
Setelah beberapa menit menerima panggilan telepon seluler, baru Hendri melajukan mobil untuk keluar dari basemen kantor.
Mobilnya langsung berhenti saat melihat Reina baru saja memasuki taksi. "Apa secepat itu urusannya dengan Gita?" Gumam Hendri. Ia langsung mengemudikan mobilnya saat taksi yang membawa Reina sudah berjalan.
Hendri mengemudikan mobilnya dengan kecepatan pelan, sore hari begini sudah pasti jalanan ibu kota mulai rapat kembali karena para pekerja sudah selesai dengan kesibukan masing-masing.
Mobil Hendri berhenti sedikit lebih jauh saat taksi yang ditumpangi Reina sudah berhenti di depan gerbang rumahnya. Seperti orang tidak sadar saja Hendri mengikuti taksi yang membawa Reina pulang kerumahnya.
"Apa yang kamu lakukan Hen?" Gumamnya pada diri sendiri. Tangannya mencengkram erat kemudi mobil karena merasa dirinya yang tiba-tiba sulit di kendalikan.
"Sadar Hen sadar. Dia anak bos kamu sendiri?" Ucap Hendri mengingatkan diri.
Hendri merasa tidak sepantasnya ia berlaku seperti ini. Berharap lebih terhadap anak Yusuf. Orang yang telah mempercayainya dalam segala hal. Memberinya pekerjaan yang sangat layak dan berperan mengangkat derajat keluarganya menjadi lebih baik. Terutama dalam segi ekonomi.
Hendri menghela nafasnya lagi dan lagi. Menghilangkan rasa sesak disaat hatinya mulai tak sadar diri. Tidak sadar status, siapa dia dan siapa perempuan yang membuatnya jadi seperti ini.
Hendri langsung memutar balik mobilnya, akan lebih baik ia pulang untuk menenangkan dirinya sendiri.
.
.
.
"Assalamualaikum." Salam Reina saat memasuki rumah.
"Waalaikum salam." Jawab mak Saroh, salah satu kepala asisten rumah tangga yang mengurus semua pekerjaan dirumah ini.
"Zen dimana mak?" Tanya Reina. Karena biasanya saat ia pulang seperti ini, Zen langsung lari menuju kearahnya.
"Mas Zen sedang mandi sama ibu, mbak."
"Tumben banget jam segini baru mandi." Gumam Reina. "Ya sudah mak, Rere keats dulu."
"Enggeh mbak."
Reina langsung masuk ke lift menuju lantai atas. Malas naik melalui tangga karena rasa lelahnya, walau itu hanya satu lantai saja.
"Adeeekkk..." Teriak Reina yang tiba-tiba masuk kedalam kamar Zen.
"Astaghfirullah adzim kakak..." Pekik Nissa sambil mengelus dadanya. Benar-benar di buat kaget dengan keusilan anaknya yang sudah dewasa. Dan seumuran lebih tepatnya.
__ADS_1
"Ye kasian deh mau kagetin Zen kan." Ejek Zen.
"Ih katanya sudah besar, pengen punya adek perempuan, kok mandi masih sama nda." Mulai usil Reina kalau sudah sama Zen.
"Kak." Ucap Nissa memberi peringatan. Kan anak gadisnya ini sudah tahu kalau ia dan ayahnya sudah sepakat tidak akan punya anak lagi.
Reina hanya senyum-senyum tanpa rasa berdosa. Karena ia memang ingin sekali punya adik perempuan. Tabiat yang sama seperti Zen.
"Zen mandi sendiri kok, nda cuma lihatin Zen. Padahal Zen sudah bisa tanpa nda lihatin kak." Antara membela diri dan mengadu, rasanya sulit di bedakan dari ucapan Zen barusan.
"Coba cepat ganti baju sendiri, kakak mau lihat. Beneran bisa apa enggak." Tantang Reina yang ikut duduk di tepi ranjang Zen. Tepat disisi Nissa berada.
"Nggak boleh lihat." Tutur Zen yang masih terlilit handuk.
"Ayo nda kita keluar, kata Zen nggak boleh lihat." Ucap Reina menarik tangan Nissa agar keluar dari kamar Zen.
"Nggak boleh gitu kak, nanti kalau Zen butuh pertolongan siapa yang mau nolongin."
"Ya tolongin diri sendiri, kan katanya sudah besar."
Nissa hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kedua anaknya cekcok masalah sepele. Mau heran tapi ini sudah menjadi tontonannya sehari-hari.
