Dikira Janda

Dikira Janda
BAB 25 CINTA DALAM DIAM


__ADS_3

Sudah hampir dua jam Reina berada didalam kamar mandi. Sengaja Reina rendam tubuhnya di dalam balthub agar jiwa dan raganya merasakan kenyamanan saat air hangat terasa masuk kedalam raga.


Reina segera membersihkan diri saat dirasa dirinya sudah merasa tenang kembali. Air terus terjun dari shower, untuk membersihkan sisa-sisa sabun yang Reina gunakan.


"Nda." Reina cukup terkejut saat mendapati Nissa berada didalam kamarnya, menunggunya.


"Lama sekali mandinya. Ketiduran?"


"Hanya terlalu nyaman berendam nda." Ucap Reina sambil mengambil hairdrayer. Reina langsung menghubungkan pada listrik alat pengering rambut.


Nissa langsung beranjak dari tepi ranjang Reina. "Biar nda bantu." Ucap Nissa yang langsung mengambil alih alat tersebut.


Reina langsung duduk di depan meja riasnya. Dan Nissa langsung menghidupkan hairdrayer, mengeringkan rambut Reina. Setelah selesai. Nissa langsung mengambil sisir untuk merapihkan rambut Reina.


"Kak."


Reina menatap Nissa dari pantulan kaca. "Iya nda."


"Entah kenapa, nda merasa kakak seperti berjalan tidak sesuai jalurnya."


"Maksud nda?"


"Coba tanyakan pada diri kakak sendiri. Sebenarnya siapa yang ada di hati kakak saat ini."


"Nda nggak percaya kalau Rere punya perasaan sama Bayu?"


"Percaya kak. Hanya saja coba kakak tanya lagi dengan hati kakak, benarkah Bayu orang yang memang kakak mau atau ada orang lain yang mulai menjauh yang membuat kakak uring-uringan akhir-akhir ini."


"Tapi Rere nggak mempunyai perasaan apapun sama mas Hendri nda." Tutur Reina dengan suara bergetar.


Nissa menghentikan tangannya yang sejak tadi menyisir rambut panjang Reina. "Kapan nda bilang kalau orang yang membuat kakak marah nggak jelas adalah mas Hendri?" Tanya Nissa menatap lekat mata Reina dari pantulan kaca.


Reina menggigit bibir bawahnya karena merasa terjebak dengan ucapannya sendiri.


"Akan ada banyak orang yang tersakiti kak. Bayu, mas Hendri dan yang lebih parah lagi adalah kakak sendiri."


"Tapi Rere nggak punya perasaan itu ke mas Hendri nda." Ucap Reina meyakinkan Nissa.


"Ayah dan nda hanya ingin melihat kakak bahagia. Semua orang juga hanya ingin menikah satu kali dalam hidupnya. Jadi jangan menyesatkan diri sendiri karena bersembunyi dari kata saudara kak. Nda sudah katakana berulang kali tentang ini."


Reina hanya terdiam mematung, menunduk melihat jari jemarinya yang saling meremas.


"Sudah waktunya istirahat. Good night gadis cantik." Nissa langsung meninggalkan Reina yang masih terdiam setelah meninggalkan kecupan di pucuk kepala Reina.


"Mana mungkin jika aku menyukai mas Hendri. Lagi pula mas Hen juga nampak biasa saja. Dia bahkan tidak tertarik pada ku. Mana mungkin orang yang tertarik pada ku membiarkan begitu saja aku menjalin kasih dan menyetujui hubungan ku dengan lelaki lain." Ucap Reina yang tetap tidak peka.


"Aaarrrggghhh..." Teriak Reina frustasi sambil mengacak-acak rambutnya yang sudah tertata rapi. Reina memilih tidur untuk menghilangkan beban kepalanya malam ini.


Klek


Nissa membuka pintu kamarnya dan langsung menutupnya kembali. "Ayy sudah sejak tadi ke kamar?" Tanya Nissa. Ia tadi ke kamar Reina karena melihat Yusuf yang sedang fokus dengan pekerjaannya di ruang pribadinya.

__ADS_1


"Lama sekali sayang di atas?"


"Memangnya aku tadi menunggu ayy tidak lama begitu?" Tanya Nissa balik. Ia langsung menuju walk in closed untuk segera membersihkan diri dan berganti dengan pakaian resmi dimalam hari.


Setelah selesai dengan persiapannya Nissa langsung menghampiri Yusuf yang duduk di sofa dan masih fokus dengan tabletnya.


"Masih sibuk om?" Tanya Nissa yang langsung duduk di pangkuan Yusuf. Untung saya Tabletnya tidak terjun ke lantai.


"Enggak. Ini aku hanya melihat daftar nama dari Hendri yang akan kita undang nanti." Yusuf langsung meletakkan tabletnya di atas meja. Bergantian fokus pada istrinya yang selalu menggoda dimatanya.


"Apa Rere ada masalah. Hingga buat kamu betah berlama-lama disana?"


"Apa suami ku ini cemburu dengann anak sendiri?" Tanya Nissa sambil menarik gemas pipi lelakinya itu.


''Apa aku terlihat begitu?"


"Apa sulit menyadari diri sendiri?"


"Kenapa jadi membingungkan seperti ini?" Yusuf mulai ambigu dengan obrolan mereka.


"Aku memang sedang bingung ayy."


"Bingung tentang hal apa?"


