
Reina langsung melepas mukena yang ia gunakan setelah menunaikan kewajibannya bersama sang suami.
"Laper nggak Re?" Tanya Hendri sambil melepas peci yang ia kenakan untuk solat.
"Lumayan. Mas laper?" Tanya Reina balik sambil menghampiri Hendri yang sudah rebahan di atas ranjang.
Ranjang yang masih di penuhi kelopak bunga yang berserakan hingga kelantai. Reina dan Hendri bahkan tidak merasa risih dengan kelopak bunga yang menghambur kemana-mana.
Hendri langsung meletakkan ponselnya setelah membaca pesan singkat. Ia langsung menarik tangan Reina agar berada di atas tubuhnya.
"Mas." ucap Reina terkejut.
"Aku punya hadiah untuk mu."
"Hadiah apa?"
"Izinkan aku untuk turun kebawah mengambil sesuatu yang ingin aku berikan padamu." Hendri menarik hidung Reina.
"Aku izinkan. Tapi jangan lama-lama." Tutur Reina dengan bicara manjanya.
"Tentu saja."
Setelah Hendri keluar dari kamar mereka, Reina langsung mengambil sesuatu di dalam lemari.
"Yang benar saja. Apa iya aku harus pake pakaian seperti ini?" Gumam Reina sambil menempelkan baju kurang bahan yang di belikan Luna.
"Emang ya, kalau senior mah suhu semua." Gumam Reina lagi saat mengingat kelakuan ibu sambungnya, Nissa.
Bisa-bisanya tanpa filter, Nissa mengajak Reina begitu saja untuk memilih pakaian kurang kain di sebuah aplikasi belanja online.
Saat Reina akan berganti baju, Bell kamar hotelnya berbunyi.
"Siapa sih?" Gumam Reina sambil menuju pintu untuk ia buka.
"Selamat malam bu, saya mengantar pesanan dari bapak Hendri." Ucap pegawai perempuan di depan Reina.
"Oh iya, silahkan." Reina membuka pintu lebar-lebar. Pegawai itu langsung mendorong meja troli yang terdapat makanan disana.
Reina kembali menutup pintu setelah petugas tersebut pergi dari kamarnya
Reina masih terpaku menatap pantulan dirinya dari kaca. Benar-benar merinding dengan pakaian yang sudah ia kenakan saat ini.
"Ngapain harus malu, toh di depan suami sendiri." Gumam Reina agar hatinya percaya diri seperti biasanya.
Reina membuka pintu balkon, Berjalan mendekati pagar. Melihat lalu lalang kendaraan yang nampak sangat ramai di jalan yang bisa Reina lihat dari ketinggian. Tentu saja, karena malam memang belum larut.
"Ini orang kemana sih." Reina mulai menggerutu karena ia sudah menunggu Hendri selama satu jam lebih.
Reina menatap langit malam yang jelas nampak menggelap, rintikan air hujan bahkan terasa saat Reina mengulurkan tangannya.
.
__ADS_1
Pelan-pelan Hendri membuka pintu kamar hotel, setelah memastikan sandi ruang kamar tesebut. Ia celingukan saat sudah memasuki ruang kamar mereka.
Hendri langsung menuju balkon, karena sudah dapat dipastikan di sanalah Reina berada.
Langkah kaki Hendri terhenti di ambang pintu balkon saat melihat penampilan Reina dari belakang. Meskipun baju kurang benang itu tidak transparan, Namun pakaian minim yang dikenakan Reina sangat jelas mencetak tubuh Reina dengan bentuknya yang sempurna. Benar-benar mampu menggugah selera yang ingin di sampaikan.
Hendri langsung melangkah lagi dan langsung mencium punggung Reina yang terpampang, karena memang rambut panjangnya Reina ikat.
Cup
Kecupan punggung yang diterima Reina tiba-tiba tentu mengagetkan sang empu yang sedang hanyut dalam lamunan.
"Mas..." Ucap Reina terkejut sambil putar badan menatap Hendri.
"Kenapa pakai baju seperti ini. Memangnya nggak dingin?" Tanya Hendri mengamati penampilan Reina lekat.
"Enggak. Mas nggak suka ya? Kalau memang nggak suka, aku ganti baju sekarang."
"Aku suka. Hanya saja jika kamu keluar seperti ini, bagaimana kalau ada yang lihat?"
"Tidak mungkin ada yang lihat mas, kita di lantai paling atas. Dan lihat, nggak ada balkon lain di sini selain kamar kita."
"Tapi bisa saja ada orang yang melihat mu menggunakan teropong dari sana." Ucap Hendri sambil menunjuk balkon yang nampak jauh dari kamarnya.