"Sudah sana kak mandi. Adek juga cepat ganti baju, tadi katanya mau ikut ayah." Nissa mulai menengahi kedua anaknya yang akan panjang urusannya kalau tidak segera dihentikan.
"Dasar bocah." Ucap Reina mengacak-acak rambut Zen yang masih basah. Ia langsung keluar Dari sana.
Setelah Nissa selesai membantu anak laki-lakinya berganti baju, Nissa langsung menuju kamar Reina setelah Zen turun untuk pergi bersama ayahnya.
Klek
"Nda boleh masuk enggak kak?" Tanya Nissa setelah membuka pintu. Sebenarnya untuk apa juga Nissa bertanya kalau tadi saja ia tidak mengetuk pintu terlebih dulu.
"Boleh dong nda."
Nissa langsung masuk setelah diberikan izin. Mendekati Reina yang tengah tidur tengkurap di atas ranjang sambil memainkan ponselnya.
"Kok nggak cepet mandi?" Tanya Nissa setelah mendaratkan tubuhnya di tepi ranjang.
"Masih balas pesannya mbak Gita nda." Jawab Reina masih fokus dengan ponsel pintarnya.
"Lancar pekerjaan hari ini?" Tanya Nissa. Ia selalu menanyakan keadaan putri sambungnya setiap kali Reina sudah pulang bekerja.
__ADS_1
Reina langsung meletakkan ponselnya. Bersyukur sekali ia memiliki ibu sambung dengan paket komplit seperti Nissa. Padahal umur mereka setara. Nissa yang selalu berperan tepat menjadi ibu, tidak pernah pilih kasih walau Zen lah yang jelas anak kandungnya, menjadi teman dan sahabat bagi Reina. Menjadi tempat keluh kesah saat Reina ingin mencurahkan segala isi hatinya.
Reina pindah posisi tidur dipangkuan Nissa. "Hanya sedikit masalah nda, tapi tenang saja. Masih bisa dikendalikan kok."
Jika seperti ini ucapan Reina itu artinya Nissa tidak perlu mengulik lebih dalam apa yang sedang menjadi masalah Reina sekarang. Nissa yakin Reina bisa mengatasinya sendiri.
"Ayah tadi beli serabi dari bandung. Nda simpan di meja makan. Cepat mandi sana." Tutur Nissa. Ia tahu Reina suka dengan makanan tradisional itu.
"Rere tadi sudah makan serabi di kantor nda." Jawab Reina santai sambil menikmati usapan tangan Nissa di kepalanya.
"Dari siapa?"
"Mas Hendri."
"Loh, kok kakak minta punya mas Hendri sih kak. Kata ayah tadi mas Hendri itu mau kasih ke pacarnya." Terang Nissa sesuai dengan info yang didapat dari Yusuf.
"Tapi memang Rere tadi yang minta di belikan mas Hendri." Reina langsung bangun menatap Nissa. "Oh pantas saja nda, tadi waktu habis antar serabi mas Hendri mau cepat-cepat pulang."
Nissa sudah menatap lain setelah mendengar penuturan Reina barusan. Karena ada yang menjadi garis besar bagi Nissa dalam penuturan Reina barusan.
"Terus?" Tanya Nissa singkat namun sangat penasaran.
"Ya mana Rere tahu kalau mas Hendri sudah punya pacar, Ya Rere ajak masuk ke dalam ruangan Rere karna tadi Rere mau minta pendapat tentang masalah brand nya Rere nda."
"Lalu." Nissa semakin penasaran.
"Mas Hendri kenapa manut-manut saja kalau memang mau nemuin pacarnya. Aduh nda, Rere jadi nggak enak hati karna sudah nahan mas Hendri pergi. Padahal kalau mas Hendri bilang terus terang, Rere nggak akan minta pendapat mas Hendri tentang kerjaan Rere." Tutur Reina menjelaskan.
"Ya sudah kakak cepat mandi sana."
Reina mengangguk. "Rere mandi dulu ya nda."
Reina langsung beranjak menuju kamar mandi setelah mendaratkan sebuah kecupan di pipi Nissa.
"Apa iya perempuan itu Rere. Tapi kata Rere mas Hendri ingin cepat pulang kan?" Gumam Nissa. Setelah mengingat obrolannya tadi bersama Yusuf.
Bersambung...
Malam baru update, maaf ya jika bab ini lolosnya besok pagiπ
Marhaban ya Ramadhan, mohon maaf lahir dan batin π selamat menjalankan ibadah puasa untuk satu bulan ke depan bagi kita semua yang menjalankan π₯°
__ADS_1
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan π₯° kasih like dan komennya π tab favorit juga ya β€οΈ