
"Tapi mas bukan orang sembarangan. Mas orang kepercayaan ayah aku, sudah seperti keluarga kami. Lalu kenapa harus salah sangka?" Tanya Reina tidak terima.
"Apa yang kamu pikirkan Hen." Ucap Hendri dalam hati. Ia hanya menatap Reina tanpa mengucapkan sepatah kata.
"Terakhir mas." Ucap Reina sambil menyodorkan salad, mendekati mulut Hendri.
Hendri mendorong tangan Reina karena tidak mau. "Buat kamu saja biar kenyang."
"Aku sudah kenyang mas. Ayo aaa..." Reina masih mencoba untuk meminta Hendri melahap suapan terakhirnya.
"Aku nggak mau Re." Ucap Hendri.
Padahal Hendri mengucapkan kata itu biasa saja. Tapi entah kenapa melihat tatapan Hendri, membuat Reina merasa jika Hendri sedang marah dengannya.
"Mas kenapa bentak aku. Kalau memang nggak mau ya sudah, nggak perlu meninggikan suaranya." Ucap Reina berterus terang dengan penilaiannya saat ini. Reina langsung memutuskan tatapan mata mereka dan ingin langsung melahap salad terakhir.
Dengan gerakan cepat Hendri mendekatkan diri dan langsung menggenggam pergelangan tangan Reina. Sendok yang sudah menempel pada bi*bir Reina siap masuk kedalam mulutnya kini sudah mendarat dalam lahapan Hendri.
Hal itu membuat Reina terkejut. Untuk beberapa saat mata mereka saling memandang saat hendri melahap suapan terakhir. Karena jarak wajah mereka sangat dekat.
Reina bahkan sampai tahan nafas untuk beberapa saat. Karena baru kali ini wajah mereka berdekatan dan saling memandang sedekat itu walau hanya dalam hitungan detik.
'Sudah aku makan, jadi jangan ngomel lagi." Ucap Hendri. Hendri langsung menjauhkan wajah dan tubuhnya dari Reina.
"Tatapan apa yang diberikan mas Hendri barusan?" Batin Reina bingung. Namun Reina lebih memilih untuk tidak memikirkan hal yang baru saja terjadi. Meski jantungnya masih terasa berdegup kencang karena hal barusan.
"Nah gini kan nggak Mundzir saladnya."
"Kalau sekiranya nggak habis, beli saja yang box kecil Re."
"Ini juga beli yang besar karena ingin mengisi energy ku yang terkuras habis. Kerjaan nggak ada yang beres." Ucapnya mulai mengadu.
"Memang ada masalah apa? Kok aku nggak ada laporan sama sekali.' Ucap Hendri. Karena biasanya asistennya selalu memberi tahu jika ada masalah sekecil apapun yang berkaitan dengan DS group, yang memiliki empat stasiun televisi.
"Ini bukan masalah chanel kita mas. Tapi masalah brand ku."
Selain membantu mengurus DS Group. Reina juga merintis usaha fasion. Meski masih ikut di gedung perusahaan yang dipimpin ayahnya. Tapi Reina sendiri yang mengurus timnya tanpa campur tangan ayahnya. Meski tidak dapat dipungkiri semua fasilitas masih milik perusahaan.
__ADS_1
"Memangnya kenapa?"
Reina langsung beranjak menuju meja kerjanya untuk mengambi tabletnya. Ia kembali duduk di sofa dan lebih dekan dengan Hendri.
"Lihat ini deh mas." Ucap Reina yang sudah menghidupkan layar tablenya. Membuka beberapa file foto hasil jepretan kemarin dan menjadi bahan putusan meeting tadi.
Hendri mencondongkan tubuhnya lagi berdekatan dengan Reina. Ikut melihat tablet dalam pegangan Reina. "Kenapa?"
"Lihat ini hasil jepretannya, nggak ada yang bener. Aku sudah ganti tiga kali kang foto, semuanya nggak cocok di aku." Tuturnya yang malah terdengar curhat.
"Sebenarnya ini juga sudah bagus kok untuk media promosi. Hanya saja kalau orang yang teliti sudah pasti bisa menilai kalau hasil jepretannya kurang maksimal. Tapi sekilas ok kok ini."
"Ck. Mas ini, jangan bikin bingung kenapa. Kalau ok bilang ok kalau enggak ya enggak. Jangan ngambang membingungkan kenapa." Decak Reina kesal.
