
Hendri menarik nafas dalam. Menatap Yusuf dengan Yakin. "Saya kesini karena permintaan Reina pak."
"Hah." Yusuf semakin tercengan mendengar jawaban Hendri. Ia menatap bu Rumi dan pak Makruf, lalu menatap Hendri. Mereka bertiga menggunakan baju batik. Terlalu formal menurut Yusuf.
Sedangkan Adam semakin menahan tawanya melihat ekspresi Yusuf saat ini. Antara percaya dan nggak percaya. Yakin dan tidak yakin dengan asumsinya sendiri. Namun Yusuf tidak mau berspekulasi, ia masih mengelak jawaban yang sebenarnya dari jawaban Hendri tadi.
Sedangkan Hendri, menjadi harap-harap cemas menatap ekspresi Yusuf yang sulit dimengerti. Jantung Hendri bekerja dengan sangat cepat. Pikirannya sudah menjadi tidak-tidak.
Yusuf berdiri dari posisi duduknya. Membuat semua orang yang ada disana menatap Yusuf.
"Rere." Panggil Yusuf dengan suara sedikit ditinggikan karena semua perempuan masih ada ruang keluarga.
"Kak Re, dipanggil ayah." Teriak Zen yang memang mendengar suara ayahnya.
Reina melangkah cepat menuju ruang tamu. Baru di ambang pintu, langkah Reina langsung terhenti. Apa lagi saat melihat disana sudah ada Hendri dan orang tuanya. Sedangkan posisi Yusuf sudah berdiri sendiri diantara yang lainnya.
Reina melangkah pelan mendekati ayahnya. Matanya melirik Hendri sejenak, ekspresi lelaki yang ia cintai juga sangat menegangkan.
"Ya Allah." Reina memejamkan matanya dan menarik nafas pelan menghilangkan kegelisahan yang tiba-tiba saja menyerang.
"Ayah panggil Rere?" Tanyanya pelan dengan suara bergetar, bahkan hampir saja tidak terdengar jika yang ditanya tuli.
Yusuf langsung menatap Reina yang tertunduk. "Kata Hendri, Rere panggil Hendri untuk datang kesini?"
Reina mengangkat wajahnya. Ia harus berani menatap Yusuf, demi kebahagiaannya sendiri. "Iya. Rere yang meminta mas Hen datang kesini." Jawab Reina lugas.
Baik Nissa, Luna, Wati, dan Jumiasih sudah ikut berkumpul juga di ruang tamu. Melihat suasana tegang yang sedang terjadi disana.
"Untuk apa?" Tanya Yusuf tegas.
Padahal Yusuf dengan jelas, sudah mengerti dan paham dengan keadaan saat ini. Hanya saja dia perlu mendengar secara langsung dari anak gadis yang sangat ia cintai.
"Bukankah ayah menyuruh Rere untuk meminta lelaki yang Rere cintai datang kesini menemui ayah dan keluarga kita? Itu yang ayah minta tadi pagi." Ucap Reina jelas tanpa keraguan sedikit pun.
Nissa mengajak semua yang sedang berdiri untuk segera duduk dan bergabung bersama yang lainnya. Reina duduk diantara Yusuf dan juga Nissa.
Yusuf menatap Hendri. Sekertaris yang sudah mengabdikan dirinya, membantu Yusuf dengan banyak hal. Menjadi orang kepercayaan Yusuf. Bahkan Yusuf lebih mempercayakan banyak pekerjaan kepada Hendri ketimbang Adam, adiknya yang bisa saja ceroboh.
Yusuf menatap bu Rumi dan pak Makruf. Sepasang suami istri dengan usia senjanya, beliau bahkan sudah Yusuf anggap seperti orang tua sendiri.
__ADS_1
Di dalam hati Yusuf ingin sekali tertawa. Bukan menertawakan bu Rumi dan pak Makruf. Namun Yusuf menertawakan kisah hidupnya yang sungguh unik.
Bisa-bisanya orang yang sudah di anggap seperti orang tua sendiri kini akan menjadi besannya. Eh... Yusuf tersadar dari lamunannya karena hanyut dengan pikirannya sendiri. Membuat semua orang disana ikut diam.
(Apa kabar bapak Yusuf, kalau nanti bakal kolaborasi dengan Arjuno dan Zantisya juga 😂😂😂)
"Hendri Artha Wijaya." Hendri terkesiap menatap Yusuf yang memanggil namanya dengan lengkap.
"Hadir pak." Mulut Hendri menjawab spontan begitu saja. Dan yang lebih mencengangkan tangan kanan Hendri terangkat keatas karena sangking groginya.
