Dikira Janda

Dikira Janda
BAB 34 ANAK HARAM


__ADS_3

Reina menatap satu persatu dari lima orang yang kini sudah berdiri di depannya. Semuanya menundukkan wajah, karena baru kali ini menatap secara dekat anak perempuan pimpinan perusahaan. Reina beranjak dari kursi kerjanya.


"Jadi siapa diantara bapak-bapak ini yang telah menerima suap dari seseorang, untuk menghapus jejak rekaman di ruangan saya?"


Tidak ada yang menjawab dari kelima lelaki yang masih betah berdiri tersebut. Membuat Reina semakin kesal karena suasana diruang kerjanya tetap sunyi tanpa sebuah jawaban.


"Mbak Git, blacklist nama-nama mereka, karna setelah ini aku mau merek kesulitannya mencari pekerjaan."


"Baik bu."


bruk...


Dua orang diantara tiga orang lainnya ambruk begitu saja. Mereka jelas sadar, jika keluar dari perusahaan ini dengan cara tidak terhormat, maka jangan harap mereka bisa mencari pekerjaan yang sesuai dengan yang mereka mau saat berada di perusahaan Yusuf.


Reina tersenyum. "Berapa uang yang kalian terima dari Bayu?"


"Sepuluh juta Bu." Jawab keduanya serentak.


"Jadi masing-masing kalian mendapatkan uang sepuluh juta?"


"Tidak Bu, uang sepuluh juta di bagi dua orang untuk kami." Jawab mereka pelan.


Reina benar-benar dibuat tercengang dengan jawaban yang baru saja di dengarnya.


"Kalian mempertaruhkan kepercayaan perusahaan hanya demi uang yang tidak seberapa?"


"Maafkan kami Bu, kami khilaf."


"Apakah orang khilaf bisa menghapus jejak rekaman dengan sangat rapih seperti ini. Mbak Gita, sampaikan ke bagian HRD untuk dua orang ini di beri pesangon hari ini juga."


"Baik bu."


"Ibu, tolong maafkan kami bu. Beri kami kesempatan satu kali lagi bu. Kami berjanji akan bekerja dengan sepenuh hati dan tidak akan pernah melakukan kebodohan lagi Bu." Ucapnya.


"Kalau kami di pecat kami mau kasih makan apa untuk istri dan anak-anak kami bu."


"Kalian mengingatkan saya dengan hal itu, lalu apa kalian tidak memikirkan saya? seorang anak yang masih merangkak mewujudkan cita-cita membangun usahanya sendiri? asal bapak-bapak tahu, yang di ambil Bayu dari ruang kerja ini adalah rancangan ku. Hasil ku setiap tengah malam terbangun dan mendesain itu." Reina mengungkapkan emosinya.


Itulah kenapa setiap habis subuh Reina selalu tidur lagi. Karena setelah ia melakukan solat malam, maka Reina akan mencicil ide ide yang datang begitu saja di kepalanya.


Reina bukan seorang pendendam. Ia selalu dengan mudah memaafkan kesalahan orang lain. Maka saat hatinya lemah jika sudah di sangkut paut kan dengan keluarga. Reina akan begitu saja memaafkan orang lain. Memberikan kesempatan tidak ada salahnya, namun cukup sekali. Yang pertama dan yang terakhir.


Kini mobil Reina sudah memasuki basemen apartemen DS Grup. Ia langsung keluar dari mobil untuk segera menuju lift agar segera sampai dimana letak lantai tujuannya kini.

__ADS_1


Reina menekan bel beberapa kali, setelah sampai di salah satu kamar apartemen.


"Siapa kamu?" Tanya Reina saat melihat seorang wanita dengan penampilan awur-awuran muka bantal yang membukakan pintu. Reina melihat perempuan didepannya dari atas ke bawah. Tubuhnya ditutupi menggunakan selimut. Dan yang lebih membuat matanya membulat adalah dari leher dan dadanya terdapat jejak-jejak percintaan.


"Kamu nggak salah jadwalkan. Dari jam sembilan malam sampai nanti jam delapan pagi itu masih jadwal ku, cepat pergi sekarang. Kembalilah setelah jam 8 nanti. Itu pun kalau dia tidak bekerja."


Reina langsung menahan pintu yang akan kembali di tutup. Reina langsung masuk setelah mendorongnya cukup kuat.


