
Semua orang sudah menikmati menu sarapan pagi ini. Tidak ada pembicaraan diantara mereka berlima. Hanya suara sendok dan piring yang menemani keheningan di ruang makan.
"Om. Zen nggak minta traktir." Ucap Zen yang sudah lebih dulu menghabiskan seporsi sarapannya.
"Lalu bos kecil ingin apa?" Tidak mungkin Zen begitu saja membatalkann sebuah kesepakatan. Kecuali ada hal lain yang ingin didapatkan sebagai gantinya.
"Nda. Bolehkan Zen ikut om Hendri pulang. Zen ingin lihat kelinci nenek." Pintanya.
Ternyata benar kata pepatah, rumput tetangga memang nampak terlihat lebih hijau. Menarik. Padahal Yusuf sampai membuatkan kandang kelinci, kucing, burung, kura-kura, ikan di akuarium dan entah apa yang ada di bagian belakang rumah. Apa yang Zen minta sudah dituruti. Tapi setelah itu, hanya menambah karyawan dirumahnya khusus untuk mengurus hewan-hewan itu.
"Dirumah juga ada kelinci Zen." Ucap Yusuf.
"Lagi pula, kalau Zen ikut kesana nanti mengganggu istirahat om Hendri, kakek dan nenek Zen." Tambah Nissa setuju dengan Yusuf yang sepertinya tidak mengizinkan Zen ikut Hendri.
"Kan kalau hewan dirumah setiap hari sudah Zen lihat nda." Masih berusaha agar mendapat izin.
"Iya cuma adek lihat saja, tapi tidak pernah tuh adek kasih makan kelincinya." Tambah Reina.
Zen yang merasa tersindir hanya cengengesan saja.
"Nggak apa-apa kok pak, bu. Kalau Zen ingin ikut saya pulang. Bapak dan ibu saya pasti senang kalau Zen kesana."
"Tuh nda, Yah. Nenek sama kakek tuh senang kalau Zen main kesana."
"Wes to Hen, Hen. Ndang rabio (Sudahlah Hen, Hen. Cepat nikah)." Ucap Yusuf yang tidak habis pikir dengan Hendri yang tidak kunjung menikah juga. Padahal kalau di bandingkan, durasi duda Yusuf dan Hendri jelas masih lamaan Yusuf sebelum akhirnya Yusuf menikahi Nissa.
"Iya pak."
"Sudah dikenalkan dengan Tasya malah jadi partner bisnis. Setelah jadi duda kamu nggak belok kan Hen?"
"Astagfirullah. Ya enggak lah pak, saya masih normal." Bela diri Hendri.
"Apa mbak Tasya yang waktu itu?" Batin Reina jadi penasaran.
Sedangkan Hendri merasa dejavu dengan ucapan Yusuf barusan. Teringat dengan ucapan seorang gadis yang mengiranya seorang g*y.
"Padahal sebelum aku kenalkan dengan Tasya, Hendri ini sudah aku kenalkan sama anak rekan bisnis ku loh nda. Masih gadis ting-ting, usianya sudah 32 tahun. Tapi tetap saja Hendri nggak mau." Cerita Yusuf pada Nissa.
"Ini bertiga kenapa nggak pada peka sih." Batin Nissa melihat Yusuf, Reina, dan Hendri bergantian.
Saat itu Nissa ingin mengatakan tentang Hendri dan Reina karena merasa berjalan sendiri menyadarkan Reina sepertinya Nissa tidak bisa. Akan lebih baik melakukan bersama-sama dengan suaminya. Tapi, Reina lebih dulu menceritakan soal Bayu pada Nissa dan Yusuf. Membuat Nissa Tidak jadi mengatakan apa yang mengganjal di hatinya. Apa lagi melihat wajah senang Yusuf saat mengetahui anak perempuan mereka akhirnya memiliki kedekatan dengan lawan jenis. Dan yang pasti memikat hati Reina.
Nissa menghela nafasnya. "Mungkin perempuan yang ayah kenalkan itu adalah perempuan yang bukan disukai mas Hendri."
Yusuf langsung melihat Hendri setelah meneguk air minum. "Memang perempuan seperti apa yang kamu suka Hen?"
__ADS_1
"Saya akan mencoba untuk berkenalan lebih jauh dengan Tasya agar lebih dekat lagi pak." Ucap Hendri.
Mendengar hal itu, spontan saja Reina menatap Hendri. Namun Hendri benar-benar mengabaikannya. Tidak melirknya walau sedetik saja.
"Jadi ini Zen boleh nggak ikut om Hendri?" Tanya Zen yang sejak tadi hanya menjadi pendengar pembicaraan orang dewasa.