Hendri tersenyum mendengarkan cerocosan Reina. "Mau aku bantu carikan yang lebih professional?β Tanya Hendri menatap Reina.
"Nggak perlu mas, aku harus bisa menyelesaikan urusan ku sendiri. Kalau di bantuin mas sama ayah terus menerus hasilnya akan instan. Aku mau menikmati semua prosesnya, meski ternyata semuanya nggak mudah." Tutur Reina yang masih fokus melihat tabletnya. Tidak sadar jika sejak tadi Hendri tidak beralih dari tatapannya.
Tanpa disadari Reina. Jika ia lebih sering membicarakan apapun tentang pekerjaannya dengan Hendri dari pada dengan ayahnya.
Jangan salahkan siapa yang nyaman dengan siap. Karena kedekatan antara Hendri dan Reina terjalin saat Reina dan Adam mulai membantu mengurus perusahaan di Malang. Hendrilah yang membimbing adik dan anak Yusuf agar cepat memahami bagaimana menjalankan dan memimpin perusahaan. Sebelum akhirnya Yusuf dan Hendri fokus untuk memimpin di kantor pusat.
Hendri menelan salivanya kasar. Ia langsung memejamkan mata mengusir pikiran yang mulai tidak baik-baik saja. Membuang nafasnya agar detak jantungnya tetap aman.
"Mas kenapa?" Tanya Reina Heran saat melihat Hendri memejamkan matanya erat.
Hendri langsung membuka matanya dan langsung bergeser posisi duduknya memberi jarak untuknya dan Reina.
"Hah." Hendri menghela nafasnya yang menyesakkan dada. "Aku harus pulang sekarang Re."
Berduaan dengan Reina seperti ini benar-benar menyesakkan dada. Sungguh menguji diri sendiri. Memilih cepat pulang adalah hal yang terbaik menurut Hendri sekarang.
"Aku tanda tangan beberapa berkas sebentar ya mas. Aku nebeng." Ucap Reina enteng tanpa tahu bagaimana raut wajah Hendri saat ini yang tengah menahan diri.
"Memangnya kamu nggak bawa mobil."
"Mobilku tadi mogok waktu antar Zen sekolah mas." Ucap Reina yang sudah mendaratkan tubuhnya di kursi kerjanya.
__ADS_1
"Lalu siapa yang mengurus mobil mu?"
"Sopir rumah mas. Aku pikir tadi ayah langsung kesini lagi setelah dari Bandung. Biar aku pulang sama ayah." Jawab Reina sambil fokus pada beberapa berkas yang harus ia bubuhi tanda tangannya.
"Aku telponkan sopir agar menjemputmu kesini." Ucap Hendri sambil mengambil ponselnya.
Mendengar ucapan Hendri barusan, membuat Reina langsung menatap Hendri.
"Tunggu mas."
Hendri langsung menghentikan jarinya yang sedang bergerak pada layar ponselnya, saat mendengar ucapan Reina barusan.
"Kenapa Re?"
"Kalau mas keberatan aku pulang nebeng mas, sebaiknya bilang langsung. Aku bisa kok pesan taksi untuk pulang ke rumah."
"Bukan begitu maksud aku Re." Ucap Hendri. Ingin menjelaskan tapi tidak mungkin. Tapi Hendri juga tidak ingin Reina marah dengannya.
Reina meredam rasa marah dan kecewanya. Reina jadi bingung dengan dirinya sendiri, kenapa harus marah dengan Hendri yang mungkin saja punya kesibukan lain.
"Maaf mas." Reina mulai berbicara dengan nada seperti biasanya. "Aku masih ada urusan dengan mbak Gita, mas pulang lebih dulu saja."
"Aku akan tunggu jika memang kamu maunya aku yang mengantar mu."
"Nggak perlu. Mas pulang saja lebih dulu."
"Serius?"
"Ya." Singkat tapi terdengar sangat yakin.
"Aku pulang dulu kalau begitu."
Hendri sudah tidak bisa menunda-nunda atau lebih lama lagi berdua bersama Reina di dalam ruangan ini. Sungguh terasa sangat sesak dan sempit walau nyatanya ruangan kerja Reina tak kalah lega dan luas seperti ruangannya.
"Hati-hati mas." Ucap Reina sambil melambaikan tangan. Hendri tersenyum, lalu mengangguk.
"Aku kenapa sih?" Gumam Reina yang bingung terhadap dirinya sendiri.
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan π₯° kasih like dan komennya π tab favorit juga ya β€οΈ