Dikira Janda

Dikira Janda
BAB 6 DADDY & MOMMY


__ADS_3

Setiap weekend seperti ini jalanan perumahan mewah disana nampak ramai. Kebanyakan penghuni rumah disana setiap hari minggu seperti ini akan melakukan kegiatan olahraga. Memanfaatkan waktu sebaik mungkin disaat hari libur.


Pada akhirnya Hendri pasrah saja melihat Reina berpenampilan yang menurutnya tidak nyaman dimatanya. Mau melarang pun apa haknya. Mengingat lagi status Reina adalah anak bosnya.


"Om duluan ya Zen." Ucap Hendri sambil mengacak-acak rambut Zen. Lalu Hendri lari lebih cepat, padahal sejak tadi ia berada di belakang Reina dan Zen. Bisa dikatakan menjadi bodyguard anak bosnya.


Reina menatap heran punggung Hendri yang semakin menjauh. Apa lagi sejak tadi Reina merasa kalau Hendri sedang mengacuhkannya. Dapat dilihat barusan saja Hendri tidak melihatnya sedikitpun saat berpamitan dengan Zen.


"Memangnya aku melakukan kesalahan ya?" Gumam Reina bingung.


"Ih ini lah malasnya Zen joging sama kak Re." Gerutu Zen melihat Reina yang tertinggal di belakangnya.


"Kakak ayo cepat. Kakak ini mau lari apa ngesot." Teriak Zen kesal.


Reina langsung mempercepat langkah larinya. "Jangan suka menghina anak kecil." Ucap Reina yang langsung mendahului Zen.


"Ih kakak ini, sudah baik tadi Zen tungguin. Kok sekarang malah Zen yang ditinggal." Teriak Zen sambil berlari mengejar Reina. "Menyesal tadi sudah baik-baik nunggu kakak." Gumam Zen.


Orang yang tidak mengenal Zen pasti akan Mengira Zen anak usia tujuh atau delapan tahun dengan pola pikir dan tutur kata Zen yang jauh dari usia lima tahun.


Reina dan Zen sama-sama langsung berhenti karena sudah lumayan jauh juga mereka jogging. Kedua anak Yusuf itu tengah mengatur nafas yang ngos-ngosan.


"Wah om Hendri lagi ngobrol sama siapa tuh kak?" Ucap Zen sambil menunjuk Hendri.


Reina langsung mengikuti kemana arah tangan Zen menunjuk Hendri. Sekertaris ayahnya itu sedang asik berbincang dengan beberapa perempuan disana.


Senyum Reina langsung menghiasi wajah cantiknya saat ide cemerlang datang begitu saja kedalam otaknya yang sudah encer. Salah siapa tadi mengacuhkannya, jadi jangan salahkan Reina kalau berbuat usil.


"Dek." Reina mengedipkan mata memberi kode pada Zen.


Zen mengangguk karena kode itu hanya diketahui mereka berdua. "Siap kak."


Zen langsung menghambur ke pelukan Reina, kemudian Reina langsung menggendong adiknya. "Hua... Daddy. Zen mau daddy, mom." Tangis Zen sudah berakting.


Entah keturunan dari siapa anak Yusuf dan Nissa itu bisa menguasai acting begitu saja. Kebanyakan drama memang, membuat Yusuf dan Nissa terkadang heran dengan anaknya sendiri.


"Diam sayang, kita cari daddy ya." Ucap Reina mulai celingukan. Agar profesional dalam menjalankan misi.


Hendri yang mendengar suara tangis mirip suara Zen seketika langsung menoleh kebelakang. Dan saat itu juga ia bertatap muka dengan Reina.


"Itu daddy sayang." Tunjuk Reina pada Hendri.


Mau heran tapi ini anak bosnya, Hendri harus bersiap diri karena sebentar lagi dia harus ikut berakting. Dan yang jelas akan mendapatkan omelan dari perempuan yang sejak tadi mengajaknya berbincang.


Zen yang sejak tadi akting menangis langsung menoleh kearah yang ditunjuk Reina. "Daddy. Mommy Zen mau sama Daddy." Pinta Zen menangis dan sudah mengangkat kedua tangannya agar ia digendong Hendri.


Reina langsung mendekati Hendri yang diam mematung menatap kearahnya. "Ini mas anak mu sejak tadi nyariin." Ucap Reina sambil memberikan Zen pada Hendri.


"Jangan tinggalin Zen Dad." Ucap Zen. Sedangkan Zen langsung menghentikan tangis pura-puranya.

__ADS_1


Hendri langsung mengambil alih Zen ke dalam gendongannya. Entah sudah keberapa kalinya ia dikerjai seperti ini oleh Reina dan Zen saat ia sedang berbincang dengan perempuan yang mengajaknya berkenalan. Dua anak bosnya yang selalu merusak suasana.


