Dikira Janda

Dikira Janda
BAB 83 PIKIRKAN NASIBMU


__ADS_3

Hendri dan Yusuf langsung melangkah lebar menuju istri mereka. Dan betapa terkejutnya mereka berdua saat mereka sudah mengenali siapa lelaki yang tengah berbincang dengan Reina dan Nissa.


"Sayaaanggg..." Pekik Hendri dan Yusuf bersamaan.


Panggilan keras keduanya tidak hanya membuat Reina dan Nissa menatap Hendri dan Yusuf. Tapi juga pengunjung lainnya. Termasuk Arya.


Secara bersamaan, dua lelaki yang memiliki tingkat kecemburuan level kronis tersebut, langsung melangkah lebar dan langsung berdiri di samping istri mereka masing-masing. Bahkan secara bersamaan kedua mantan duda itu langsung merangkul istri mereka dengan sangat posesif.


Zen melihat Nda dan Kakaknya bergantian. "Kok tiba-tiba perasaan Zen jadi nggak enak." Ucapnya dengan wajah polos.


"Mampus aku." Batin Nissa saat merasakan Cengkareng erat tangan Yusuf. Nissa sedikit meringis, bukan karena merasakan sakit, namun isi kepala Nissa sudah melayang kemana-mana. Karena ia sangat yakin, Yusuf pasti akan menghukumnya.


Hukuman yang tidak pernah terlewatkan sekalipun dikala Yusuf merasa cemburu.


Sedangkan Reina Yang tidak peka dengan ekspresi wajah Hendri saat ini, tentu ia hanya menatap keheranan karena Hendri merangkulnya dengan posesif.


"Mas Yusuf, mas Hendri." Sapa Arya ramah. Ia sepenuhnya sadar tatapan Yusuf yang sangat tajam menusuk. Tatapan yang masih sama seperti dulu. Dan tatapan cemburu dari Hendri. Namun meski begitu, mereka tetap bersalaman.


"Maaf saya permisi sebentar." Ucap Arya yang langsung beranjak saat mendengar dering ponselnya.


"Yang lama sekalian dan jangan pernah kembali kesini lagi, akan lebih baik." Batin Yusuf. Hatinya benar-benar berkobar rasa cemburu. Apalagi masih nampak jelas tatapan Arya yang masih sama seperti dulu saat menatap Nissa.

__ADS_1


"Mas Yusuf, Mas Hendri. Maaf ya tadi saya mengajak Nissa, dan Reina mengobrol. Saya tidak bermaksud apa-apa, saya hanya berniat menyapa karena tidak menyangka bisa bertemu lagi."


"Iya tidak apa-apa."


"Kalau begitu saya permisi lebih dulu, Karena teman saya sudah sampai. Selamat bersenang-senang."


"Itu lebih baik." Ucap Yusuf dalam hati.


.


.


.


Hendri fokus mengemudikan mobil. Di samping Hendri ada Yusuf yang sejak tadi nampak buram seperti langit mendung yang siap menerjunkan luapan air hujan.


Hawa panas kini rasanya sudah menyergap tubuh Nissa. Karena sejak tadi, ia sudah banyak menduga. Sedangkan Reina yang tidak peka, tentu hanya menatap keheranan pada sang suami.


"Ayah."


"Iya nak." Yusuf menatap Zen sejenak.

__ADS_1


"Zen nggak suka sama om tadi."


"Kenapa Zen nggak suka? nggak boleh begitu nak sama orang yang baru Zen temui." Terang Yusuf.


Omongan hanyalah sebuah ucapan. Realisasinya, sikap Zen yang tidak suka terhadap Arya jelas menurun dari Yusuf.


"Karna Zen nggak suka kalau om tadi lihatin Nda." Jujur Zen dengan keposesifannya yang sudah tertanam sejak dini. Zen hanya bisa mengutarakannya tanpa tahu apa alasan sebenarnya.


"Anak pinter." Puji Yusuf sambil mengacungkan jempolnya.


"Sepertinya ayah masih cemburu dengan Arya nda." Bisik Reina.


"Bukan sepertinya lagi kak, tapi memang ia." Tanggap Nissa juga berbisik.


"Sepertinya ayah akan menghukum nda lagi." Goda Reina yang sudah paham dengan tabiat ayahnya.


Dulu, Reina tidak paham setiap kali ayahnya cemburu, pasti esok paginya Nissa jadi malas-malasan keluar kamar, apalagi melakukan hal lainnya. Tapi semakin lama dan semakin dewasa tentu Reina jadi paham dengan hal seperti itu.


Nissa tersenyum menatap kepolosan dari ekspresi wajah Reina sekarang. "Sebaiknya kamu pikirkan nasib mu sendiri anak ku sayang." Peringatan Nissa yang malah di pikir santai oleh Reina.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan πŸ₯° kasih like dan komennya πŸ’‹ tab favorit juga ya ❀️


__ADS_2