Dikira Janda

Dikira Janda
BAB 114 NASI GORENG


__ADS_3

Hendri menarik nafas saat baru saja tubuh istrinya menghilang dibalik pintu kamar yang kini mereka tempati. Hendri sadar letak kesalahannya, tapi tidak dapat dipungkiri kalau saat bertemu Marisa tadi, memang membuat Hendri terkejut karena tidak menyangka bisa bertemu dengan mantan istrinya.


Hendri segera masuk kedalam kamar, tak lupa juga ia menguncinya. Hendri duduk ditepi ranjang menunggu sang istri yang terdengar masih dikamar mandi, karena suara air terdengar dari dalam sana.


Reina tetep tak menganggap adanya Hendri yang duduk di tepi ranjang. Ia langsung menuju lemari untuk mencari baju daster yang sudah pasti lebih nyaman ia kenakan. Membuat Hendri tahan napas saat melihat Reina berganti baju.


Hendri menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Dasar otak si*alan. Dalam keadaan seperti sekarang, bisa-bisanya kamu berpikir mesum Hen." Makinya dalam hati hanya untuk dirinya sendiri.


"Sayang, dengar dulu penjelasan aku." Pinta Hendri setelah mendekati Reina. Ia menyentuh pundak Reina agar mau mendengarkannya.


Lagi-lagi Reina menyingkirkan tangan Hendri dari tubuhnya. Membuat Hendri hanya mampu menghela nafas akan perasaan sensitif istrinya yang tengah mengandung. Reina langsung duduk di tepi ranjang. Tangannya mengusap perutnya yang buncit karena pergerakan yang ia rasa.


"Sayang." Hendri duduk jongkok di depan Reina sambil menyentuh tangan Reina. Tapi keadaan masih sama, Reina menarik tentangnya.


"Selama ini aku nggak pernah tanya dan cari tahu, siapa nama mantan istri Mas, atau kenapa bisa Mas bercerai dengannya. Karena bagi aku itu hanya masa lalu Mas yang sudah selesai. Yang penting adalah kita kedepannya." Hendri diam dengan seksama mendengarkan luapan Reina. "Tetapi apa yang tadi terjadi? Mas sampai diam membeku melihat mantan istrinya Mas. Kalau tadi aku nggak hadang, pasti mas akan diam saja saat perempuan tadi peluk Mas." Reina menarik nafas mengatur kekesalannya. "Aku nggak suka suami aku di sentuh perempuan lain. Kalau tadi aku nggak sama Mas, pasti tadi kalian sudah saling berpelukan kan? Mas masih cinta sama dia?"


"Ok sayang, aku ngaku salah."


"Tuh kan, Mas masih cinta sama dia. Mas jahat." Reina memukul pundak Hendri.


Dengan cepat tangan Hendri mengusap wajah Reina yang berlinang air mata. "Dengar aku dulu, aku belum selesai bicara sayang." Hendri menatap Reina dalam. "Aku mengaku salah karena aku sudah buat sayang salah paham. Aku tadi diam hanya karena terkejut melihat dia tiba-tiba muncul didepan kita, sayang. Satu hal yang paling penting adalah saat sayang menghadang tadi aku juga menggeser posisi berdiri ku. Karena secara bersamaan sayang menghadang dan aku pindah posisi. Tadi posisi aku sudah nggak di belakang pas tubuh sayang kan?"


Jika diingat kembali, memang ada benarnya juga apa yang di utarakan Hendri barusan.


"Sayang juga tahu sedikit atau banyak kisah lalu ku, kalau dulu aku dan dia berpisah secara baik-baik. Awalnya memang sedikit sulit tapi aku benar-benar sudah tidak memiliki perasaan apapun. Sekarang yang aku cintai cuma kamu sayang."


"Gombal lah Mas."


"Aku tidak menuntut sayang untuk Percaya dengan ucapan ku. Karena semua tindakan aku, cuma Rere ku yang bisa merasakan bagaimana perasaan ini." Hendri mendaratkan kecupan di perut buncit Reina. "Tolong jangan pergi dalam keadaan marah seperti tadi, Aku nggak bisa bayangin kalau tadi aku nggak ada disana, sayang terpeleset. Aku takut terjadi sesuatu dengan istri dan anak ku." Hendri menatap Reina dengan penuh syarat. "Maafin aku ya."