"Kurang kerjaan sekali kalau ada yang melakukan hal seperti itu mas."
"Jangan di ulang lagi ok. Hanya sekali ini saja."
"Aku suka hanya saja jangan keluar dari dalam kamar seperti sekarang ini."
Reina mengangguk paham. "Siap laksanakan." Tuturnya ambil memberi hormat.
"Tapi ngomong-ngomong Re. Aku pikir kamu tidak akan seberani ini."
Reina Terkekeh. "Mas pikir aku akan pura-pura cupu padahal aku bisa berpenampilan suhu seperti ini?" Hendri mengangguk. "Bukankah salah satu tujuan menikah untuk melakukan seperti ini dengan pasangan mereka. Nggak ada salahnya kan kalau aku goda suami aku sendiri." Ucap Reina tenang. Padahal di dalam hatinya sudah bergejolak malu-malu meong dengan diri sendiri.
Sepertinya Reina lulus di training Nissa dan juga Luna. Mengikuti saran senior sepertinya sangat penting bagi Reina.
Tangan kanan Hendri yang sejak tadi berada di belakang punggung langsung ke depan memberikan seikat bunga mawar asli untuk Reina.
"Ini untuk kamu."
Reina menerima bunganya dengan senyum cerah di wajahnya. "Terimakasih mas."
Cup
Jika kebanyakan perempuan akan mencium bunga yang telah ia terima, namun berbeda dengan Reina. Bukan bunga yang ia cium untuk ia hirup wanginya, melainkan mendaratkan kecupan pada bibir Hendri.
Hendri yang tidak menyangka dengan cara berani Reina, langsung menarik Reina agar mereka saling berpagut lagi.
Saling bercecap mesra berperan saliva. Lembut namun sangat mengga*irahkan. Semakin dalam seolah inginkan lebih.
__ADS_1
"Aku masih punya hadiah untuk mu." Ucap Hendri setelah mereka saling mengakhiri, setelah nafas mereka kembali normal lagi.
"Aku pikir mas pergi lama-lama karena mencari bunga untuk ku."
"Itu hanya untuk pembuka." Ucap Hendri sambil membalik badan Reina agar membelakanginya.
"Apa aku harus tutup mata?"
"Tidak perlu. Karena aku ingin kamu melihat saat aku memasangnya nanti."
Hendri langsung mengambil kotak kecil didalam saku celananya. Ia langsung membuka kotak kecil itu, lalu mengambil isi di dalamnya.
"HR?" Ucap Reina saat melihat inisial dua
huruf pada kalung yang tengah di pasang Hendri.
"Benar. Hendri dan Reina." Ucapnya. Hendri lalu memeluk Reina dari belakang.
"Mas bucin banget ya sama aku." Tutur Reina terkekeh.
"Benarkah?"
"Ini buktinya." Reina menunduk sambil memegang inisial HR kalung yang melingkari lehernya.
Reina sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi karena kini ia hanya bisa menutup mata saat seluruh tubuhnya merasakan desiran aneh yang tiba-tiba menjalar.
Karena kini, Hendri tengah melu*mat pelan-pelan pundak Reina sampai pada leher hingga ke telinga.
Sentuhan yang sepertinya biasa saja namun ternyata efeknya sangat luar biasa pada tubuh Reina yang tiba-tiba terasa panas.
"Mas..." Rintih Reina pelan.
Tangan Hendri tidak bisa diam, karena kini tengah meraba da*da Reina walau masih tertutup kain kurang bahan dan tentu saja pengaman kedua lembah yang Reina gunakan.
Nafas Reina terasa tercekat, memenuhi rongga dada sehingga membuatnya sulit untuk berhembus.
"Ehhh..." Rintih Reina bergetar dan tertahan.
Hendri kembali melakukan hal yang sama, Melu*mat pelan-pelan pundak sebelahnya sampai pada leher dan menyesapnya kuat. Membuat Reina merintih Karena merinding dengan perlakuan yang semakin intens.
"Kamu akan sulit tidur lelap malam ini dan malam selanjutnya. Apa kamu siapa istri?" Tanya Hendri berbisik dengan nada penuh gejolak, setelah ia mengecup mesra daun telinga Reina.
"Itu tujuan ku juga, suami." Ucap Reina pelan.
Kemudian mereka langsung...
Bersambung...
Mumet ora di gantung maneh dengan adegan yang bikin sakit kepala πππ nanti mau magrib insha Allah aku update stok babnya biar puasa kita tenang tanpa goncangan π€π€π€ kalau gak ya berarti besok magrib wkwkwkkwk.
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan π₯° kasih like dan komennya π tab favorit juga ya β€οΈ
__ADS_1