Dikira Janda

Dikira Janda
BAB 20 SENGAJA MENEPIS RASA YANG JELAS ADA


__ADS_3

Sejak tadi Reina lebih banyak diam dan sesekali memperhatikan Hendri yang sedang memimpin jalannya meeting hari ini. Sepertinya ucapan Nissa semalam benar-benar memporak porandakan pikiran Reina yang kini menjadi tidak fokus.


Mata Reina tertuju melihat Yusuf kemudian bergantian Hendri. Dua lelaki berusia yang tidak menampilkan umur sebenarnya. Tampang yang rupawan, tubuh tinggi kekar benar-benar menghipnotis siapapun. Bahkan membuat siapapun tidak menyangka jika usia mereka sudah mencapai kepala empat.


Terlebih lagi Yusuf yang sudah hampir sampai di angka lima puluh. Namun angka hanya sebatas angka karna pada kenyataannya, ayahnya masih banyak memiliki fans di luar sana. Apa lagi para kariawan yang begitu mengagumi ayahnya. Beruntung ayahnya tipikal orang setia jadi Nissa tidak begitu khawatir jika Yussuf sedang bepergian.


"Apa mas Hendri g*y."Batin Reina. Mengingat lagi jika selama ini Hendri memang tidak terlihat dekat dengan perempuan manapun selain dirinya.


"Jangan-jangan mas Hendri suka dengan ayah." Batin Reina lagi. semakin liar saja pikiran Reina saat ini. Ia melihat bergantian Hendri dan Yusuf.


"Lagi pula kalau memang mas Hendri suka sama aku, seharusnya kan mas Hen sudah sejak dulu mengatakan hal itu. Tapi buktinya sampai sejauh ini sikapnya masih sama saja." Batin Reina terus berbicara seorang diri. Sampai tidak menyadari jika meeting telah usai dan semua orang sudah keluar dari ruangan itu.


Hanya tinggal Reina dan Hendri disana, sedangkan Yusuf memang lebih dulu keluar bersama kariawan lainnya.


"Aw..." Pekik Reina tersadar dari lamunannya sambil menggosok keningnya yang telah disentil Hendri. "Mas nggak ada hobby lain ya selain menyentil jidat aku yang imut paripurna ini?"


"Memikirkan apa kamu sampai tidak fokus meeting hari ini. Padahal ini membahas tentang acara baru sesuai rencana kita bersama."


"Aku nggak memikirkan apa-apa."


"Lalu apa mungkin aku akan percaya dengan ucapan mu barusan?" Tanya Hendri lekat menatap Reina yang menatapnya.


"Dipikirkan berulang kali pun aku nggak tahu dimana letak mas Hendri menyukai aku. Nda benar-benar bikin aku berfikir keras." Batin Reina.


Sepertinya ucapan persaudaraan dari mulut Reina membuat Reina sendiri menutup hati dan matanya, menjadi tidak peka terhadap Hendri yang selalu menatap lain terhadapnya. Padahal tanpa disadari bahwa Reina sendiri banyak bergantung tentang banyak hal pada Hendri.


"Mas suka laki ya?"


Jederrr...


Bagai disamba petir di siang bolong Hendri rasanya mendengar pertanyaan spontan Reina saat ini. Entah pikiran apa yang membuat Reina bertanya seperti ini.


"Apa aku terlihat menyukai lelaki?" Tanya Hendri balik.


"Ya enggak sih, tapi yang jadi masalah kenapa mas nggak pernah terlihat pergi bersama perempuan?"


"Lah kamu apa terus Re?" Tanya Hendri keheranan.

__ADS_1


"Nah itu masalahnya mas. Kenapa mas hanya sering bersama aku dan ayah saja. Makannya aku pikir mas suka laki alias suka ayah."


"Lalu apa kamu nggak berpikir kalau mungkin saja aku suka kamu?" Tanya Hendri serius. Entah niat dari mana mulut Hendri bertanya begitu spontan.


Reina terdiam menatap Hendri tak kalah serius. Membuat ruangan itu hening tanpa pembicaraan diantara keduanya.


"Hahaha..."Reina tiba-tiba terkekeh memecah keheningan diantara mereka berdua.


"Apa ada yang lucu?" Tanya Hendri tak percaya dengan respon Reina saat ini.


"Ekspresi mas itu lucu tahu mas."


"Lucu gimana?"


"Aku tahu mana mungkin mas suka sama aku kan? Lagi pula sejauh ini kita dekat karena hubungan keluarga kita juga sangat baik." Padahal didasar hati Reina tiba-tiba saja menepis jawaban hatinya saat ia melihat pancaran mata Hendri yang menatapnya lain. Menggetarkan hatinya namun Reina tepis kuat-kuat. Bahwa bukan Hendri tipe idelanya.


