereka.
"Maaf ya, kami terlalu lama di toilet." Ucap perempuan berusia 37 tahunan.
Nissa dan perempuan yang baru saja gabung bersama mereka bersalaman.
"Om Bayu? Siapa dia?" tanya Ridwan pada Zen.
"Om Bayu yang... hmmmppp..." Reina membekap mulut adiknya yang terlalu jujur tanpa filter.
"Om Bayu itu sopir mama Pa." Kini yang menjawab anak perempuan yang usianya setara dengan Zen.
Mendengar jawaban anaknya, tentu saja kemarahan Ridwan memuncak seketika. "Sejak kapan kamu punya sopir bernama Bayu?" tanyanya emosi.
Nissa langsung menggendong Zen. Tentu saja Nissa tidak ingin membuat anaknya melihat sebuah pertengkaran orang dewasa. Pertunjukan yang tidak pantas di saksikan bocah dibawah umur.
"Maafkan ucapan anak saya yang terlalu blak-blakan Pak, Bu. Saya permisi." Nissa langsung beranjak dari sana dan di ikuti Reina yang jalan di belakang Nissa.
"M-Mas, a-aku bisa jelasin semuanya." Ucapnya tergagap.
Yusuf menepuk punggung Ridwan. "Bro, disini berlalu ramai untuk menyelesaikan masalah."
Ridwan melihat sekeliling yang memang ramai orang. Ia menghela nafas untuk meluruhkan emosinya. "Seharusnya malam ini kita bisa makan bersama, tapi sepertinya keadaan tidak memungkinkan."
"Dilain waktu, kita sempatkan bersama. Dan maaf atas ucapan anak ku."
Ridwan terkekeh menyedihkan. "Anak mu itu memang calon pemimpin yang jujur dan blak-blakan. Aku sangat berterimakasih untuk hal ini." Ridwan menghela napasnya lagi. "Aku pulang lebih dulu."
Ridwan langsung menggendong anak perempuannya, lalu mencengkram kuat tangan sang istri untuk ia bawa pulang.
.
.
.
Setelah makan malam bersama, tentu saja Yusuf langsung membawa Nissa dan Zen untuk segera pulang.
__ADS_1
Sekarang Hendri dan Reina sudah berada di sebuah kamar hotel. Kamar yang begitu bersejarah bagi keduanya. Kamar dimana Reina menyerahkan seluruh raga, agar sepenuhnya dimiliki Hendri.
"Mas dari waktu makan tadi kenapa wajahnya ditekuk terus sih mas?"
"Sayang lupa kita tadi habis kepergok. Tatapan Ayah sama Nda itu seolah sedang menguliti ku. Apa lagi Nda, kelihatan banget kalau ingin tertawa saat melihat ku."
"Perasaan tatapan Nda biasa saja deh Mas menurut ku. Nda saja tetap biasa, padahal melihat kita malam itu."
Sepertinya antara Reina dan Zen memang punya tabiat yang sama. Sama-sama berucap blak-blakan tanpa filter.
Hendri menautkan kedua alisnya karena penasaran. "Maksud sayang?"
Reina menatap wajah Hendri yang penuh tanya. "Apanya?"
"Melihat kita malam itu. Melihat apa?" semakin penasaran jiwa Hendri sekarang.
"Melihat kita waktu di ruang makan, Nda lihat kita." Tutur Reina dengan wajah polosnya.
"APAAA..." Hendri terpekik kuat. Ia yang sejak tadi tiduran sambil membelai tubuh Reina, sampai terbangun karena terkejut dengan ucapan Reina yang jelas nampak jujur. "Jadi malam itu Nda lihat kita?" tanya Hendri untuk memastikan sekali lagi.
"Iya."
"Huaaaa..." Hendri langsung menenggelamkan wajahnya pada leher Reina. Sungguh sangat memalukan, apa lagi adegan ciuman mereka kelewat hot. Belum lagi tangan laknatnya sampai meraba tubuh Reina sejauh itu. "Apa Ayah tahu tentang hal itu?"
"Tentu saja enggak lah Mas. Nda mana mungkin mengatakan hal itu sama Ayah. Apa lagi aku yang mulai duluan. Bisa di gorok kita berdua kalau Ayah sampai tahu."
Padahal tanpa mereka berdua ketahui, Nissa tidak melihat secara detail adegan panas mereka berdua saat itu. Sengaja Nissa mengatakan melihat, hanya untuk mencari tahu sejauh mana perasaan Reina dan Hendri yang sebenarnya.
"Apa masih ada yang tidak aku ketahui?"
"Aku hanya belum menceritakan hal itu saja Mas."
"Ini sudah malam, ayo kita tidur." Hendri mengatur posisi tidurnya dengan benar, lalu membawa Reina kedalam pelukannya.
"Ini kita nggak mau ngapa-ngapain Mas? Kita sudah cek in loh ini."
"Oh iya." Hendri melihat jam yang menempel pada dinding. Tangannya langsung meraih remote untuk mengganti lampu agar menjadi temaram. "Ini sudah jam sepuluh, aku nggak mau buat istri dan anakku begadang. Ayo tidur." Ajaknya setelah mendaratkan kecupan pada bibir Reina.
Bersambung...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan π₯° kasih like dan komennya π tab favorit juga ya β€οΈ
__ADS_1