Dikira Janda

Dikira Janda
BAB 26 MEMANFAATKAN WAKTU


__ADS_3

"Hen..." Panggil Yusuf sambil membuka lebar-lebar pintu ruang kerja Hendri.


Hendri dan Reina menjadi saling rapat membuat mereka berpelukan di belakang pintu. Tangan mereka juga spontan saling menutup mulut satu sama lainnya agar tidak bersuara. Seperti pasangan selingkuh yang takut kepergok.


"Hen..." Panggil ulang Yusuf.


Reina menyusupkan wajahnya pada dada Hendri. Membuatnya menghirup aroma wangi dari tubuh lelaki yang kini memeluknya.


"Loh Sekretaris sontoloyo terahno. Iso-isone bose di tinggal mangan awan disek an." Gerutu Yusuf kemudian menutup pintu ruang kerja Hendri kembali.


Reina tetap memeluk Hendri erat, walau dekapan tangan Hendri sudah merenggang memeluk Reina.


Seperti terasa terhipnotis oleh wewangian yang di gunakan Hendri. Hingga membuat Reina tidak menyadari kalau ayahnya sudah pergi dari sana.


"Re." Panggil Hendri dengan suaranya yang berat. Posisi mereka kini memang terlalu inten untuk pertama kalinya.


Reina mengangkat wajahnya. Membuat dagunya seolah tertancap pada dada hendri. Menatap lelaki yang jaraknya sangat dekat tanpa jarak.


"Iya." Suara Reina pelan. Karena masih mengira kalau disana masih ada ayahnya.


Hendri mengusap wajah Reina. Nafasnya tercekat, tertahan di rongga dada. Menyesakkan ketika tersulut rasa ingin melakukan hal yang lebih dari ini.


Seolah siap dengan tindakan yang akan Hendri lakukan padanya. Reina langsung memejamkan mata saat Hendri mendekatkan wajahnya.


"Apa aku harus memiliki mu dengan cara yang tidak benar seperti ini?" Batin Hendri saat melihat bagaimana mata Reina terpejam. "Jika aku tidak sadar diri, habis kau Re." Batin Hendri lagi.


Reina langsung membuka kedua matanya saat tidak ada hal yang terjadi. Tapi nafasnya terasa berperang dengan nafas orang yang masih erat ia peluk.


Kedua mata Reina langsung terbelalak saat menyadari jarak wajahnya dengan Hendri begitu dekat. Hanya tinggal menjinjit saja, bibirnya sudah menempel pada milik Hendri.


"Sadarlah. Aku bukan Bayu." Ucap Hendri pelan.


Mendengar ucapan Hendri barusan, Reina langsung merenggangkan pelukannya dan mundur dua langkah untuk memberi jarak pada tubuh mereka yang sejak tadi rapat.


"Mas pikir aku perempuan apaan." Kesal Reina marah.


"Aku tidak memikirkan apa-apa."


"Aku masih tahu batasan mas. Aku dan Bayu hanya sekedar bergandengan tangan. Kami bahkan belum pernah berpelukan apa lagi sampai ciuman." Ucap Reina jujur tanpa dapat di cegah lagi ucapannya.


"Benarkah?"


"Mas nggak percaya?" Tataan Reina semakin tajam karena Hendri sedang meragukan apa yang ia ucapkan.


"Mungkin." Ucap Hendri santai sambil memutuskan pandangan mereka berdua.


"Apa mas perlu bukti?" Tanya Reina.

__ADS_1


Hendri tersenyum dan menatap Reina lagi. "Bukti?"


"Iya."


"Lalu apa aku harus memelukmu lagi dan langsung mencium mu untuk membuktikan ucapan mu sendiri?*


"Eh..." Kini Reina sadar dengan ucapannya sendiri. Wajahnya langsung memerah karena rasa panik dan malu yang hadir selama bersamaan.


"Mau kemana?" Hendri langsung mencekal lengan tangan Reina saat berbalik dan akan membuka pintu.


"A... aku mau kembali keruangan ku." Tutur Reina gugup.


Hendri langsung menarik tubuh Reina cepat. Dan langsung memeluk Reina kuat. Biarlah dia melakukan hal konyol yang jelas salah. Hendri ingin memanfaatkan waktu yang tidak akan pernah terulang lagi seperti ini.


"Mas, Lepas."


"Sebentar saja." Ucap Hendri pelan saat Reina mencoba melepaskan diri. Pelukan Hendri semain kuat saat Reina tidak melawan lagi. Mencoba menyalurkan seluruh perasaan yang di punyai Hendri selama ini.


Hendri langsung merenggangkan pelukannya. Mengusap wah Reina yang menatapnya tak terbaca.


