Dikira Janda

Dikira Janda
BAB 99 SEBUAH RAHASIA


__ADS_3

Sudah hampir tengah malam. Didalam satu ruang rawat itu terdapat Nissa yang lelap sambil memeluk Zen. Dan Luna sambil mendekap Qia.


Sedangkan Yusuf dan Adam masih nampak terjaga karena yang sakit masih nampak segar kedua matanya.


"Kalau kalian sudah mengantuk, tidurlah lebih dulu."


"Bagaiman kami bisa lelap kalau bunda saja tidak tidur." Ucap Adam.


"Apa bunda benar-benar tidak mengantuk?" Yusuf sepertinya penasaran dengan bundanya. Karna setahu Yusuf, Wati tidak pernah tidur malam diatas jam sebelas.


"Momen kalina berdua menjaga bunda seperti ini, sangat jarang terjadi." Wati menghela nafasnya dalam. "Rasanya bunda ingin selalu kalian perhatikan seperti ini, Lebih lama lagi." Tambahnya sambil mengusap puncak kepala Yusuf dan Adam bersamaan.


"Tentu saja kami akan menjaga bunda." Ucap Adam.


"Bunda harus segera sehat agar kita cepat pulang. Setelah ini, Yusuf janji akan selalu mengusahakan untuk pulang satu bulan sekali lihat Bunda."


"Ayo tidur. Besok pagi kita pulang." Ajak Wati.


.


.


.


Jam sudah menunjukkan pukul 01.45 dini hari. Reina menatap wajah sang suami yang sudah nampak sangat lelap dibuai mimpi. Sedangkan ia hanya tidur sejenak lalu terbangun dan entah kenapa, Reina tidak bisa tidur lagi.


"Kenapa perasaan ku tidak enak seperti ini." Batin Reina. Telapak tangannya menyentuh dada untuk merasakan detak jantung yang bergemuruh.

__ADS_1


"Rasanya seperti ingin meledak." Gumam Reina. Ia menarik nafas dalam untuk menentramkan perasaannya yang tidak tenang.


.


.


.


Wati terbangun tepat pukul 02.00 dini hari. Ruang rawat itu sudah berganti dengan pencahayaan lampu yang temaram.


Wati menatap wajah kedua anaknya yang tidur di kursi. Posisi tetap disaat Yusuf dan Adam menjaganya sebelum lelap tadi. Sedangkan kepala mereka mendarat di brankar sejajar dengan kakinya. Sangat jelas terlihat tidak nyaman.


Wati mengusap pelan puncak kepala kedua anaknya. Lalu mendaratkan kecupan disana secara bergantian.


"Bunda akan selalu doakan kalian. Semoga kalian di berikan panjang umur dengan limpahan kebahagiaan." Ucap Wati pelan.


Wati tersenyum melihat kedua anak perempuannya dan kedua cucunya.


"Oma." Zen langsung bangun saat melihat Wati berdiri tak jauh darinya.


"Sssttt..."


"Oma nggak bisa tidur?" tanya Zen pelan. Ia bangun setelah menyingkirkan tangan Nissa secara perlahan.


Wati mengangguk. "Zen tidur lagi, ini masih tengah malam."


"Zen akan temani Oma sampai Om mengantuk dan tidur." Ucapnya sambil berdiri mendekati Wati.

__ADS_1


"Oma tidak akan menolak kalau begitu. Karena di temani Zen seperti ini tidak akan terulang lagi."


Wati langsung mengajak Zen duduk di sebuah kursi yang ada disana.


"Oma masih sakit, jangan pangku Zen."


Wati semakin mempererat dekapannya saat Zen ingin turun dari pangkuannya.


"Biarkan Oma pangku Zen. Oma sangat kangen dengan cucu Oma satu ini. Lagi pula, kapan lagi oma bisa pangku Zen kalau bukan sekarang."


"Baiklah, tapi jangan lama-lama Oma pangku Zen, Karena Zen mau Oma cepat sembuh dan kita pulang."


"Zen nggak betah disini?"


Zen cepat mengangguk. "Tidur dirumah sakit itu memang tidak enak Oma."


"Kalau begitu Zen harus jaga kesehatan agar Zen tidak sakit dan sampai di rawat seperti Oma."


"Zen tidak akan sakit Oma. Karena Zen rajin olahraga setiap pagi."


"Anak pinter." Wati menarik pipi Zen yang menggemaskan.


"Oma akan kasih tahu Zen sesuatu."


Zen menatap wajah Wati serius. " Apa ini sebuah rahasia?"


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan πŸ₯° kasih like dan komennya πŸ’‹ tab favorit juga ya ❀️


__ADS_2