Dikira Janda

Dikira Janda
BAB 88 ASEM-ASEM SEGER


__ADS_3

"Bu Re nggak makan?" tanya Gita sambil menikmati sekotak nasi ketering, makan siang semua orang yang ada di lokasi pemotretan.


"Nggak nafsu aku mbak." Reina hanya membolak balik menu makan siang di depannya.


"Kalau ibu nggak makan nanti Ibu sakit loh Bu. Skedul kita dua bulan ke depan itu padat banget Bu. Dan saya perhatikan ibu semakin kurusan."


"Ck. Nggak hanya mbak yang bilang begini, Nda sama ibu juga bilang aku kurusan. Apa lagi Mas Hen."


"Tapi emang ibu tu kurusan loh Bu."


"Hadeeehhhh... Padahal aku nggak doyan makan nasi baru semingguan ini. Orang-orang sudah bilang aku kurusan."


"Ibu nggak makan nasi, terus makan apa Bu?" Gita jadi antusias ingin tahunya.


"Makan roti, buah, ngemil gitu lah mbak."


"Ibu nggak lagi hamil kan? Ciri-cirinya Ibu kaya temen saya waktu awal hamil." Tutur Gita.


"Ya enggak lah mbak. Seminggu yang lalu, aku dapet tamu bulanan kok. Tapi yang bikin aku galau tuh, keluarnya cuma flek. Nggak kaya bulanan biasanya." Reina jadi curhat.


"Ibu lagi ada yang di pikir ya?" tanya Gita setelah meneguk air minum.


"Sudah empat bulan aku nikah mbak, kok belum isi juga ya?"


"Ya Allah Bu... baru empat bulan Ibu sudah galau seperti ini?"


"Memang terlalu dini buat galau mbak. Tapi yang jadi masalah aku ini sudah mau 28 tahun loh mbak. Belum lagi mas Hen sudah kepala empat. Lebih malah."


"Apalah saya Bu yang sudah 31 tahun, nikah juga belum."


"Makannya tuh si Andi suruh cepat lamar mbak."


"Eh kenapa jadi ke Andi sih Bu. Ehm..." Gita menetralkan raut wajahnya yang pasti sudah bersemu. "Saya rasa Pak Hendri dan Ibu memang masih di kasih waktu berdua buat terus jadi pengantin baru dulu. Kalau sudah rezeki nggak akan kemana kok Bu "


"Betul juga."

__ADS_1


"Ibu mau apa?" bingung sendiri Gita, karena Reina menadahkan tangannya.


"Kunci mobil."


"Ibu mau kemana? Biar saya temani."


"Aku pengen makan yang asem-asem kayanya seger deh mbak." Membayangkan saja sudah membuat air liur Reina ingin mengucur deras. "Mbak disini handle semuanya ya, karna aku mau langsung pulang."


"Loh terus saya nanti pulangnya bagaimana Bu?"


Bukannya menjawab pertanyaan Gita, Reina malah menghampiri Andi yang tengah di make up. "An, nanti antar bu Gita ke rumah ku ya."


"Loh terus Ibu mau kemana?" karna setahu Andi, Reina datang bersama Gita.


"Pulang. Mobil Mbak Git aku bawa. Manfaatkan waktu sebaik mungkin An, kalau kamu nggak bergerak cepat nanti keburu di sambar orang, kapok."


"Ibu ini bicara apa sih Bu." Sungguh malunya Andi saat ini.


"Sudahlah aku mau pulang. Guys... aku pulang duluan ya." Teriak Reina berpamitan pada semua yang ada di lokasi.


"Hati-hati Bu Reina..." Ucap mereka serempak.


Reina : "Mas, cepat pulang mas. Aku butuh mas sekarang 😭😭😭Aku diruang Ayah."


Setelah membaca pesan dari sang istri, tentu Hendri dibuat khawatir. Apalagi emoticon menangis yang begitu banyak Reina kirimkan.


"Masih satu jam setengah lagi." Gumam Hendri setelah melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


Tanpa membalas pesan Reina Hendri langsung bergegas untuk pulang sebentar setelah berpamitan pada Yusuf.


Hampir setengah jam Hendri mengemudikan mobilnya, ia segera keluar dari mobil dan langsung lari memasuki rumah.


"Rere pulang kesini kan Nda?" Tanyanya saat melihat Nissa keluar satu ruang makan.


"Iya..."

__ADS_1


"Aku keatas..." Hendri langsung lari menaiki anak tangga sambil olahraga.


"Panik banget. Perasaan Rere tadi nggak kenapa-napa." Gumam Nissa yang langsung melangkah menuju kamarnya.


Klek


Hendri langsung masuk kedalam kamar dan segera menghampiri Reina.


"Hai Mas." Sapa Reina sambil melambaikan tangan.


Hendri tercengang melihat Reina yang tiduran santai sambil menonton televisi. Dan jangan lupakan buah mangga muda yang ia makan begitu saja. Rasanya air liur Hendri ingin mengucur karena ia seolah ikut merasakan rasa asam dari buah mangga. Hendri jadi bergidik sendiri.


"Sayang tadi bilang butuh aku? Ada apa?"


"Oh iya. Untung mas ingetin." Reina langsung bangun dan segera menghambur ke pelukan Hendri. Suaminya yang Duduk di tepi ranjang itu tentu mendapatkan pelukan erat darinya.


"Ada apa?" Hendri mengusap kepala Reina. Ia jadi berpikir kalau istrinya sedang ada masalah.


"Hanya ingin peluk." Ucap Reina. Ia melepaskan pelukannya dan kembali merebahkan diri. Menikmati buah mangga muda dan kembali fokus pada layar televisi.


"Hah!" tentu saja Hendri bingung di buatnya. "Sayang, Aku ini sudah panik beneran loh tadi. Aku pikir kamu kenapa-napa."


"Ya memang aku kenapa-napa kan mas. Aku kangen pengen peluk mas." Tanpa rasa bersalah Reina mengucapkan keinginannya. "Mas mau apa?" tanya Reina saat Hendri naik keatas ranjang dan langsung berada di atas tubuhnya.


"Memberikan pelajaran penting agar istri ku ini nggak jahil." Hendri langsung melepas jasnya dan langsung melemparnya.


"Uuuhhh... siapa yang menolak dengan pelajaran berharga seperti ini." Reina semakin antusias. Ia meletakkan buah mangga di piring lalu membuka kancing baju kemeja Hendri satu persatu.


"Tapi mas..." Tangan Reina keasikan meraba dada suaminya kesana sini. "Bukankah sebentar lagi waktunya mas meeting." Ucapnya. "Aku ini istri yang butuh nafkah lahir batin loh." Goda Reina.


"Rere..." Geram Hendri karena kini ia berhasil di kerjai Reina.


Bersambung...


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan πŸ₯° kasih like dan komennya πŸ’‹ tab favorit juga ya ❀️

__ADS_1


__ADS_2