"Bingung kenapa ayy omesnya gak ilang-ilang." Tutur Nissa Karena kini Yusuf sudah mulai usil padanya.


Sudah dua minggu berlalu. Persiapan pernikahan juga sudah 50% siap. Rencananya acara akan di gelar secara live di semua stasiun televisi DS Group.


Sejujurnya Reina tidak ingin acara impiannya di publik seperti ini, tapi ia mengalah karena Bayu yang ingin acaranya dilaksanakan sesuai maunya juga.


Selama itu pula Hendri tentu ikut andil dalam persiapan acara yang dua minggu lagi akan terlaksana. Semua harus di persiapkan secara matang, berharap tidak ada kesalahan saat acara live nanti.


Selama itu juga jarak antara Reina dan Hendri semakin Renggang. Sudah sangat terasa jauh. Mereka bertemu hanya saat meeting saja.


Meski Hendri punya andil dalam R-DS Fashion. Semua yang menjadi tanggung jawabnya di dalam usaha Reina perlahan sudah mulai Hendri alihkan kepada Gita.


Hendri harus mulai lepas tangan dari apapun yang berkaitan dengan Reina. Kecuali yang berhubungan dengan DS Group saja.


Reina langsung melangkah lebar keluar dari ruang kerjanya. Ia sudah tidak terima jika tanggung jawab Hendri, usaha yang bisa di katakana mereka bangun bersama. Tanpa persetujuannya, Hendri melepaskan tanggung jawabnya begitu saja.


Reina langsung melangkah cepat saat into lift sudah terbuka. Ia sudah tidak bisa diam lagi dengan keputusan Hendri sepihak.


Klek


Hendri dan Gita langsung menoleh melihat kearah pintu saat tiba-tiba Reina membuka pintu dengan sangat kasar.


"Mbak Gita, tolong keluar. Aku ada keperluan dengan mas Hendri." Perintah Reina cepat.


"Nggak perlu Git. Karena ibu Reina pasti ingin membahas pekerjaan. Silahkan duduk Bu." Ucap Hendri formal.


"Mbak Gita. Saya bisa pecat mbak kapan pun saya mau kalau mbak nggak keluar sekarang juga." Ancam Reina yang sudah kehilangan akal.

__ADS_1


Gita melihat Hendri dan Reina bergantian. Bingung harus memilih Reina yang jelas anak pimpinan perusahaan atau Hendri orang kepercayaan pimpinan mereka.


"Gita..." Pekik Hendri saat Gita memilih beranjak dan keluar dari ruangannya.


Brak


Reina langsung membanting pintu saat Gita sudah keluar dari ruangan Hendri.


"Astaghfirullah..." Gita sampai nyebut karena terlalu terkejut. "Drama rumah tangga apa lagi kali ini. Ck ck ck kalau memang saling cinta kenapa kalian kaya anak kecil begini sih?" Gumam Gita sambil melangkah jauh.


Hendri kembali duduk di kursi kerjanya. Menarik nafas dalam berusaha mengurangi sesaknya didalam dada.


"Ada keperluan apa anda datang kerangan saya bu?"


Reina tersenyum miris mendengar ucapan Hendri yang berjarak. "Maksud mas apa, memberikan pekerjaan mas sendiri pada mbak Gita? Lepas tanggung jawab begitu saja. Seharusnya semua ini harus di bicarakan baik-baik."


"Jika ingin bicara baik-baik silahkan duduk bu." Ramah tamah sekali Hendri.


"Terserah aku, mau berdiri atau duduk."


"Baik. Saya rasa pekerjaan saya sudah selesai dalam membantu anda bu. Maka semuanya saya alihkan ke GIta."


"Oh atau jangan-jangan mas lagi pedekate juga sama mbak Gita? Yang konsisten dong mas, mau sama mbak Gita atau mbak Tasya. Jangan jadi playboy mas."


Hendri langsung beranjak dari kursinya setelah mendengarkan ucapan Reina barusan. Menatap tajam perempuan yang mengatainya barusan.


Jantung Reina langsung bekerja cepat saat kedua tangan Hendri berada disisi kanan dan kiri tubuhnya.


Ada rasa kelegaan di dalam diri Reina karena bisa melihat Hendri sedekat ini.


"Apa salahnya jika aku mendekati Tasya ataupun Gita. Toh mereka bukan calon istri orang apa lagi istri orang."


"Mas suka sama aku?" Tanya Reina pelan. Ia benar-benar memberanikan diri bertanya tentang hal ini.


"Mungkin." Jawab Hendri.


"Jadi selama ini..."


"Kamu membuat aku tidak berani bertindak. Aku cukup tahu diri karena selama ini kamu menganggap aku sebagai saudara. Dan jangan seperti ini Re. kamu sebentar lagi akan menjadi istri orang."


Klek


Reina langsung mendorong tubuh Hendri agar merapat pada tembok saat mendengar suara pintu terbuka.


"Hen..." Panggil Yusuf sambil membuka lebar-lebar pintu ruang kerja Hendri.


Hendri dan Reina menjadi saling rapat. Membuat mereka berpelukan di belakang pintu. Tangan mereka juga spontan saling menutup mulut satu sama lainnya agar tidak bersuara. Seperti pasangan selingkuh yang takut kepergok.


Bersambung...


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan πŸ₯° kasih like dan komennya πŸ’‹ tab favorit juga ya ❀️

__ADS_1


__ADS_2