
"Ingat ya Hen, antar semua berkas ini ke ruangan ku dulu, baru kamu boleh menemui pacar mu." Pesan Yusuf saat akan keluar Dari mobil. Karena kini mobil yang di kendarai Hendri sudah berhenti tepat di depan rumahnya. Setelah menempuh perjalanan dari Bandung ke Jakarta.
"Pak, saya sudah jelaskan kalau saya tidak punya pacar." Jelas Hendri sekali lagi. Karena memang itu kenyataannya.
"Kamu ini mau ngibul kok sama aku to Hen, Hen." Ucap Yusuf yang langsung keluar dari dalam mobil.
Hendri kembali melajukan mobilnya setelah Yusuf memasuki rumahnya. Melaju dengan kecepatan sedang menuju kantor pusat.
Sesuai dengan permintaan tolong Reina. Hendri langsung menuju lobby dimana ada scurity berjaga disana.
"Selamat sore pak." Sapa dua scurity disana.
"Sore. Siapa tadi yang meminjami uang ibu Reina?"
"Saya pak." Jawab salah satu dari mereka.
Hendri langsung mengambil dompet didalam tas kerjanya. Dan mengambil lima lembar uang berwarna merah.
"Ini, uang ganti dari ibu Reina ya pak. Beliau tidak bisa turun sejak tadi karena banyak pekerjaan."
Jelas saja bapak yang bertugas sebagai keamanan itu sangat mengerti. "Tidak apa-apa pak. Tapi ibu Reina tadi hanya meminjam seratus ribu pak, ini kebanyakan." Ucapnya tidak mau menerima uang lebih dari Hendri.
"Terima saja pak. Ini Rezeki untuk bapak. Bisa untuk ngopi dengan yang lainnya nanti."
"Alhamdulillah. Terimakasih ya pak." Ucapnya bersyukur atas kebaikan anak pimpinannya.
"Sama-sama. Saya permisi."
"Baik pak. Silahkan."
Hendri langsung keluar dari dalam lift saat pintu lift terbuka tanda sampai di mana ruangannya dan bosnya berada. Ia langsung masuk keruangan Yusuf untuk meletakkan berkas yang ia bawa.
Setelahnya Hendri langsung kembali masuk lift untuk turun satu lantai dimana ruangan Reina berada.
"Mas Hen." Panggil Reina saat Hendri baru keluar dari dalam lift.
"Selamat sore bu." Sapa Hendri sopan.
Reina spontan menoleh kearah Gita, asistennya. Perempuan single berusia 30 tahun itu langsung ditunjuk sendiri oleh Yusuf untuk menjadi Asisten Pribadi Reina dari awal Reina mulai aktif bekerja di perusahaan ini.
"Mbak Gita, tolong segera carikan kang foto yang menghaslkan jepretan berkualitas."
"Baik bu, kalau begitu saya permisi." Ucap Gita. Ia menatap Hendri kemudian Reina sejenak lalu melangkah menuju ruangannya.
"Ini pesanan ku kan mas." Ucap Reina yang langsung menyambar kantong plastik berisi sekotak surabi pesanannya.
__ADS_1
"Iya." Jawab Hendri singkat.
"Ayo masuk mas." Ajak Reina saat ia sudah masuk kedalam ruang kerjanya, sedangkan Hendri hanya berdiri di ambang pintu.
"Aku sudah antar serabinya, jadi biarkan aku pulang sekarang ya." Hendri lebih menghindari Reina saat hanya berduaan seperti ini. Entah kenapa itu ia lakukan. Tapi yang pasti, ini adalah pilihan yang tepat untuknya saat ini.
"Aku belum makan siang loh mas ini." Adu Reina memelas agar Hendri mau menemaninya.
"Kamu kebiasaan banget sih Re. Sudah pesan makan belum?" Tanya Hendri mulai khawatir.
"Sudah, tadi aku minta tolong OG buat belikan aku makan. Mas sudah makan belum? Biar aku telfonkan mbaknya, sekalian buat mas juga." Tawar Reina sambil menarik tangan Hendri masuk kedalam ruang kerjanya dan duduk di sofa yang ada disana.
"Aku tadi sudah makan dengan pak Yusuf."
"Mas ini, sekali-kali gitu mas makan siang sama calon istri. Setiap hari kok sama ayah aku." Cibir Reina nggak pikir-pikir. Tangannya sambil mengeluarkan kotak serabi yang ingin segera ia nikmati.
"Memangnya kamu pernah gitu makan siang dengan calon mantu buat pak Yusuf dan bu Nissa?" Tanya Hendri membalikkan ucapan Reina.
