
Hendri dan Yusuf sudah pergi ke Malang sejak tiga hari yang lalu, rencananya selama lima hari mereka akan berada disana untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan yang memang harus Yusuf selesaikan.
Calon Papa dan calon Opa itu, tentu saja mereka berdua tidak ingin melewatkan proses kelahiran malaikat kecil yang aman di dalam perut Reina. Apa lagi sekarang usia kehamilan Reina sudah menuju 37 minggu.
Reina langsung keluar dari kamar setelah selesai membersihkan diri. Ia berjalan pelan karena sejak kemarin perutnya terasa tidak enak.
"Ayo nduk sarapan dulu, sudah ibu masakin sayur asem itu," ajak Bu Rumi. Tentu saja Bu Rumi langsung memasakkan apa yang menjadi permintaan menantunya itu.
"Nanti dulu Bu. Ibu sama Bapak sarapan saja duluan."
Bu Rumi langsung menghampiri Reina yang nampak menahan sakit. "Kenapa ini nduk? Ada yang sakit?" Bu Rumi langsung memijit pinggang Reina yang sejak tadi Reina pijat sendiri.
"Perut Rere nggak enak Bu, rasanya. Pinggang juga sama saja."
Bu Rumi langsung menyentuh perut Reina yang terasa kencang. "Opo wes wayahe nduk?"
"Belum lah Bu."
"Paaakkk... Bapaaakkk..."
"Ono opo to Bu kok teriak-teriak?" tanya pak Makruf sambil berjalan pelan menuju ruang keluarga.
"Wes wayahe kayane Pak. Ayo kita bawa ke rumah sakit saja Pak."
Reina tidak menanggapi ucapan kedua mertuanya karena merasakan perutnya yang semakin terasa kencang.
"Loh opo wes keroso to Bu?"
"Sudah Pak. Perute kuwenceng buanget iki loh pak. Wes Bapak kandani sopir Pak. Ibu tak ngambil perlengkapan dulu."
Reina : "Iya Nda?" ucap Reina pelan setelah menerima panggilan suara dari Nissa.
Nissa : "Masih sakit Kak perutnya?" Nissa tentu sangat khawatir saat akan mengantar Zen sekolah, ia mendapatkan kabar dari Reina kalau perutnya terasa sakit.
Reina : "Nda dimana?" bukannya menjawab pertanyaan Nissa, Reina malah kembali bertanya. Membuat Nissa semakin khawatir saja.
Nissa : "Ini Nda mau ke tempat Kakak. Apa sakit sekali?"
Reina : "Kita bertemu di rumah sakit saja Nda."
Mobil sudah menuju ke rumah sakit. Karena masih pagi tentu saja jalanan ibu kota sedang macet.
"Owalah jan, kok malah macet to." Gerutu Pak Makruf.
"Tahan dulu ya Nduk." Ucap Bu Rumi.
Sejak tadi Reina merintih menahan sakit. Sedangkan Bu Rumi tak hentinya memijit pinggang Reina.
"Jane hape ne Hendri Ki ngopo to nggak aktif?" Pak Makruf nampak kesal karena ternyata, sejak tadi menghubungi Hendri namun tidak bisa.
__ADS_1
"Mas Hen tadi bilang mau meeting dulu pak. Ponselnya memang sedang di charge."
Nissa sudah lebih dulu sampai dirumah sakit. Ia terus mondar mandir di depan UGD karena Reina belum juga tiba.
Beberapa Menit kemudian, Nissa langsung menghampiri mobil yang baru saja tiba. Pak Makruf dan bu Rumi lebih dulu keluar dari mobil.
Byuuurrr...
Baru juga Reina akan turun dari mobil, tiba-tiba terdapat cairan bening yang membasahi baju dan juga kursi mobil bahkan sampai ke lantainya juga.
"Ibuuu..."
"Wealah pecah ketuban. Wes ayo nduk turun."
"Ibu tolong ambilkan kain kering, biar Rere lap dulu."
"Ealah anak ku iki, sudah biarkan saja nanti ibu yang lap."
"Ayo Kak, keluar."
Nissa, Bu Rumi, dan Pak Makruf terlihat sedikit panik menunggu dokter keluar dari ruang pemeriksaan.
"Keluarga ibu Reina?" tanya seorang tenaga kesehatan yang baru saja keluar dari ruang persalinan.
"Iya kami semua orang tuanya. Bagaimana keadaannya Bu?"
