Dikira Janda

Dikira Janda
BAB 118 KUNCI PINTU


__ADS_3

Angan-angan terbang melayang ke angkasa di tengah malam seperti ini hanyalah sebuah angan saja. Kata pengin yang di maknai Hendri adalah sebuah pekerjaan yang begitu menggugah raga hingga menghasilkan suara kegaduhan dan keringat yang melimpah akibat dari kerja keras yang mereka lakukan, ternyata hanya sebuah pemikiran Hendri belaka. Karena pada kenyataannya, kata pengin sangat jomplang dari perkiraan Hendri yang begitu panas membara.


"Mas nggak mau?" tawar Reina.


"Enggak sayang." Hendri menyambar tissu untuk mengelap wajah Reina yang penuh dengan keringat akibat uap panas dari semangkuk mie instan.


Tengah malam Reina mengusik Hendri yang baru saja terpejam, karena Reina tiba-tiba terbangun dari mimpi indahnya yang tengah menikmati mie instan super pedas seperti mie yang sedang Reina nikmati saat ini.


"Ini enak banget loh Mas." Puji Reina pada hasil masakan Hendri. Sengaja membuat Hendri tergiur dengan semangkuk mie yang sedang ia nikmati.


"Aku tahu, Makannya biar kamu saja yang makan sayang."


Setelah Reina selesai makan, Hendri segera mencuci mangkuk lalu mereka segera keatas.


"Mau kemana?" tanya Hendri sambil mencekal pergelangan tangan Reina.


"Ke kamar adek lah Mas, kemana lagi?"


Hendri melangkah Agar tubuhnya berdiri tepat di depan Reina. Hendri membasahi bibirnya dengan lidahnya, siap mengungkapkan isi hatinya.


"Sayang." Hendri mengusap wajah dan puncak kepala Reina. "Jangan menyiksa aku seperti ini. Aku nggak masalah kamu tidur dengan Zen, tapi jika kamu membiarkan aku tidur sendirian karena salah paham, aku nggak bisa. Aku diam karena aku pikir kamu memang ingin bersama Zen dan menenangkan hati mu, tapi aku merasa kamu sedikit menjaga jarak. Itu mengganggu aku, aku sampai nggak bisa tidur karena memikirkan mu."


"Maaf Mas."


"Aku akan ceritakan semuanya jika memang sayang ingin tahu, asal jangan seperti ini, Hem."


Reina menggelengkan kepalanya. "Aku nggak ingat tahu Mas."


"Yakin?"


"Aku akan tanya jika memang itu penting untuk kita. Dan aku rasa, masa lalu Mas gak ada kaitannya untuk kita kedepannya. Karena yang aku tahu Mas mencintai aku."


"Sangat sayang."


"Ih Mas ini, seneng banget deh narik hidung aku." Gerutu Reina sambil menekan-nekan hidungnya agar kembali ke asal.


"Ya sudah sana cepat masuk kamar Zen, ini masih tengah malam."


"Mas... emmm..."


Hendri tersenyum melihat Reina yang nampak bingung mau mengatakan sesuatu. Ia jadi gemas sendiri saat Reina mulai menggigit bibir bawahnya.


Cup


Reina terkejut saat bibitnya di kecup Hendri.


"Kamu boleh menggigit bibir seperti ini hanya di depan ku saja."


"Memangnya kenapa Mas?"

__ADS_1


"Ikuti saja apa yang aku ucapkan barusan," tutur Hendri sambil merapatkan tubuh mereka. Satu tangan Hendri mendarat pada wajah Reina. Ibu jarinya terus mengusap bibir Reina yang masih nampak memerah akibat mie instan dengan toping cabe tadi.


Reina langsung menutup kedua matanya saat Hendri mendekatkan wajahnya. Bibit mereka sudah saling menempel, detik berikutnya mereka membuka mulut mereka untuk segera bekerja seperti alat vakum.


Reina semakin erat melingkarkan kedua tangannya pada tubuh Hendri. Sedangkan Hendri semakin memperdalam ciu*man mereka berdua.


Klek


Spontan Reina dan Hendri mengakhiri pagutan liar yang mereka lakukan dan langsung memberi jarak saat mendengar suara pintu terbuka.


"Oh, Kak Re sama Mas Hen. Zen kira tadi Kak Re jatuh, Zen cari di lantai nggak ada. Dikamar mandi juga nggak ada. Ya sudah Zen mau tidur lagi."


Hendri dan Reina langsung terkekeh setelah Zen kembali masuk kedalam kamar.