"Ah cuci tangan dulu ah." Ucap Reina yang langsung beranjak menuju kamar mandi yang ada disana.
Setelah menghapus make up dan selesai mencuci tangan dan wajahnya, Reina langsung segera keluar dari dalam kamar mandi. Merasa lebih segar sekarang dan lebih nyaman saat rambut yang ia urai sejak tadi kini ia ikat.
Reina langsung duduk di sofa juga. "Mencicip serabi dulu." Ucapnya yang langsung menikmati gigitan pertamanya. "Enak loh mas ini, nah." Ucap Reina sambil mendekatkan kotak serabi. Agar Hendri lebih dekat untuk mengambilnya.
"Aku tadi sudah makan Re buat kamu sa..."
"Kebanyakan alasan mas ini." Ucap Reina yang langsung menyumpal mulut Hendri dengan serabi.
Membuat ucapan Hendri jelas belum selesai. Mau tidak mau Hendri akhirnya memakin Serabi yang sudah membekap mulutnya.
"Kamu beli makan apa itu Re?"
"Bakso." Ucap Reina kesal. Sudah jelas ia sedang membuka kotak salad sayuran pake ditanya lagi.
"Nggak pakai nasi?"
Ya. Apapun makanannya ya harus pake nasi.
"Mas aku ini lagi diet lo mas. Jadi aku harus lebih banyak makan sayuran kurangi karbo dan lemak." Tutur Reina menerangkan.
"Kamu tahu gajah Re?"
__ADS_1
"Tahu lah mas. Dikira aku anak bayi apa, gajah saja nggak tahu." Jawab Reina setelah menyelesaikan suapan pertamanya.
"Gajah makannya dedaunan, Rumput, bambu dan lainnya kan?"
"Iya." Jawab Reina. Tapi disini Reina mulai menatap Hendri serius.
"Gajah saja tetap tumbuh menjadi gemuk padahal mereka tidak pernah makan karbo dan lemak."
Raina terdiam menatap Hendri. Menyerap dengan baik ucapan lelaki yang duduk satu sofa dengannya. Kemudian Reina melihat kotak salad sayurannya.
"Mas ngejek aku apa ngerjain aku sih?"
"Loh, bener dong yang aku bilang barusan."
"Tapi nggak begitu juga mas konsepnya. Kita manusia bisa memakan semua jenis makanan yang halal, sedangkan bintanag punya jenis makanan masing-masing. Padahal sama-sama binatang tapi jenis makanan mereka memang beda-beda mas." Tutur Reina.
"Kalau sudah tahu manusia bisa memakan segala jenis makanan terus kenapa kamu pilih-pilih?"
"Ih kan aku diet mas. Ini mau nggak saladnya?"
"Nggak mau. Aku nggak mau jadi gajah."
Reina yang sudah jengkel langsung menyuapkan salad sayuran kedalam mulut Hendri. "Kapok lo mas, ikut jadi gajah sekalian."
Reina kemudian kembali menikmati salad sayurannya. Hendri kini terkejut di buatnya. Sebenarnya Reina ini sadar atau enggak kalau mereka makan salad di sendok yang sama.
"Enak kan mas?" Tanya Reina. Hendri hanya mengangguk saja memberikan jawaban. "Mau lagi?"
"Buat kamu saja Re." Tolak Hendri secara halus.
"Nggak usah sok malu-malu mas." Ucap Reina sambil menyuapkan lagi salad ke mulut Hendri. "Jarang-jarang loh mas aku yang cantik, baik hati, spek bidadari ini nyuapin mas yang jones. Makannya mas cepet cari calon istri biar ada yang perhatiin." Cerocos reina tanpa memperhatikan Hendri yang sejak tadi menatapnya.
Hendri menghela nafasnya. "Nanti jika aku sudah menikah, jangan pernah dekat seperti ini dengan aku."
Reina langsung menatap Hendri serius. "Kenapa?"
"Orang juga bisa salah sangka jika kamu dekat dengan sembarang lelaki yang bukan siap-siapa kamu Re." ucap Hendri berharap Reina paham.
"Tapi mas bukan orang sembarangan. Mas orang kepercayaan ayah aku, sudah seperti keluarga kami. Lalu kenapa harus salah sangka?" Tanya Reina tidak terima.
"Apa yang kamu pikirkan Hen." Ucap Hendri dalam hati. Ia hanya menatap Reina tanpa mengucapkan sepatah kata.
Bersambung...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan π₯° kasih like dan komennya π tab favorit juga ya β€οΈ
__ADS_1