"Boleh sayang." Ucap Nissa sambil mengusap pucuk kepala anaknya.
"Kak Re mau ikut juga nggak?" Tawar Zen.
"Ma..."
"Kak Re ada janji sama mas Bayu Zen." Potong Hendri. Ia sangat paham jika Reina pasti akan mengatakan apa yang tidak ingin Hendri dengar.
"Jadi mau keluar sama Bayu hari ini kak?" Tanya Yusuf.
"Iya ayah." Dengan terpaksa Reina menjawab. Padahal ia memang tidak ada janji dengan Bayu hari ini.
"Kenapa aku seegois ini." Batin Reina karena merasa tidak rela.
.
.
Meski sangat ingin memiliki seorang cucu dari anak semata wayang mereka, namun hal itu tidak membuat mereka egois untuk meminta Hendri segera menikah lagi.
"Zen, om ada janji sama tante Tasya mau ikut nggak? Bila juga ikut." Tawar Hendri setelah ia sampai di halaman belakang rumah. Hendri berharap jika Zen mau ikut bersamanya.
"Zen mau disini sama kakek sama nenek saja om." Jawan Zen cepat tanpa pikir panjang.
Jawaban Zen barusan membuat wajah kedua orang tua Hendri sangat senang. Melihat hal itu membuat Hendri selalu merasa bersalah.
"Maafkan Hendri pak, bu." Batin Hendri.
Sepenuhnya Hendri pun menyadari keinginan kedua orang tuannya. Namun Hendri juga tidak bisa memaksakan kehendaknya. Hatinya ingin mengkuti saran yang di berikan Yusuf. Tapi bagaimana mungkin ia bisa berpaling dari nuraninya yang memang mencintai perempuan dengan kediamannya selama ini. Membuat Hendri juga sulit membuka hati untuk orang lain.
Hendri menghela nafasnya. "Apa aku harus mencoba saran pak Yusuf?" Batinnya. "Pak, bu. Hendri keluar dulu."
"Iya. Hati-hati ya nak."
Hendri langsung keluar dari rumah dan langsung mengendarai mobil untuk segera menuju di sebuat tempat, dimana ia dan Tasya sudah membuat janji disana.
Sesampainya di sebuah parkiran restoran, Hendri langsung keluar dari mobilnya.
"Hai mas."
__ADS_1
Hendri langsung menoleh. "Hai." Tak disangka Hendri jika ia dan Tasya bersamaan memarkir mobil mereka.
"Salim sama om sayang." Perintah Tasya pada anaknya, Nabila.
Hendri langsung menggendong Nabila setelah mereka bersalaman.
"Zen nggak ikut?" Tanya Tasya.
"Sudah aku ajak, tapi nggak mau."
"Bila kira tadi Zen mau ikut om."
Mereka langsung melangkah menuju pintu utama restoran. "Zen lagi asik main sama nenek sama kakek sayang."
"Padahal Bila ingin main sama Zen om."
"Lain kali om ajak Bila main sama Zen ya."
"Serius om."
"Tentu cantik."
Langkah Hendri tiba-tiba berhenti saat Tasya menarik bajunya. "Kenapa?" Tanya Hendri menengok kearah Tasya.
"Reina." Gumam Tasya pelan.
Hendri yang sejak tadi tidak memperhatikan sekitar karena asik berbincang dengan Nabila, langsung melihat ke depan. Matanya melihat sosok Reina dan Bayu Bergandengan tangan, akan memasuki restoran juga.
"Kenapa aku seperti ketahuan selingkuh sih." Batin Reina saat sadar tiba-tiba ia melepaskan gandengan tangannya dengan Bayu.
"Ayo masuk." Ajak Hendri sambil menggandeng tangan Tasya. Tasya yang memang paham dengan perasaan Hendri hanya diam tanpa complain sedikit pun.
"Kenapa tiba-tiba lepasin tangan aku Rei?" Tanya bayu yang tidak terima dengan cara Reina barusan.
"Aku... aku hanya terkejut saat mas Hendri menggendong Nabila dan tidak ada Zen bersamanya." Tutur Reina mencari aman.
"Memangnya Zen pergi dengan dia?" Tanya Bayu sambil menggandeng tangan Reina kembali. Melangkah bersama memasuki Restoran untuk mencari meja yang masih kosong.
"Iya."
Bersambung...
Sudah ada grup chat yaπ€ yang mau gabung langsung masuk grup ya β€οΈ
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan π₯° kasih like dan komennya π tab favorit juga ya β€οΈ
__ADS_1