"Hari ini adalah hari terakhir kamu bekerja kan?" Reina hanya mengangguk mendengar pertanyaan Hendri. "Persiapkan dirimu. Aku berharap, kamu hidup bahagia dengan lelaki pilihanmu."


Reina langsung keluar dari lift saat pintu terbuka. Lantai dimana ruang kerjanya berada. Kaki Reina masih terasa bergetar sejak ia keluar dari ruangan kerja Hendri. Reina masih tidak percaya dengan ucapan Hendri terakhir kali. Sama sekali tidak bertindak untuk merebutnya walau ia sudah sangat siap.


"Ibu di dalam ada pak..."


Gita yang tidak ingin menambah masalah baru langsung membawa Reina keruang kerjanya dan langsung menguncinya. Mereka duduk berdampingan di sebuah sofa yang ada disana.


"Kalau mau cerita. Akan saya dengarkan bu." Reina tidak merespon ucapan Gita.


"Re." Panggil Gita.


Reina menarik nafasnya dalam. Mencoba menenangkan perasaannya yang kacau hari ini.


"Kenapa mas Hen mengatakan perasaannya setelah aku sejauh ini mbak?"


"Mungkin karena kamu hanya menganggap pak Hendri sebagai saudara Re. Membuatnya tidak percaya diri untuk melangkah jauh."


Reina mengingat semua kenangan yang ada. Ia memang selalu dengan bangganya mengatakan pada siapapun kalau Hendri adalah saudaranya.


"Sebelum janur kuning melengkung, sebaiknya pikirkan lagi semuanya Re. Akan ada banyak orang yang tersakiti dengan perasaan mu yang seperti ini."


Tok... tok... tok...


Reina dan Gita langsung menatap pintu ruang kerja Gita saat mendengar suara ketukan pintu.


"Itu pasti pak Bayu."

__ADS_1


"Hah. Bayu kesini mbak?" Reina benar-benar terkejut sekarang.


"Iya. Sudah sejak tadi, aku bilang kalau bu Reina sedang menemui pak Yusuf."


"Aduh bagaimana ini, mata ku pasti bengkak dan merah." Reina langsung menuju kamar mandi untuk segera mencuci wajahnya yang basah bekas air mata.


Klek


"Ini sudah jam makan siang kenapa Reina belum turun Juga Git?" Tanya Bayu yang mulai lelah menunggu Reina sejak tadi.


"Eh itu... em..." Bingung Gita mau jawab apa. Lanjut bohong tapi takut tiba-tiba Reina keluar dari kamar mandi.


Gita dan Bayu bersamaan melihat kearah suara pintu kamar mandi yang terbuka.


"Kok kamu disini yang?" Tanya Bayu yang langsung masuk melewati Gita begitu saja.


"Eh, aku tadi setelah dari atas langsung keruangan mbak Gita. Maaf menunggu lama."


Bayu menatap lekat wajah Reina. Mata calon istrinya yang nampak sembab kini menjadi perhatiannya.


"Kamu habis nangis yang?"


"Eh, Aku lagi sakit mata yang. Jangan tatap aku nanti kamu ketularan." Ucap Reina sambil menutup matanya akting.


Bayu merasa janggal dengan penyataan Reina. Tapi dia mencoba untuk percaya saja. "Ayo kita keluar. Perpisahan sebelum besok mulai di pingit."


"Kita makan di kantin kantor saja ya. aku sudah lapar." Bohong Reina karena enggan di ajak keluar jauh-jauh hanya untuk makan.


"Ok."


Setelah Reina mengambil kaca mata untuk menguatkan akting sakit matanya. Ia dan Bayu langsung turun ke lantai dasar dimana kantin berada disana.


Reina dan Bayu langsung mencari kursi kosong. Karena memang karyawan masih nampak ramai disana.


"Re, Bayu. Sini gabung sama ayah." Tawar Yusuf yang berdiri memanggil anak dan calon mantunya.


Reina mengangguk tanpa memperhatikan siapa yang duduk di depan ayahnya. "Ayo yang kita makan semeja dengan ayah saja."


"Ok." Meski sebenarnya enggan karena Bayu ingin berdua saja. Tapi ia lebih menurut saja.


Kaki Reina berhenti sejenak saat sudah dekat dengan meja makan dimana ayahnya berada. Melihat sosok lelaki yang tadi memeluknya erat. Memberi kenyamanan yang tidak bisa Reina ungkapkan.


Sedangkan Bayu hanya bisa menghela nafas saat tahu disana bukan hanya ada calon mertuanya. Tapi juga ada Hendri. Lelaki yang sangat ia tandai, takut kalau-kalau merebut Reina darinya.


Bersambung...


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan πŸ₯° kasih like dan komennya πŸ’‹ tab favorit juga ya ❀️

__ADS_1


__ADS_2