"Kita selalu saja kepergok Mas."


"Sepertinya kita harus beli rumah sendiri saja biar aman dimana-mana."


"Tapi, sayangnya kesepakatan kita nggak begitu Mas." Reina kembali memeluk Hendri. "Ayo kita lanjut di kamar." Reina mendaratkan kecupan pada rahang Hendri. "Dan jangan lupa kunci pintunya."


Lagi-lagi, mereka berdua terkekeh jika terus mengingat hal-hal konyol akibat tidak mengunci pintu.


.


.


.


Nissa melihat Wajah Reina dan Hendri bergantian. Jelas nampak wajah yang begitu cerah walau sepasang mata mereka nampak sayu. Hal itu membuat Nissa merasa lega, karena itu artinya Reina dan Hendri sudah baikan.


"Gimana nggak silau Ayah. Cahayanya terang banget."


Hendri dan Reina jelas paham jika mereka berdua yang sedang jadi bahan pembicaraan Yusuf dan Nissa.


Sedangkan Zen, si bocah yang akan memiliki seorang adik itu nampak menatap semua orang bergantian.


Zen menatap lampu yang ada di langit-langit ruang makan. "Silau apa sih Nda? Perasaan cahaya lampunya biasa saja."


Nissa dan Yusuf terkekeh. Tidak bisa di pungkiri jika anak terkecil mereka ini pasti selalu saja ingin tahu dengan apa saja yang menurutnya aneh.


"Nanti kalau Zen sudah dewasa, Zen akan tahu cahaya silau yang Nda maksud. Sudah makan dulu yang banyak Biar Zen cepat besar."


"Zen jadi pengin cepat besar biar cepat paham" ucapnya sambil melahap roti bakar yang ada di depannya.


(Authornya juga gak sabar nunggu kamu bujang Zen πŸ˜‚πŸ€­ ada yang sama?)


.


.

__ADS_1


.


Beberapa hari kemudian.


Sore ini, Reina, Nissa, dan Zen pergi ke salah satu mall terbesar yang ada di ibu kota. Menemani Zen bermain, tentu itu adalah tujuan utama mereka berdua.


Reina sendiri sengaja memilih mall ini untuk menemaninya Zen, itu juga karena Hendri sedang bertemu klien di mall ini.


Setelah Zen puas dengan beberapa Game, kini mereka ingin membeli minuman segar dan beberapa camilan.


"Mas Hen, sebentar lagi kesini Nda."


"Iya. Oh iya, Kakak mau ke toilet nggak?" Reina menggeleng sambil menatap Nissa sejenak lalu kembali fokus pada layar ponselnya. "Adek mau ke toilet?"


"Enggak nda."


"Nda ke toilet dulu ya. Adek jagain kak Re."


"Siap Nda." Zen berpindah duduk di samping Reina.


Nissa langsung bergegas menuju toilet. Meninggalkan kedua anaknya.


"Hai janda."


Reina spontan melihat seseorang yang duduk di depannya dan memanggilnya dengan sebutan janda. Suara yang begitu familiar menurut Reina.


"Janda-janda, jangan sembarang ya." Sungut Reina kesal namun ada rasa lega karena kembali bertemu dengan seseorang yang terkekeh melihat wajah kesal Reina.


.


.


.


"Saya akan segera sampaikan hasil pertemuan kita hari ini pada pak Yusuf," ucap Hendri.


"Baik. Semoga kabar baik segera saya terima." Mereka saling berjabat tangan tanda urusan keduanya telah usai.


Setelah semua urusan selesai dengan kliennya. Hendri segera mengambil ponselnya, karena sejak tadi terasa bergetar terus menerus.


Hendri segera bergegas mencari Reina, sesuai dengan foto yang Reina kirim.


"Dengan siapa dia." Hendri berhenti melangkah sejenak saat melihat, Reina dan Zen duduk bersama seorang lelaki. Lelaki yang hanya terlihat punggungnya saja. Belum lagi istrinya itu nampak tertawa lepas dengan seseorang yang membuat hati Hendri penasaran serta berkabut rasa kesal dan cemburu.


Bersambung...


Ada yang bisa nebak siapa? Lelaki ini pernah aku sebutkan di awal bab.🀭


Apa ada yang baca novel ini tapi belum baca novel NISSA 🧐 yang belum mampir wajib mampir ya πŸ₯° aku maksa loh ini πŸ˜‚πŸ€­πŸ˜

__ADS_1



Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan πŸ₯° kasih like dan komennya πŸ’‹ tab favorit juga ya ❀️


__ADS_2