Hendri langsung pindah, ikut duduk ditepi ranjang setelah mendapat anggukan kepala dari Reina. Itu artinya Reina sudah tidak salah paham lagi dan percaya dengannya.


Hendri langsung memeluk sang istri yang penuh perasaan. "Terimakasih sayang."


"Aku lapar Mas."

__ADS_1


Hendri langsung mengurai pelukannya. "Sayang ingin makan apa?"


"Ayo kita pulang ke rumah Nda. Aku ingin makan disana."


Mendengar perkataan Reina barusan membuat otak Hendri kembali berpikir bahwa istrinya belum memaafkannya. Selain itu, entah bagaimana jadinya nanti saat ia bertemu dengan mertuanya, terutama Nissa. Hendri sudah tidak bisa membayangkan lagi bagaimana leceknya mukanya nanti. Jika saja Hendri bisa memilih, ia lebih baik tidak tahu perihal Nissa melihat adegan mereka malam itu.


"Mau nggak Mas."


"Eh. Emmm... Ehm..." Hendri berdeham demi menetralkan wajahnya yang mulai panik. "Sayang bisa nggak kalau kita makan dirumah sini saja?"


Tentu saja Reina langsung memasang wajah kesal. Ia langsung menggeser posisi duduknya. "Aku masih bisa nyetir mobil sendiri kalau Mas nggak mau."


Serba salah sudah Hendri saat ini. "Ok sayang. Ayo kita makan dirumah Nda." Hendri sudah pasrah saja.


.


.


.


Reina segera keluar dari mobil saat mobil sudah sampai di halaman rumah.


"Cepat mas. Aku lapar."


Hendri langsung lari agar bisa segera menyeimbangi langkah kaki Reina.


"Ih Mas ini aku tu bisa jalan." Sungut Reina saat tangan Hendri seolah sedang memapahnya untuk kuat berjalan.


"Sabar Hen sabar. Istri kamu sedang hamil." Batin Hendri sambil menghela napas pasrah. "Sayang aku khawatir kalau sampai terjadi seperti tadi lagi."


"Ya kalau Mas nggak bikin aku kesal hak kaya tadi nggak akan pernah terjadi Mas."


"Iya, aku salah sayang, aku minta maaf."


"Pokoknya aku masih kesel sama Mas." Reina langsung melangkah cepat memasuki rumah setelah melewati anak tangga.

__ADS_1


"Semangat Hendri." Teriaknya hanya dalam Hati.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." Jawab ART yang ada disana.


"Bi, Nda dimana?"


"Ibu di dapur Mbak Re."


Reina langsung melangkah cepat menuju dapur. "Ndaaa..." Panggilnya kencang sampai membuat Yusuf dan Nissa terkejut.


"Kakak bukannya salam malah teriak." Ucap Yusuf sambil mengusap dadanya. "Untung jantung ku sehat." Gumamnya.


"Rere sudah salam di depan tadi Ayah." Reina langsung memeluk Nissa dari belakang. "Nda masak apa?"


"Ini nda buatin Ayah nasi goreng."


"Sepertinya enak." Ucap Reina setelah Nissa mematikan kompor. Ia langsung menyambar piring yang ada di sana dan memberikan kepada Nissa. "Rere mau Nda."


"Hah." Tentu saja Nissa terkejut, selama hamil Reina bahkan tidak pernah makan nasi.


"Rere mau Nda."


"Ini nasi loh Kak."


"Rere tahu Nda. Rere belum makan dari tadi pagi."


Tanpa pikir panjang lagi, Nissa langsung mengisi piring Reina dengan nasi goreng.


"Semua Nda."


Nissa melirik Yusuf yang melongo. Nissa memang membuat Nasi goreng hanya seporsi, cukup untuk Yusuf saja. Karena tadi ART sudah memasak banyak menu.


"Ini Kak." Nissa memberikan piring berisi semua nasi goreng yang seharusnya dinikmati perut Yusuf yang keroncongan.

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan πŸ₯° kasih like dan komennya πŸ’‹ tab favorit juga ya ❀️


__ADS_2