Dikira Janda

Dikira Janda
BAB 44 DIKERJAI REINA


__ADS_3

Pelan-pelan Hendri membuka matanya. Merasakan rabaan tangan yang terasa dingin. Menari indah pada dadanya.


"Selamat sore." Sapa Hendri. Senyum Hendri terbit menatap Reina setelah matanya terbuka sempurna, tangan Hendri sambil mengusap wajah Reina yang nampak segar.


"Sore dari mana sih mas. Ini tuh sudah subuh."


"Serius Re?" Tanya Hendri yang langsung bangun.


"Serius mas." Wajah Reina bahkan sangat sangat meyakinkan.


Hendri langsung beranjak dari tempat tidur, melangkah cepat menuju jendela kamar. Tangannya langsung menyibak tirai jendela. Menatap langit yang jelas nampak gelap.


"Ya Allah Re. Kita ketiduran, sampai subuh?" Tanya Hendri saat menyadari mereka melewatkan malam yang sangat penting. Belum lagi kewajiban yang harus mereka jalani.


Reina duduk santai di tepi ranjang sambil membuka belitan handuk yang membungkus rambut basahnya setelah tadi membersihkan diri.


"Mas saja kali yang tidur nggak ingat dunia makanya sampai subuh."


Hendri kembali melangkah mendekati ranjang, ehm... lebih tepatnya Reina.


"Kenapa nggak bangun kan aku?"


Reina benar-benar ingin terbahak melihat ekspresi Hendri saat ini. Namun Reina masih harus mencoba untuk menguatkan diri agar berhasil mengerjai Hendri.


"Sudah aku bangunkan, Tapi mas nggak mau bangun juga."


Hendri jadi merasa heran pada diri sendiri, apakah sampai senyaman itu ia tidur ditemani Reina sampai merasakan lelap berlebihan hingga tidak terasa saat di bangunkan.


"Ya Allah, Re." Hendri menepuk jidatnya sendiri sambil memutar tubuhnya. Seketika itu matanya mendapati jam yang menempel pada dinding kamar hotel mereka.


"Jam setengah tujuh." Gumam Hendri. Ia mengerjapkan matanya berulang kali, karena seingatnya Reina tadi mengatakan kalau saat ini sudah subuh.


Hendri mengucek matanya, mencoba melihat ulang jam dinding. Takut kalau-kalau matanya salah lihat. Tapi mau di lihat berulang kali pun jam masih tetap sama.


Hendri langsung mengambil ponselnya di atas nakas, untuk melihat sekarang hari apa dan jam berapa.Dan ternyata hari serta tanggal masih sama seperti saat pernikahan tadi pagi. Jam juga sama seperti di jam dindingnya.


"Hahaha..." Seketika lepas sudah tawa Reina yang ia tahan sejak tadi. Apa lagi ekspresi Hendri menatap Reina saat ini.

__ADS_1


Hendri yang kini sadar sedang di kerjai Reina, ia langsung meletakkan lagi ponselnya di atas nakas. Lalu menghampiri Reina dan menggelitik tubuh Reina.


"Ngerjain aku ya." Tutur Hendri sambil gencar menggelitik Reina yang sudah ia kunci pergerakannya.


"Hahaha... ampun mas ampuuunnn..." Reina bergerak sebisanya mencoba untuk melepaskan diri dari kuasa suaminya.


"Siapa suruh nakal dan ngerjain aku."


Hendri berhenti menggelitik Reina. Satu tangan Hendri menyanggah beban tubuhnya agar tidak menimpa Reina. Dan satu tangannya mengusap wajah Reina yang sudah mulai mereda tawanya.


"Lagian siapa suruh ninggalin aku tidur." Ucap Reina sambil mengusap wajah Hendri lalu mengalungkan kedua tangannya di leher suaminya.


"Memangnya kamu tadi nggak tidur?" Tanya Hendri menatap Reina serius. "Kenapa?" Tanya Hendri saat Reina menggelengkan kepala.


"Lagian bagaimana caranya aku bisa tidur setelah apa yang mas lakukan sama aku." Tutur Reina terus terang.


"Memangnya aku tadi ngapain?"


"Menurut mas ngapain coba tadi? Jangan sok ngelupain kelakuan mas sendiri."


Tangan Hendri bergerak pelan menyusur turun. Sentuhan yang kini membuat tubuh Reina merinding. Tangan Hendri terus turun dan melepas tali bethrobe yang Reina kenakan.


"Tapi sayangnya mas harus percaya kalau sekarang aku sudah jadi istri mas."


"Sebuah takdir yang aku inginkan adalah sejak dulu dan sekarang sudah menjadi kenyataan."


"Halah itu juga kalau bukan karna aku cium..."


Cup


Hendri mengecup bibir Reina sekilas untuk menghentikan ucapan Reina yang belum selesai.


"Itu adalah sebuah kebodohan ku."


Reina langsung menarik tengkuk Hendri. Rasanya masih sangat kurang dan belum puas dengan luma*tan yang mereka lakukan seperti saat ini.


Tangan Reina memberi sentuhan pada tubuh Hendri. Memberikan sensasi aneh dan mendebarkan untuk mereka, terlebih lagi Reina yang baru pertama kali melakukan hal seperti ini.

__ADS_1


Hendri menyibak bethrobe yang menutupi tubuh polos Reina setelah mandi. Tangannya meraba pelan menyentuh benda kenyal yang pernah ia sentuh malam itu.


Rintihan Reina tertahan oleh cecapan yang semakin dalam yang mereka lakukan.


Hendri melepaskan pagutan yang mereka lakukan. Kecupannya turun ke leher Reina membuat keduanya terasa melayang dengan suasana saat ini.


"Mas mau ngapain?" Tanya Reina cepat saat Hendri mendaratkan mulutnya tepat pada pucuk yang memiliki saudara kembar. Sejujurnya Reina ingin terus terhanyut namun ia sadar waktunya belum tepat.


Hendri mengangkat wajahnya menatap Reina. "Buat adik bayi yang cantik seperti yang Zen mau."


"Aku mau. Tapi sayangnya kita harus berhenti sekarang."


"Kenapa? Jangan bilang kamu datang bulan." Bisa pening tujuh keliling kepala Hendri kalau ia harus menahan diri.


"Maghrib keburu habis mas." Ucap Reina mengingatkan.


"Kenapa nggak bilang dari tadi istri." Geram Hendri sambil menjatuhkan tubuhnya menimpa Reina.


"Lagian asal main sosor sih mas. Sudah sana cepat mandi mas."


"Mau mandiin aku nggak?" Bisik Hendri dengan godaan yang ia punya.


"Mas jangan bikin aku panas dingin lalu mas nganggurin aku lagi ya."


"Jadi tadi sudah siap?"


"Siap nggak siap tapi mas yang bikin aku merinding dan otak ku yang suci jadi mikir yang iya-iya."


Cup


"Aku mandi dulu." Ucap Hendri setalah mendaratkan kecupan. Lalu memasang bethrobe Reina dengan benar. Setelah itu Hendri beranjak menuju kamar mandi.


Bersambung...


Sabar ini ujian. Aku paham dan pengertian kalian nunggu part sesadπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan πŸ₯° kasih like dan komennya πŸ’‹ tab favorit juga ya ❀️

__ADS_1


__ADS_2