Nissa dan Bu Rumi saling pandang. Seolah bertanya siapa yang mau masuk duluan.
"Ibu atau Nissa yang masuk Bu?"
"Nissa duluan saja. Nanti gantian." Nissa tentu mengangguk. "Rere disuruh makan ya Nduk, tadi belum sarapan. Biar kuat tenaganya," Bu Rumi mengulurkan bekal yang di siapkan ART saat akan berangkat tadi.
Nissa langsung bergegas masuk setelah mendapatkan keterangan dari dokter. Nissa yang belum pernah menemani orang melahirkan atau bahkan merasakan sendiri bagiamana nikmatnya proses melahirkan tentu sedikit gugup.
"Nda," panggil Reina saat melihat Nissa masuk kedalam ruang persalinan.
"Iya. Tahan dulu ya sakitnya." Nissa mengusap perut Reina yang semakin terasa kencang. "Kata Ibu tadi, Kakak belum sarapan. Nda suapi ya."
"Tapi Rere nggak laper Nda."
"Kata dokter, kakak harus makan. Biar nanti saat melahirkan tenaganya kuat. Nda suapi ya?" Nissa langsung membuka bekal makanan yang ia terima dari Bu Rumi tadi, dan hal itu berhasil membuat Reina cekikikan. "Kenapa kak, kok malah tertawa?"
"Padahal wajah Ibu tadi sudah sangat khawatir loh Nda. Kok ya masih sempet buatin bekal dibawa ke rumah sakit."
Nissa juga jadi ikut cekikikan. "Kata ibu tadi, Kakak ingin sekali makan sayur asam. Jadi Ibu nyuruh ART cekatan buat bekalin masakan Ibu. Katanya biar cucunya nggak ngences." Lagi-lagi keduanya malah terkekeh karena hal itu.
"Nda, Rere mau ke kamar mandi." Pinta Reina setelah selesai makan dan minum.
"Kakak mau apa?"
__ADS_1
"Ingin buang air kecil, Nda."
"Nda ambilkan pispot dulu."
"Rere ke kamar mandi saja Nda." Jelas Reina merasa tidak enak jika Nissa membantunya buang air kecil di pispot.
"Kata dokter tadi, Kakak nggak boleh turun dari sini karena ketubannya sudah pecah ... " Nissa menjeda ucapannya. "Jangan merasa tidak enak seperti itu. Tunggu ya, Nda ambilkan pispot."
Nissa langsung memasang pispot di bawah Reina setelah Reina mengatur posisinya setengah duduk. Setelah itu Nissa membuka botol Aq*ua agar Reina mudah membersihkan bagian intinya setelah mengeluarkan semua cairan yang ingin keluar.
"Maaf ya Nda. Karena Rere, Nda jadi melakukan hal seperti ini." Ucap Reina saat Nissa mengambil pispot di bawahnya.
"Kenapa meminta maaf sih Kak. Bukankah seorang ibu akan melakukan apapun untuk anaknya? Nda buang ini ke kamar mandi dulu."
.
.
.
Setelah keluar dari ruang meeting, Hendri segera menuju keruang kerjanya Adam, karena ia tadi mengisi daya ponselnya di ruangan Adam.
"Hai Om Om, aku mau ambil ponsel." Ucap Hendri setelah masuk kedalam ruang kerja Adam.
"Dasar keponakan, apa tidak tahu caranya mengetuk pintu?"
"Oh iya. Maafkan keponakan mu ini Om." Hendri dengan isengnya membungkukkan tubuhnya tanda meminta maaf.
"Sumpah geli woooiii..."
.
.
.
Yusuf : "Assalamualaikum sayang." Salam Yusuf setelah menerima panggilan video call dari Nissa.
Nissa : "Waalaikumsalam. Kemana saja sih Ayy, dari tadi di telpon nggak diangkat."
Yusuf : "Aduh istri ku sayang, baru ditinggal beberapa hari saja sudah ngambek. Pasti kangen ya sama ciuman dan pelukan aku apalagi ... "
Reina yang sedang menahan sakit jadi cekikikan karena mendengar ucapan ayahnya.
Nissa : "Stop Ayy. Astagfirullah dasar Om Om Omes. Aku dari tadi telpon Ayy karena Rere mau melahirkan. Mas Hen juga nggak bisa di hubungi sejak tadi."
Bersambung...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan π₯° kasih like dan komennya π tab favorit juga ya β€οΈ
__ADS_1