Ingin rasanya Hendi menyangkal ucapan Reina barusan. Tapi Hendri memilih diam karena kata saudara yang keluar dari mulut Reina begitu saja menghempas dirinya, hubungan yang dia inginkan.


"Kamu benar." Ucap hendri yang langsung beranjak dari kursinya. "Ayo kembali bekerja. Jangan membahas hal yang tidak mungkin disini." Ucap Hendri yang melangkah lebih dulu keluar dari ruangan itu.


.


.


.


Reina langsung keluar dari mobil setelah sampai di lokasi.


"Selamat siang semuanya." Sapa Reina pada semua orang yang ada disana. "Maaf ya saya baru datang." Tambahnya sambil menatap tim yang sudah berkumpul karena kedatangannya.


"Siang ibu Reina." Ucap mereka serentak.


Sedangkan Reina sepertinya tidak menyadari jika ada seorang yang diam mematung menatapnya. Apa lagi saat ia tahu bahwa Reina adalah anak dari pemilik perusahaan. Dan rasa tidak menyangkanya juga, jika ternyata Reina bukanlah seoran janda seperti perkiraannya saat mereka pertama bertemu dulu.


"Mbak Git, apa ada kendala?"


"Pemotretan hampir selesai. Tapi ada beberapa prodak baru yang belum terfoto karena model lelakinya yang menurut kita tidak sesuai bu."

__ADS_1


Reina mengangguk. "Oh iya, mana dua fotografer yang baru bergabung bersama kami disini?" Tanya Reina dengan senyum ramahnya yang selalu mengjhiasi wajah cantiknya.


Dan saat itu juga Reina terkejut melihat sosok Bayu, salah satu dari dua orang yang maju mendekat kearahnya dan Gita.


"Kenalkan saya Reina dzuhairi sucipto, owner R-DS fashion. Semoga kalian betah ya bergabung dengan tim kami." Tutur Reina.


Bayu dan Andi bergantian berkenalan dan berjabat tangan dengan Reina. Setelah itu semua tim istirahat sambil menikmati kue yang di bawa Reina ke lokasi.


"Jadi kita harus mencari model yang pas lagi ini mbak?" Tanya Reina sambil melihat hasil jepretan model laki-laki yang menggunakan kemeja rancangannya.


"Iya bu. Kita bisa lihat kan model ini sangat tidak cocok. Badannya kurang kekar bu. Kalau badannya kekar dan tingginya pas pasti akan sangat cocok."


"Kalau keuangan kita mencukupi, pasti aku langsung pakai model terkenal mbak." Tutur Reina. Ia memang harus mengatur sebaik mungkin modal yang ia terima dari ayahnya. Lebih tepatnya modal pinjaman karena Reina berjanji suatu saat nanti akan mengganti modal yang di berikan ayahnya.


Padahal Yusuf suka rela meski nantinya Reina meminta lagi. Yusuf sudah bangga karena Reina sudah berfikir untuk keluar dari zona nyaman dan mau berusaha merintis sendiri apa yang menjadi impiannya saat ini.


"Mbak, tolong panggilkan dua kang foto tadi mbak." Ucap Reina pada salah satu kariawan disana.


Tak lama kemudian Bayu dan Andi sudah datang menghadap Reina dan Gita.


"Ibu memanggil kami?" Tanya Andi mewakili mereka berdua.


"Iya." Jawab Reina sambil memperhatikan Bayu dan Andi seksama.


Dua lelaki tinggi dengan tampang yang lumayan. Badan pun nampak tidak terlalu kecil meski tidak juga kekar seperti criteria yang pas menurtut Gita tadi.


"Kalian Berdua, coba gunakan baju yang gagal di potret ya. kamu Bayu gunakan kemeja yang lengan panjang dan kamu Andi gunakan yang kaos ya." Perintah Reina.


Andi dan Bayu langsung segera melakukan perintah Reina. Tak lama kemudian Bayu dan Andi keluar dari tempat pas yang sudah tim sediakan.


"Gimana mbak Git?" Tanya Reina menatap Bayu dan Andi bergantian.


"Sepertinya boleh juga bu."


Akhirnya Andi dan bayu yang menjadi model pakaian yang akan Reina luncurkan bulan depan. Secara bergantian Bayu dan Andi saling memotret diri mereka bergantian, setelah penata rias memberikan sentuhan make up pada wajah mereka berdua.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan πŸ₯° kasih like dan komennya πŸ’‹ tab favorit juga ya ❀️


__ADS_2