"Hei. Sudah ku bilang untuk pergi tu ya pergi." Bentaknya.


"Diam."


"Ribut-ribut apa sih yang?" Tanya Bayu yang keluar hanya menggunakan segitiga Bermuda. "Reina."


Reina yang sadar Bayu tidak menggunakan pakaian dengan benar itu langsung balik badan. "Cepat gunakan pakaian mu, aku mau bicara."


"Apa dia Reina yang sering di sebut Bayu saat bermain dengan ku?" Batin perempuan yang menatap penampilan Reina dari atas kebawah. "Cantik."


"Kamu masuk sana." Perintah Bayu pada perempuan penyalur hasratnya.


"Aku sudah menunggu hal ini, kamu pasti kangen kan sama aku kan Rei?"


"Apa ini kelakuan kamu setiap malam?"


"Alasan. Kalau memang dasarnya breng*sek ya breng*sek saja. Kenapa bawa nama ku untuk di jadikan alasan."


Kini Reina paham, kenapa Bayu tidak mau mampir ke rumah setelah membawanya keluar agar cepat pulang.


"Nggak apa-apa breng*sek asal aku gak munafik."


"Kamu jual pada siapa rancangan yang kamu ambil di ruang kerja ku?"


"Aku nggak mengambilnya." Elak Bayu.


"Aku masih punya bukti untuk menuntut mu jika kamu tidak segera mengakui di media kalau itu rancangan ku."


"Jual beli sudah di lakukan Reina. Uang pun sudah ku pakai. Mana mungkin aku membatalkannya."


"Jadi kamu mengakui telah mencurinya dari ruang kerja ku."


"Aku butuh uang Rei."


"Untuk apa? untuk bayar lon*te?"

__ADS_1


"Kamu cemburu kan?"


Mendengar ucapan Bayu barusan membuat Reina ingin melempar sepatunya pada kepala Bayu agar cepat sadar.


"Mulai hari ini, kamu aku pecat Bayu."


"Mana bisa begitu. Kamu mengontrak ku selama 3 tahun ke depan Rei."


"Aku akan bayar denda pembatalan kontrak. Dan jangan lupa, hari ini juga cepat tinggalkan apartemen ini."


"Apa-apaan ini Rei. Ini apartemen ku, tempat tinggalkan ku."


"Tapi apartemen ini menggunakan nama ku karena kamu belum melunasinya."


"Tapi aku sudah bayar setiap bulannya."


"Aku akan ganti uangnya." Ucap Reina tegas. Ia langsung balik badan ingin segera pergi dari sana.


"Dasar anak haram." Hina Bayu membuat langkah Reina berhenti. Tangan Reina pun tidak jadi membuka pintu dan langsung balik badan menatap Bayu dengan benci.


"Kamu pikir aku apa. Ba*bi, Anji*ng sampai mengatai aku anak haram hah." Reina benar-benar tidak terima.


"Yang jelas kelakuan ayah dan bunda kamu yang seperti ba*bi dan anji*ng Makanya bisa lahir anak haram dan akibat dosanya bunda kamu matikan."


Plak...


Reina menampar Bayu dengan seluruh tenaganya yang ada. Seluruh emosi yang ingin ia ledakan.


"Kamu boleh hina aku sesuka hati kamu, tapi Jangan pernah hina orang tua ku apa lagi bunda ku yang sudah tiada." Tutur Reina sambil mengusap air matanya yang membasahi pipi.


"Dasar anak haram. Berani sekali kamu nampar aku."


"Lelaki kok mulut kamu lemes ngelewatin perempuan. Aku tidak bisa memilih dengan cara apa aku bisa lahir ke dunia ini, aku juga tidak bisa menyalahkan kedua orang tua ku. Toh yang pasti mereka saling tanggung jawab tidak membunuh ku saat aku hadir di rahim bunda ku. Ayah ku tanggung jawab sampai membesarkan aku, memberikan pendidikan yang layak." Reina tersenyum sinis.


"Aku jadi ingin tahu, bagaimana respon keluarga kamu di kampung saat tahu kelakuan asli anaknya seperti ini. Mengatai orang anak haram tanpa berkaca diri kalau kelakuannya bej*at."


"Kamu ngancam aku Rei?"


"Menurutmu?"


Bersambung...


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan πŸ₯° kasih like dan komennya πŸ’‹ tab favorit juga ya ❀️

__ADS_1


__ADS_2