Dikira Janda

Dikira Janda
BAB 100 RAHASIA


__ADS_3

"Oma akan kasih tahu Zen sesuatu."


Zen menatap wajah Wati serius. "Apa ini sebuah rahasia?"


"Betul sekali. Karena hanya Zen yang akan Oma kasih tahu tentang hal ini."


"Zen pasti bisa jaga rahasia Oma."


"Ini rahasia Oma yang tidak perlu dirahasiakan Zen." Wati mengusap puncak kepala cucu terkecilnya. "Zen tahu, sebenarnya Oma sangat merindukan Opa."


"Emmm... Opa Iman yang kata Nda sudah berada di surga?"


"Betul."


"Kata Nda dan Bu guru. Kalau kita rindu dengan orang yang sudah di surga, kita harus berdoa Oma. Jadi karna Oma rindu Opa, Oma harus berdoa untuk Opa."


"Setiap hari Oma selalu mendoakan Opa, tapi rasa rindu Oma, sekarang sudah ingin di luapkan. Oma tidak bisa menahan diri lagi walaupun sebenarnya ingin. Sepertinya tugas Oma sudah selesai."


Bocah yang umurnya akan menuju enam tahun itu tentu hanya mengangguk tanpa paham kemana arah ucapan Wati sekarang.


"Memangnya Opa itu orang yang seperti apa Oma?"


"Opa itu orang yang sangat berwibawa, tampan, punya sikap dingin namun sangat hangat terhadap keluarga, seperti ayah Zen."


"Kalau seperti ayah, Artinya masih ganteng Zen kan Oma." Ucap Zen yang hanya tertarik dengan kata tampan pada ucapan Wati tadi.


Wati terkekeh pelan. Ia menarik pipi Zen dengan rasa gemas. "Opa Iman itu tampan, makannya Ayah Zen dan om Adam juga tampan. Nah sekarang yang mewarisi ketampanan para senior itu masih Zen. Itu artinya, Zen harus berterima kasih sama Opa Iman. Karena sudah menyebar bibir ketampanan seperti ini."


"Oma dari tadi narik pipi Zen terus." Keluh Zen karena entah keberapa kalinya Wati menarik pipi Zen lagi. "Sebenarnya Zen juga punya rahasia Oma."


"Rahasia apa?"


"Tadi waktu Zen kembali kesini jemput Qia. Di depan pintu sana ada kakek berdiri sendirian, Pake baju putih Oma. Kakek itu tersenyum melihat Zen, waktu Zen mau menyapa, tapi kakek itu malah sssttt... gitu Oma." Peraga Zen sambil menempelkan jari telunjuknya pada bibir mungilnya.

__ADS_1


"Kakek itu orang baik Zen."


"Oma juga melihatnya?"


"Tentu sayang."


"Tapi sepertinya Ayah, Om dan Qia tidak melihat kakek itu Oma." Ucap Zen.


"Karena hanya orang spesial yang bisa melihat kakek itu nak."


"Ohhh..." Zen mengangguk.


"Zen harus jadi laki-laki kuat dan tangguh. Tidak boleh cengeng saat nanti orang-orang menangis. Oma titip pesan untuk kak Re ya."


"Pesan apa Oma?"


.


.


.


Yusuf di buat terkejut saat ia akan membangunkan Wati yang tidur setelah mereka solat subuh berjamaah tadi. Niatnya, ia ingin menyuapi Wati sarapan pagi tapi siapa sangka, jika yang ia lihat raut wajah bundanya yang sudah memucat dengan tubuh terasa dingin.


"Bagaimana keadaan bunda kami dok?" tanya Yusuf yang tidak sabar menunggu hasil pemeriksaan yang sedang di lakukan oleh dokter dan perawat.


.


.


.


Hendri : "Assalamualaikum Ayah." Salam Hendri setelah menerima panggilan suara dari Yusuf.

__ADS_1


Yusuf : "Waalaikumsalam. Kamu dimana Hen?"


Hendri : "Saya lagi mau beli lontong sayur Yah." Jawabnya jujur karena memang tiba-tiba saja Hendri ingin makan lontong sayur.


Yusuf : "Lalu Rere sendirian di sana?"


Hendri : "Ia yah. Saya pergi setelah Rere tertidur pulas. Karena semalaman Rere tidak bisa tidur."


Yusuf : "Cepat kembali keruang rawat Hen. Aku takut Rere terbangun dan melihat breaking news pagi ini."


Hendri yang baru sampai di parkiran mobil, tentu ia langsung lari menuju ruang rawat kembali. Setelah kabar yang ia terima dari Yusuf barusan.


Hendri sadar lari ngebut melewati lorong rumah sakit seperti ini adalah hal yang tidak benar. Tapi ia sangat khawatir kalau Reina terbangun dan melihat berita pagi ini, tanpa ada dia disana.


Klek


Baru saja Hendri akan menarik kebawah handle pintu, tapi ia kalah cepat karena kini Ia melihat Reina dengan wajah yang nampak syok tidak percaya dengan kedua mata yang sudah basah.


"Mas."


"Sayang. Kenapa kamu turun dari brankar?"


Nafas Reina sudah terasa berat. Dadanya terasa sesak hingga ia kesulitan bernafas.


"Mas. Ayo kita pulang ke Malang mas. Oma... Oma..." Reina mengatakan dengan terbata karena dadanya benar-benar terasa sesak.


"Sayang."


Tubuh Reina langsung terjatuh ke dalam dekapan Hendri. Jelas saja Reina syok dan tidak siap dengan kabar yang baru ia lihat saat menghidupkan televisi.


Bersambung...


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan πŸ₯° kasih like dan komennya πŸ’‹ tab favorit juga ya ❀️

__ADS_1


__ADS_2