Semua orang menahan kekehan menatap wajah pucat pasi Hendri yang sudah tremor sendiri. Bahkan Yusuf ingin tertawa lepas melihat sekretarisnya yang cerdas kini berubah menjadi lemot. Namun Yusuf harus menjaga wibawanya.
"Kamu pikir aku lagi absen sekolah?"
Sumpah, malu banget Hendri dengan kebodohannya sendiri.
"Kamu benar mencintai anak gadis ku?"
Pertanyaan Yusuf bukan hanya membuat semburat merona di wajah Reina, namun Hendri juga sama. Telinga lelaki itu semakin memerah saja.
Hendri menata Yusuf, lalu menatap Reina dalam. Hendri tersenyum saat Reina menyuguhinya senyuman manis.
"Sejak kapan kamu mencintai anakku?" Mulai interogasi.
"Saya tidak tahu pak. Perasaan itu tumbuh sendiri. mungkin karena kita selalu bersama."
"Lalu kenapa tidak melamar anak ku sejak dulu. Betah sekali kamu jadi duda karatan."
"Bapak merestui kami?" Tanya Hendri butuh keyakinan.
"Memangnya sejak tadi aku belum bilang begitu?" Tanya Yusuf balik.
"Belum pak."
"Ya sudah."
"Ya sudah apa pak?"
Semua orang malah dibuat heran melihat interaksi Yusuf dan Hendri.
__ADS_1
"Ya saya aku setuju."
"Setuju apa maksud bapak?" Cecar Hendri.
"Ya aku setuju kamu menikahi anak ku." Geram juga Yusuf jadinya kan.
"Alhamdulillah." Ucap syukur semua orang yang ada disana.
"Jadi kak Re nggak jadi sama mas mas yang kemarin itu?" Tanya Zen tiba-tiba. Zen menyandarkan dagunya pada lengan sofa, tepat didekat Yusuf.
Reina membungkuk menatap adik lelaki kesayangannya. "Nggak jadi dek. Kak Re maunya sama mas mas yang ini." Ucap Reina menunjuk Hendri.
Zen langsung tersenyum dan lari memeluk Hendri. Semua orang disana menjadi Haru melihatnya. Hendri langsung memangku Zen.
"Zen suka kalau kakak Zen sama om. Soalnya om sayang sama Zen sama Ayah sama Nda sama semuanya disini. Kalau mas mas yang kemarin hanya sayang sama Kak Re, Zen nggak suka. Karena itu buat ayah Zen sedih." Tutur Zen apa adanya.
Semua orang terharu mendengar ucapan Zen barusan. Terutama Yusuf, Nissa, dan juga Reina. Mereka tidak menyangka, bocah sekecil ini begitu perasa dengan perasaan orang tuanya.
Reina mengusap air matanya yang sudah tidak terbendung lagi.
"Alhamdulillah. Terimakasih ya Allah. Engkau telah memberi ku jalan terbuka lebar untuk menemukan pasangan yang tepat untuk ku dan juga keluarga ku." Ucap Reina dalam hati.
Yusuf dan Nissa pun tak kalah haru dengan putra mereka satu-satunya. Meski Zen masih kecil, namun bocah itu bisa berfikir dewasa dengan porsinya sendiri.
Bahkan Yusuf jadi ingin tahu kapan bujang kecilnya ini tahu kalau dia sedih melihat sikap calon suami Reina saat itu.
"Karena keluarga pak Yusuf sudah menerima anak kami sebagai calon suami Reina. Maka izin kan saya memasang cincin tanda pengikat kami. Namun sebelum itu, kami meminta maaf karena kabar ini mendadak jadi kami tidak bisa membawa apa-apa selain kami sendiri yang datang dengan maksud baik." Tutur Bu Rumi.
"Tidak apa-apa bu. Kami senang ibu dan keluarga sudah datang atas undangan kami. Silahkan." Ucap Nissa.
Bu Rumi langsung beranjak. Reina langsung berdiri saat bu Rumi menghampirinya. “Bismillahirrahmanirrahim. Semoga hubungan ini langgeng dan Berkah." Ucap bu Rumi sambil memasangkan cincin pada jari manis Reina.
"Aamiin..."
"Maaf. Bu, pak. Hidangannya sudah siap." Ucap Mbok Pani memberi tahu.
"Terimakasih mbok." Ucap Nissa. "Mari kita kedalam, menikmati hidangan seadaanya." Tutur Nissa mempersilahkan.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️