
"Nissa..." Panggil seorang lelaki.
Tentu Nissa, Reina, dan Zen langsung menatap ke arah sumber suara.
"Arya." Ucap Nissa.
"Kak Arya." Ucap Reina.
Baik Nissa maupun Reina dibuat tidak percaya bisa bertemu lagi dengan Arya.
Arya, lelaki yang menaruh hati pada Nissa. Disaat Nissa sudah menikah dengan Yusuf. Lelaki yang dulu dicintai gadis cantik yang kini menjadi istri Hendri Artha Wijaya.
Karena rasa yang tidak berbalas, membuat Reina menutup hatinya. Ia lebih memilih fokus membantu Adam mengurus perusahaan. Kemudian ia memilih keluar negeri untuk melanjutkan studinya.
"Apa kabar Niss?" tanya Arya sambil mengulurkan tangannya.
"Baik." Ucap Nissa sambil menjabat tangan Arya.
"Apa kak Arya masih saja memiliki perasaan ke nda?" batin Reina. Ia masih jelas melihat kilat binar bahagia bertemu Nissa. Tatapan yang sama seperti dulu. Tatapan lekat Arya yang di berikan ke Nissa, Hal yang dulu membuat Reina iri dengan rasa cemburunya.
"Kamu apa kabar Re?" Arya juga mengulurkan tangannya ke arah Reina.
"Baik. Kakak apa kabar?" tanya Reina sambil menjabat tangan Arya.
"Aku baik." Kini Arya di buat terpesona dengan anak laki-laki yang menatapnya tajam. Tatapan menusuk seperti yang pernah ia terima dulu. "Apa dia anak yang kamu kandung dulu Niss?" tanya Arya yang masih lekat menikmati tatapan bocah yang menarik perhatiannya.
"Iya. Zen, salim dulu dengan om Arya."
__ADS_1
Tentu Zen menurut dengan ucapan Ndanya. Meskipun tanpa alasan yang Zen tahu apa itu. Zen tidak suka dengan tatapan orang yang bernama Arya saat menatap Ndanya.
"Nama kamu siapa anak ganteng?" tanya Arya yang masih menahan jabatan tangannya dengan Zen.
"Zen om." Jawabnya singkat.
Nissa mulai celingukan, ia sedikit horor kalau sampai suaminya yang tukang cemburu itu tahu kalau ada Arya bersama mereka.
"Kak Arya sudah lama di Jakarta?" tanya Reina membuat tatapannya ke arah Nissa terputus.
"Eh... ehm... Aku baru satu minggu disini. Oh iya, kata Adam kamu sudah menikah ya Re? Selamat ya."
"Terimakasih kak. Kak Arya sering ketemu dengan om Adam?" Reina jelas curiga kenapa Adam memberi tahu Arya kalau ia sudah menikah.
"Bukan dekat lagi, kami sedang mengurus proyek bersama."
"Ohhh..." Reina hanya manggut-manggut. "Btw, kakak sudah menikah belum?"
"Loh kamu nggak jadi sama yang dulu itu siapa namanya? Vi... Vira?"
"Vina, Nissa." Arya membenarkan nama sahabatnya dengan suara yang begitu lembut.
"Benar-benar belum move on." Batin Reina keheranan.
"Oh iya, Vina. Kamu nggak jadi sama yang itu?"
"Nggak jadi. Namanya juga gak jodoh, Nissa."
__ADS_1
"Dan untungnya, Nda nggak peka sama perasaan lelaki lain." Batin Reina yang mengamati Nissa dan Arya.
.
.
.
"Loh kamu masih disini Hen?" tanya Yusuf yang baru selesai dengan urusannya di toilet. Yusuf melihat Hendri yang berdiri mematung tanpa melakukan apapun. Namanya juga patung.
"Iya yah."
"Kan aku tadi sudah bilang buat duluan ke depan. Malah ngenteni wong Ng*ise*Ng." Gerutu Yusuf.
"Sejak tadi saja kita sudah di cuekin yah. Kalau saya kesana duluan nasib saya bagaimana kalau nggak ada temannya yang sama-sama di abaikan."
"Ckckck. Saingan kita berat Hen, orang dalem." Tutur Yusuf.
"Kok bisa itu lo kecil-kecil cabe rawit."
"Itu namanya bibit unggul Hen." Bangga Yusuf.
Langkah Keduanya tiba-tiba berhenti saat melihat Reina, Zen, dan Nissa bersama seorang laki-laki. Keduanya tidak bisa melihat dengan jelas siapa lelaki disana.
Hendri dan Yusuf langsung melangkah lebar menuju istri mereka. Dan betapa terkejutnya mereka berdua saat mereka sudah mengenali siapa lelaki yang tengah berbincang dengan Reina dan Nissa.
"Sayaaanggg..." Pekik Hendri dan Yusuf bersamaan.
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan π₯° kasih like dan komennya π tab favorit juga ya β€οΈ