Dikira Janda

Dikira Janda
BAB 54 BUKAN LELAKI KOLOT


__ADS_3

"Nggak ada jejak darah di sana mas." Pekik Reina cepat.


Hendri yang sedang melebarkan seprai ingin melipatnya asal agar terlihat lebih rapih dan tidak tergulung-gulung langsung mengerutkan keningnya. Menatap Reina dengan rasa bingung.


"Maksudnya apa Re?"


"Apa mas akan mempermasalahkan dan meragukan aku. Karena disana tidak ada jejak darah sama sekali selain..." Reina tidak melanjutkan ucapannya. Ia menatap wajah Hendri sejenak lalu kembali menunduk. Ia bahkan harus mempersiapkan diri menerima tanggapan dadakan Hendri yang mungkin saja tidak akan terima seperti perkiraan Reina.


Hendri meneruskan pekerjaannya. Setelah seprai terlipat, Hendri langsung memasukkan seprai ke tempat yang sudah tersedia.


Hendri melangkah mendekati Reina. Jari jemarinya mengapit dagu Reina agar wajah Reina terangkat. Agar mereka saling memandang.


"Meski banyak orang mengira kamu seorang janda, karena kamu selalu kemana pun bersama Zen. Tapi aku sangat tahu kamu Re, kamu bukan janda karena memang kamu kan belum menikah."


Sumpah demi apapun. Ingin sekali Reina terkekeh mendengar ucapan Hendri barusan. Tapi ia tahan karena entah sadar atau tidak kalau Reina menilai ucapan Hendri sebuah lawakan. Padahal wajah Hendri nampak serius. Bahkan limarius atau mungkin lebih.


"Tanpa kamu tahu disaat aku menyimpan perasaan ku, aku terus memantau mu sebisa ku."


"Mas cocok jadi penguntit." Cibir Reina.


"Anggap saja begitu."


Kini mata Reina nampak berbinar. Ia jadi merasa begitu sangat sangat di cintai oleh lelaki yang sudah sah menjadi suaminya saat ini.


"Tanpa jejak darah pun. Aku sangat tahu kamu Re. Aku bukan lelaki kolot yang menilai keperawanan dengan jejak darah setelah malam pengantin."


"Aku pikir mas akan mempermasalahkan tentang hal itu."


"Bahkan jika status mu janda sungguhan sekalipun. Aku akan tetap memilih mu untuk menjadi istriku. Karena aku sangat mencintaimu."


"Ah jadi menyesal aku sempat dag dig dug ser tentang hal seperti ini."

__ADS_1


"Dasar ratu bekicot. Buat apa aku sekolah tinggi kalau pada akhirnya pemikiran ku kolot seperti perkiraan mu barusan."


"Awww..." Ringis Reina sambil mengusap keningnya yang mendapatkan sentilan dari Hendri. "Gelar ku sudah istri mas Hen loh. Tapi masih saja tega nyentil jidat perempuan spek bidadari ini." Cerocos Reina.


"Aku sentil jidat kamu itu supaya pikiran buruk mu tentang aku segera punah. Musnah untuk seterusnya."


"Apa tidak ada cara yang lebih baik dari sentilan?"


"Kamu mau cara yang seperti apa Re?"


"Yang lebih lembut dan mendebarkan." Entah sadar atau tidak jika Reina sudah memancing harimau yang siap kapan saja menerkam.


"Apa seperti ini?" Tanya Hendri setelah mendaratkan kecupan di kening Reina.


"Emmm... itu belum mendebarkan."


"Seperti ini?" Hendri mencium kedua kelopak mata Reina bergantian.


"Seperti ini?" Hendri mendaratkan kembali ciuman di pipi Reina, sisi kiri dan kanan."


"Masih biasa saja."


Hendri langsung mencecap bibir Reina dengan lembut. Rasa manis dan segar kini dapat mereka nikmati bersama karena memangkan mereka selesai mandi.


"Seperti ini?" Tanya Hendri setelah melepas bibir Reina.


"Nggak berasa tuh."


"Kalau seperti ini?" Tanya Hendri sambil menarik tali bathrobe yang membelenggu tubuh Reina. Hendri langsung menarik tubuh Reina agar mereka semakin rapat.


Wajah Reina langsung nampak gusar melihat ekspresi Hendri. Akan kah mereka melakukan lagi setelah tadi di kamar mandi.

__ADS_1


"Apa sekarang rasanya mendebarkan?" Tanya Hendri telak. Karena ia dapat merasakan bagaimana detak jantung Reina yang bekerja ekstra cepat.


"Mas. Ki...kita belum solat." Ucap Reina cepat agar Hendri tidak mengerjainya lagi.


"Loh iya kita kan belum subuhan sayang." Jelas Hendri tersadar. Setelah ia beranjak dari atas tubuh Reina lalu melihat jam dinding. Pukul 05.20 WIB.


"Mas mau ngapain?" Tanya Reina saat melihat Hendri akan berganti pakaian.


"Pake baju lalu solat."


"Mas memangnya sudah wudhu?"


"Sudah." Jawab Hendri santai tanpa beban.


"Lalu tadi ngapain sama aku?"


"Skin to skin."


"Artinya?"


Hendri langsung menepuk jidatnya sendiri. "Kamu istri yang bikin aku batal."


"Apaan orang mas yang duluan pegang-pegang."


"Suruh siapa kamu menggoda ku."


"Maaf mas aku bukan setan."


Bersambung...


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan πŸ₯° kasih like dan komennya πŸ’‹ tab favorit juga ya ❀️

__ADS_1


__ADS_2