Dikira Janda

Dikira Janda
BAB 81 ZIARAH KUBUR


__ADS_3

"Bunda mau kemana?" tanya Luna saat Wati sudah masuk ke ruang makan. Wati yang berpakaian tertutup dan serba hitam.


"Bunda mau ziarah Luna." Jawab Wati sambil mendaratkan tubuhnya di kursi.


"Kenapa nggak bilang sama Adam dari semalam Bun. Biar Adam ikut Ziarah sekalian."


"Kalau nggak kita nggak usah pergi saja Pa." Usul Luna.


Karena hari libur, Semalam Qia mengajak semua orang untuk jalan-jalan ke sebuah wisata yang ada di kota Malang.


"Sayang, lain waktu saja kita liburannya ya." Tutur Adam pada Qia.


"Iya Pa."


"Eh nggak usah, kalian pergi saja. Mumpung Qia libur."


"Qia nggak apa-apa kok Oma, Qia juga mau iku Oma."


"Lain kali saja ya sayang, Oma memang ingin kesana sendiri." Ucap Wati pada Qia.


Setelah usai sarapan, Wati langsung menuju ke pemakaman dimana suami dan mbaknya, sekaligus menantu, dan cucunya disemayamkan disana.


Mobil yang di kemudikan oleh sopir itu menempuh perjalanan kurang lebih setengah jam.


Setelah sampai di lokasi pemakaman. Area makam yang memang sudah di siapkan oleh Iman, dikhususkan untuk seluruh keluarga, keturunan Iman Dzuhairi Sucipto, bersamaan disaat sang istri lebih dulu meninggal dunia, Ningsih Arumi.


Lahan pemakaman yang luas dan bersih itu masih di isi empat makam. Makam Ningsih Arumi yang berjejer dengan Iman Dzuhairi Sucipto, dan makam Erlin Naura Hidayat yang berjejer dengan makam janin yang gugur di saat kandungan berusia enam minggu, anak Yusuf dan Nissa yang keguguran kala itu.


Wati langsung membaca doa untuk semua yang sudah berpulang lebih dahulu. Setelah itu, ia menaburkan bunga di empat tempat peristirahatan.


Wati terus mengusap batu nisan sang suami, kemudian ia mengusap batu nisan mbaknya, Ningsih Arumi.

__ADS_1


"Mas, Mbak. Aku selalu berdoa untuk kalian. Aku yakin kalian sudah tenang dan bahagia di surga bersama anak menantu dan cucu kita." Wati diam. ia menatap lekat nama suaminya yang terukir jelas.


"Kedua anak kita sudah bahagia dengan kehidupan mereka masing-masing. Yusuf dan Adam, mereka sudah memberikan cucu yang lucu untuk kita." Wati menyentuh dadanya yang tiba-tiba terasa sesak.


"Tolong tunggu aku sedikit lebih lama ya mas. Aku baru merasakan kebahagiaan lagi karena melihat Rere bahagia." Wati menghembuskan nafas agar dadanya tidak terasa sesak. Mengingat akhir-akhir ini Iman selalu hadir didalam mimpinya.


"Aku masih ingin melihat cucu pertama kita di karuniai seorang anak. Dan aku masih bisa menyaksikan itu."


.


.


.


Karena hari ini hari libur, tentu saja Hendri dan Reina memanfaatkan waktu untuk berlibur. Tidak hanya berdua, tapi mereka mengajak serta Zen, Yusuf, dan Nissa.


"Ini kita ngapain sih Hen?" tanya Yusuf yang sejak tadi jalan berdua, sejajar dengan Hendri. Seperti dua lelaki matang yang jomblo.


"Kita harus minta gaji tambahan setelah ini." Tambah Yusuf.


"Ide yang bagus." Ucap Hendri.


"Tapi kita minta gaji ke siapa?"


"Ke suami mereka dong yah. Ke siapa lagi?"


Yusuf nampak berpikir sejenak. "Wes gak sido Hen."


"Ayo lah yah. Suami ibu Nissa itu orang kaya raya. Jadi kita harus minta imbalan sebanyak-banyaknya." Ucap Hendri semakin mengguraui mertuanya.


"Cut... cut... cut..." Ucap Yusuf yang langsung melangkah lebar meninggalkan Hendri. Membuat Hendri cekikikan sendiri. Merasa tidak menyangka bisa bergurau seperti ini dengan Yusuf.

__ADS_1


Setelah puas menikmati keindahan tempat wisata. Mereka langsung pergi dari sana dan menuju ke sebuah restoran untuk menambah energi yang terkuras.


"Zen laper banget nda." Adunya.


"Sabar nak. Pasti sebentar lagi pesanan kita diantar." Ucap Nissa.


"Dari tadi kakak tawarin roti buat ganjel perut nggak mau." ejek Reina.


"Roti tu nggak ngenyangin kak. Perut Zen Indonesia banget."


"Ya kalau adek nggak Indonesia banget itu perlu di pertanyakan."


"Kok gitu kak?" tanya Zen yang tumben-tumbenan gak paham.


"Ayah sama nda asli Indonesia, asli orang Jawa. Kalau adek lebih doyan roti ketimbang nasi kakak pasti curiga kalau anak nda sama ayah yang asli ketukar waktu di rumah sakit."


Nissa terkekeh dengan dengan ucapan Reina yang sengaja menggoda adiknya. Sedangkan Zen nampak diam berpikir.


"Untung Zen doyan nasi." Ucap Zen sambil mengelus dadanya karena merasa lega. "Selamat." tambahnya.


"Nissa..." Panggil seorang lelaki.


Tentu Nissa, Reina, dan Zen langsung menatap ke arah sumber suara.


"Arya." Ucap Nissa.


"Kak Arya." Ucap Reina.


Bersambung...


Ada yang inget sama Arya???

__ADS_1


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan πŸ₯° kasih like dan komennya πŸ’‹ tab favorit juga ya ❀️


__ADS_2