"Mas ini Ganteng-ganteng kok suka ngaku bujangan kalau sudah punya anak istri." Ucap salah satu perempuan yang sejak tadi berbincang dengannya.


Reina menahan tawa saat melihat wajah Hendri yang sedang diomeli. Ia terkejut saat tiba-tiba tangan Hendri merangkulnya. Membuat tubuhnya berdekatan dengan Hendri. Sedangkan lengannya mendapatkan cengkeraman erat. Membuatnya susah untuk memberi jarak.


"Hati-hati mbak, suami model begini pasti menyeleweng kalau mbak lengah sedikit saja." Ucap yang lain.


"Maaf ya mbak." Ucap Hendri tidak enak hati.


"Pergi yuk." Ajak yang lain.


"Sampai ketemu lagi kak." Ucap Reina sambil melambaikan tangan.


"Sudah puas kalian?" Tanya Hendri saat perempuan tadi sudah berlalu jauh.


"Hahahaha..." Tanpa rasa berdosa Reina justru tergelak tawa sambil melepaskan diri dari cengkeraman Hendri tadi.


"Mas kok mukanya jadi begitu lihat aku?" Tanya Reina heran tapi ia masih saja tertawa. Sedangkan Zen hanya cengengesan merasa tugasnya sudah berhasil.


Hendri menatap Reina tak terbaca. Ia menghela nafasnya pelan lalu melangkah mendekati Reina.


"Aw..." Lagi-lagi Reina mendapatkan sentilan di jidatnya. "Kenapa sih mas akhir akhir ini suka banget menyentil jidat aku." Protes Reina sambil mengusap-usap jidatnya.


"Kalau kalian seperti ini terus bagaimana aku bisa melepas status duda ku." Ucap Hendri tak habis pikir.


"Apanya yang belum lengkap Zen?" Tanya Hendri menatap heran bocah kecil yang masih ia gendong.


"Kata ayah kan duda karatan."


Seketika Reina tertawa lagi. "Dek jangan bilang begitu. Kasian om Hendri sudah karatan semakin mengarat nanti." Tutur Reina mengambil alih Zen.


"Kita pulang dulu mas. Sana kalau mau cari jodoh, semoga anda beruntung. Babai..." Ucap Reina sambil melambaikan tangan.


Dasar anak pak Yusuf sama sekali tidak merasa bersalah. Sudah merusak suasana dan sekarang Hendri malah di tinggalkan begitu saja.


"Kak Re, Turunin Zen kak."


"Enakan juga digendong kakak dek. Kamu nggak capek jalan nanti." Ucap Reina sambil menurunkan Zen dari gendongannya.


Zen langsung lari begitu saja meninggalkan Reina yang jalan santai. "Kakak jalannya yang cepat dong. Jangan kaya bekicot." Teriak Zen lantang.


"Dasar kecebong kecil." Teriak Reina mengejek. Tapi sayangnya Zen sudah berlalu.


"Dari dulu juga namanya kecebong itu kecil Re." Ucap Hendri tiba-tiba. Ia sudah jalan sejajar dengan Reina.


"Ada mas kecebong yang besar."


"Tapi besarnya pun nggak mungkin melebihi Zen kan?"

__ADS_1


Reina mengangguk. "Loh kenapa mas sudah ada disini?" Tanya Reina ketika sudah sadar.


"Memangnya aku harus dimana?"


"Hadeh ini nih faktor U jadi suka lupa. Kan tadi katanya pengin cepet ngelepasin status duda karatan kenapa nggak cari perawan atau janda, perawan memang menawan tapi janda lebih menggoda." Ucap Reina sambil sedikit bersenandung.


"Suara cempreng nggak usah nyanyi Re. Berisik."


"Ayo bang pilih yang mana bang?" Tanya Reina dengan keusilannya.


"Cari janda saja lah lebih menggoda." Jawab Hendri asal. Ia langsung jalan cepat malas meladeni omongan Reina yang sudah kemana-mana.


"Ih gimana sih, kok malah aku ditinggal. Dasar laki-laki nggak bertanggung jawab." Ucap Reina kesal sambil mengejar Hendri.


Bersambung...


Reina Dzuhairi Sucipto/Rere





Hendri Artha Wijaya





Zain Dzuhairi Sucipto/ Zen





Maaf ya visual Reina aku ganti karena biar lebih dewasa kalau pake visual yang awal di novel NISSA itu terlalu imut🀭


Sulit aku cari visual mas Hendri sama Zen 😫 semoga kalian suka πŸ₯°


Yang nggak cocok sama visualnya silahkan berimajinasi sendiri πŸ‘


Tolong kuatkan perasaan ya karna tokoh penting belum keluar semua 🀭


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan πŸ₯° kasih like dan komennya πŸ’‹ tab favorit juga ya ❀️

__ADS_1


__ADS_2