
Malam sudah semakin larut. Tapi mata Reina tetap tidak mau di ajak lelap. Entah berapa kali Reina berganti posisi. Gulung-gulung ke kiri dan ke kanan mencari posisi yang pas.
"Adek tumben banget sih nggak tidur sama kakak." Gumam Reina.
Tangan Reina langsung menyambar ponsel pintarnya yang tergeletak diatas meja. Membuka aplikasi chat berwarna hijau.
"Huft... beginilah nasib jomblo nggak akan ada yang nyariin." Gumam Reina sambil terus melihat status nomor yang ada di kontak ponselnya.
Reina langsung turun dari atas ranjang dan langsung menuju balkon kamarnya. Menikmati suasana sunyi dan angin malam yang berhembus menerpa tubuhnya.
Mata Reina menatap langit yang dihiasi banyak bintang. "Bunda, Sekarang Rere di Jakarta. Rere akan lihat rumah bunda saat pulang ke Malang. Rere bahagia sekarang, Rere punya ayah, nda, Zen, Oma, Om Adam, tante Luna, Qia. Mbah kung, mbah uty, Amira." Sebut Reina orang-orang terpenting dalam hidupnya saat ini. "Dan mas Hendri." Ucapnya Reina karna terlintas nama Hendri seketika.
Reina terdiam memikirkan sesuatu. Bingung kenapa mulutnya bisa begitu saja menyebut nama Hendri.
"Kalau mas Hendri benar punya pacar lalu menikah. Terus aku harus membahas semua pekerjaan ku ke siapa?" Batin Reina jadi galau tiba-tiba. Tapi ia juga tidak bisa menahan dan bersikap egois jika nantinya Hendri memutuskan untuk menikah lagi.
"Nggak mungkin kan aku cerita ke ayah." Gumam Reina.
Alasan Reina tidak ingin menceritakan urusan pekerjaannya dengan Yusuf adalah karena Reina tidak ingin menambah beban pikiran ayahnya yang memang sudah jelas banyak yang harus dipikirkan Yusuf.
Yang lebih penting lagi adalah karena Reina juga tahu, jika ayahnya yang bergerak semua akan cepat selesai dengan sangat mudah dan cepat. Masalah pekerjaan Reina sudah pasti hanya masalah seperti butiran debu. Yusuf cukup meniup saja semua masalah sudah terkendali.
Padahal Hendri juga sudah pasti banyak pekerjaan. Karena dia adalah orang kepercayaan ayahnya. Tapi entah kenapa, Reina menemukan kenyamanan saat menyampaikan semua masalahnya dengan Hendri.
Setelah berpuas diri dengan angin malam dan pikirannya sendiri. Reina kembali masuk kedalam kamarnya. Bukannya menuju ranjang untuk merebahkan diri dan mengejar mimpi. Reina memilih keluar dari kamarnya. Sudah dapat di tebak kemana tujuannya saat ini.
"Sok-sokan nggak mau tidur sama kakak kamu dek." Gumam Reina setelah memasuki kamar Zen. "Dikira kakak nggak kangen apa setelah seharian di kantor." Tambah Reina lagi.
Padahal tadi saat jam tidurnya Zen, Reina sudah mengeluarkan jurus seribu rayuan karena Zen tiba-tiba mau tidur di kamarnya sendiri. Entah siapa yang tidak bisa jauh dari siapa. Tapi memang beginilah kebiasaan Reina dan Zen.
"Good night adek kakak yang paling ganteng." Ucap Reina setelah menghujani kecupan pelan di wajah Zen.
.
.
.
"Mbak Gita, tolong sampaikan ke bagian HRD ya, untuk interview hari rabu semua peserta ditanyakan hobby nya. Siapa tahu ada yang mempunyai bakat terpendam dari salah satu pelamar." Ucap Reina setelah memasuki ruangan Gita.
"Baik bu."
"Aku laporan ke bapak Yusuf dulu ya mbak." Ucap Reina yang langsung meninggalkan ruangan Gita.
Reina langsung masuk Lift menuju lantai dimana ruangan Yusuf dan Hendri berada.
"Selamat siang bapak Yusuf." Ucap Reina setelah membuka pintu ruangan Yusuf.
Sopan sih caranya Reina memanggil Yusuf saat di kantor. Tapi Reina selalu lupa untuk mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Kok nggak ada." Gumam Reina. Celingukan mencari sosok ayahnya yang ia cari. Reina langsung keluar dari sana setelah dapat dipastikan wujud ayahnya tidak ada disana.
Reina langsung menuju ruangan Hendri. Dan langsung mengetuk pintu ruang kerjanya Hendri.
__ADS_1
Tok... tok... tok...
"Masuk." Teriak Hendri mempersilahkan.
"Selamat siang pak Hendri." Sapa Reina setelah masuk.
Sedetik itu juga Hendri langsung tersenyum setelah melihat siapa yang datang memasuki ruangannya.
"Selamat siang ibu Reina."
"Mas."
"Ya."
"Ayah kemana?" Tanya Reina langsung.
"Pak Yusuf keluar menemui temannya. Kenapa?"
"Kok mas nggak ikut?"
