
Coba baca bab sebelumnya biar terasa bagaimana sensasinya meskipun nggak seberapa πππ
.
Hendri berhenti sejenak. Merasakan inti tubuhnya yang kini sudah tidak karatan lagi. Setelah beberapa tahun berpuasa, setelah sekian lama memendam rasa. Akhirnya, kini sudah berakhir dengan sejuta kata yang tidak mampu di ungkapkan lagi.
Hendri menghirup aroma tubuh Reina. Mencium ceruk Reina dalam-dalam yang kini terasa lembab akibat keringat yang mereka hasilkan dari suasana yang terasa panas membakar raga.
Perjalanan sulit Hendri saat ingin membobol gawang Reina yang di jaga begitu ketat.
Hendri mengangkat wajahnya dan menatap wajah Reina. Tatapan berkabut mereka berdua benar-benar menyalurkan sebuah rasa bahagia yang tidak dapat di ungkapkan dengan sebuah ucapan belaka.,
Tangan Hendri mengusap kedua mata Reina yang mengeluarkan cairan bening. Hendri sangat paham akan hal itu. Karena sudah dapat di pastikan Reina akan kesakitan saat melepas mahkota berharganya di malam pengantin. Meski sudah di lakukan pemanasan sedemikian rupa. Tidak dapat di pungkiri rasa sakit akan menyayat untuk pertama kalinya.
"Sakit ya?" Tanya Hendri setelah mengecup kedua kelopak mata Reina.
Reina membuka kedua matanya lalu mengangguk lemah.
"Maaf. Awalnya memang sakit tapi aku yakin setelah kamu terbiasa dengan aktivitas seperti ini, kita akan semakin kecanduan." Tutur Hendri sambil menjajahi lekuk tubuh Reina dengan sentuhan tangannya yang mulai aktif.
__ADS_1
"Apakah hal ini seperti nar*koba?"
Hendri tersenyum mendengar pertanyaan Reina barusan. Kepalanya mengangguk tanda memberikan sebuah jawaban.
"Mungkin Tapi pasti lebih dari itu. Karena setelah kita menemukan dan merasakan bagaimana nikmatnya. Kita akan kecanduan. Sehingga jika kita tidak melakukan hal ini akan membuat kita uring-uringan."
"Apa kita akan terus mengobrol mas?" Sepertinya Reina sudah tidak sabaran lagi.
Hendri langsung melu*mat kembali bibir Reina yang memang sudah membengkak dan memerah. Tentu Reina menyambut dengan senang hati dan membalas perlakuan Hendri saat ini.
Tangan Hendri terus bergerak memberikan sentuhan yang kini mulai membuat tubuh Reina semakin terasa panas. Sedangkan Reina terus membelai kepala Hendri. Jari jemarinya menyusup ke sela-sela rambut dan menekan kepala Hendri agar peperangan lidah mereka semakin dalam.
"Kita mulai permainan sesungguhnya." Ucap Hendri setelah melepas bibir Reina yang pasti sudah kebas dibuatnya.
Reina terus memekik. Tubuhnya semakin menegang saat Hendri terus bergerak. Belum lagi tangan Hendri yang tidak berhenti bermain dengan pucuk dia lembah daging kenyal.
"Masss... ahhh..." Reina terpekik kuat.
Suara Reina yang mengerang membuat suhu tubuh Hendri semakin panas. Membuat Hendri semakin kuat tidak terkendali.
__ADS_1
Pergerakan Hendri yang tadinya pelan kini sudah tidak tertahan lagi. Sulit untuk mengendalikan pergerakan Hendri yang sudah seperti harimau buka puasa setelah menahan dahaga selama bertahun-tahun.
Keringat semakin melembabkan tubuh keduanya saat Pergerakan Hendri semakin cepat, kuat, dan di hentakkan dengan tekanan dalam-dalam.
Reina mencengkram kuat bahu Hendri saat tubuhnya semakin diserang cepat. Ia menggigit bahu Hendri berharap mulutnya tidak terus terlontar suara jeritan yang sudah sangat sulit di kendalikan.
Gigitan Reina yang tidak seberapa bagi Hendri malah terasa seperti bibir yang ingin membuat jejak kepemilikan disana. Membuat Hendri semakin menggila karena kecepatan yang semakin memburu. Agar apa yang tertahan segera keluar secara persamaan.
"Mari keluarkan bersama sayang." Racau Hendri sambil terus bergerak. "Teriakkan nama ku sekuat kuatnya." Tambah Hendri saat puncak semakin dekat.
"Hendri Artha Wijaya." Teriak Reina kuat.
"Reina Dzuhairi Sucipto." Teriak Hendri bersamaan dengan sang istri.
Puncak pergulatan sudah sampai mereka rasakan bersamaan. Hendri langsung ambruk menindih Reina sempurna setelah lahar panas mengandung kecebong yang akan membentuk kehidupan menyembur sempurna.
Pelepasan yang jelas sudah lama tidak Hendri rasakan selama menjadi duda. Dan kini perasaan itu dapat Hendri rasakan dengan sangat nikmat tanpa dapat di ucapkan bagaimana lagi rasa leganya kini.
Bersambung...
__ADS_1
Assalamualaikum semua... maaf ya Reina dan Hendri baru menyapa. Karena masih suasana idul fitri, aku Nia si othor Blinger bin Sholehot, memohon maaf lahir dan batin jika aku punya kesalahan yang tidak sengaja aku lakukanπππ aku sadar banyak kekhilafan yang sengaja aku lakukan melalui jari sesad yang suka bikin bab haram. maka dari itu aku meminta maaf yang sebesar-besarnya π₯°π₯°π₯°
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan π₯° kasih like dan komennya π tab favorit juga ya β€οΈ