"Artinya itu bukan hal sangat-sangat penting."
Reina mengangguk. "Ya sudah lah aku keluar sekarang."
"Silahkan." Ucap Hendri begitu saja.
Baru juga Reina membuka pintu. Ia langsung menutupnya kembali dan dengan cepat duduk di kursi, depan meja kerja Hendri.
Reina menyatukan kedua tangannya melalui sela-sela jari tangannya. Lalu mendaratkan dagunya disana untuk menatap serius Hendri yang akan ia interogasi.
"Mas beneran sudah punya pacar?" Tanya Reina langsung.
"Kata siapa?" Tanya Hendri setelah melepas kaca mata anti radiasinya.
"Nda. Kata nda tahu dari ayah."
"Lalu?"
"Tunggu apalagi, mas harus jawab pertanyaan ku tadi." Jiwa Reina sudah sangat penasaran.
"Bisa ya bisa juga tidak." Jawab Hendri menimbulkan kebingungan.
"Mas ini jawabnya yang jelas kenapa. Kok jadi remang-remang meragukan jawaban mas ini."
Hendri ikut mendaratkan dagunya diatas kedua tangannya. Sama persis bagaimana cara Reina melakukan.
"Kalau aku sudah punya pacar bagaimana?" Tanya Hendri menatap lekat perempuan di depannya saat ini.
"Mungkin aku akan sedikit sedih."
"Alasannya?"
"Karena kemarin aku sudah menyita waktu mas. Padahal mas kemarin pasti sangat ingin cepat ketemu pacar mas kan? Aku malah nahan mas dan malah aku jadikan tempat curhat masalah ku." Ucap Reina. Sedikit rasa penyesalan namun entah kenapa Reina merasa senag karena bisa mengulur waktu Hendri lebih lama bersamanya.
__ADS_1
"Lalu jika kenyataannya aku belum memiliki pacar bagaimana?" Tanya Hendri serius.
Senyum Reina langsung menghiasi wajahnya. "Aku sangat senang karena itu Artinya aku masih boleh meminta pendapat tentang apapun sama mas Hen."
"Kalau begitu bersenanglah." Hendri semakin menatap dalam senyum Reina saat ini.
"Aku senang. Tapi mas, aku tetap berharap mas segera menemukan seseorang yang tepat."
Hendri mengangguk. "Semoga."
"Em... ngomong-ngomong mas sebenarnya suka perempuan seperti apa?" Tanya Reina semakin penasaran.
"Seperti mu." Jawab hendri dalam hati. "Seperti perempuan. Maksudnya perempuan original." Jawab Hendri tepat.
"Ih mas ini. Aku sudah dengarkan serius-serius malah di ajak guyon. Nggak lucu mas."
"Jelas saja nggak lucu. Kan aku juga nggak ngelawak."
"Mas."
"Iya."
"Yang bener jawabnya."
"Bener."
"Ih tahu ah." Reina mulai kesal dengan hendri yang tak serius sama sekali.
"Aku suka perempuan yang bersikap apa adanya dengan ku." Reina langsung menatap Hendri kembali. "Nyaman dengan ku, dan dia juga tahu kalau dia membutuhkan aku."
"Terus?"
"Manja, kekanakan tapi sangat penyayang. Orang yang sangat mencintai keluarganya jadi ku pastikan dia akan mencintai keluarga ku juga."
"Terus."
Hendri tersenyum melihat wajah serius Reina. Hendri memukul pelan ujung hidung Reina menggunakan pulpen yang ada di pegangnya sejak tadi. "Itu hanya sebuah criteria Re. Tapi kita nggak tahu judoh kita nanti siapa dan bagaimana."
"Ya nggak apa-apa dong mas, wajar kok kita punya criteria yang kita sukai. Siapa tahu saja kan Allah berbelas kasih dengan mas. Tiba-tiba dijatuhi perempuan cantik, spek bidadari. Untung-untung kalau sikapnya seperti deskripsi mas tadi."
"Sepertinya perempuan cantik, spek bidadari nggak akan suka dengan lelaki duda seperti aku."
"Ih mas jangan pesimis gitu mas. Itu lihat bos kita, istrinya jelas spek bidadari dapat suami sudah tua. Istrinya saja seumuran dengan anaknya." Tutur Reina ghibah.
"Sssttt... Nanti kita dipecat kalau sembarangan ngomong." Ucap Hendri pelan. "Kalau begitu, lelaki seperti apa yang kamu harapkan menjadi pendamping hidup kamu kelak?"
Reina langsung berdiri dari kursi tempatnya duduk. "Yang bisa membuat aku jatuh cinta. Aku kembali ke ruangan ku ya mas."
"Hufffttt..." Hendri langsung menghela nafasnya saat Reina telah keluar dari ruang kerjanya. "Sudah jelas dan jangan berharap lebih Hendri Artha Wijaya." Gumamnya. Ia kembali menggunakan kacamatanya lagi untuk kembali fokus pada pekerjaan yang sudah ia abaikan sejak tadi.
Bersambung...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan π₯° kasih like dan komennya π tab favorit juga ya β€οΈ
__ADS_1