Dikira Janda

Dikira Janda
BAB 16 KASIH SAYANG IBU


__ADS_3

"Kakak Zen sudah tahu kepanjangan dari bogan apa." Ucap Zen bangga dengan wajah senangnya karena akan mendapatkan janji yang sudah Reina buat sendiri.


"Apa coba?" Tanya Reina setelah menelan makanannya.


"Bocah ganteng. Benar kan?" Ucap Zen sangat-sangat antusias.


"Ih kok tumben tahu sih dek."


Tahu lah kak. Zen kan pintar." Bangganya sambil menepuk dadanya yang masih berapa centimeter itu.


"Pasti nda ya yang kasih tahu Zen kan?" Selidik Reina tidak mudah di kelabui Zen.


"Kok jadi nda dibawa-bawa kak." Ucap Nissa sudah kompromi dengan Zen.


"Hem, pasti ayah kan?" Todong Reina menatap Yusuf yang tengah menikmati menu makan malamnya.


"Ayah mana tahu, coba tanya Zen dia dapat hidayah dan inayah dari mana, bisa nebak dengan benar." Tutur Yusuf.


"Sesuai janji kakak loh ya. Awas saja kalau bohongin Zen." Ancam Zen yang sudah kenyang dengan ke-PHP-an.


"Ye, jangan samakan kak Re yang cantik ini sama seperti ayah yang sudah terbiasa PHP-in anaknya." Sindir Reina telak.


Yusuf acuh saja dengan sindiran anak-anaknya yang memang benar tepat sasaran untuknya.


Setelah berkumpul diruang keluarga, Nissa langsung mengajak Zen tidur. Karena memang sudah jam anaknya untuk tidur. Setelah membacakan buku cerita, akhirnya Zen tertidur juga.


"Good night sayang." Ucap Nissa. Ia juga langsung mendaratkan sebuah kecupan di pucuk kepala Zen.


Nissa langsung menuju kamar Reina setelah keluar dari kamar Zen.Tidak ada wujud Reina diatas ranjang, setelah Nissa memasuki kamar anak gadisnya itu. Nissa langsung menuju balkon, karena memang pintu balkon terlihat terbuka.


"Kak." Panggil Nissa saat melihat Reina tengah melamun


"Eh nda." Reina gelagapan saat tersadar dari lamunannya.


"Kenapa belum tidur?" Tanya Nissa setelah ikut duduk di kursi yang ada disana.


"Belum ngantuk nda."


"Ada masalah di kantor?" Tanya Nissa. Jelas saja Nissa merasa ada yang tengah dipikirkan Reina, karena ia tadi mendapati anak gadis ini tengah melamun.


"Enggak ada nda." Jawab Reina.


Jika sudah seperti ini jawaban Reina, maka Nissa tidak akan ikut campur lagi dengan apa yang tengah Reina pikirkan.

__ADS_1


Lagi pula mana mungkin Reina menceritakan kalau ia sedang galau karena merasa Hendri sedang menjauhinya. Setelah pesan chat tadi sore, sejak tadi juga Reina sudah mengirim pesan. Biasanya Hendri cepat membaca pesannya dan segera membalasnya. Namun kali ini sudah hampir dua jam bahkan Hendri belum juga membacanya. Padahal aplikasi chat statusnya online terus. Kan jadi kesal Reina dibuatnya.


"Cepat tidur ya kak, jangan melek sampek malam." Ucap Nissa yang langsung beranjak.


"Nda."


"Ya."


"Rere juga mau di kelonin kaya Zen." Pintanya dengan suara manja dibuat seperti anak kecil.


Mungkin jika orang lain akan merasa geli dan canggung jika ingin bermanja dengan ibu sambungnya. Terlebih lagi jika ibu sambung itu seumuran. Seperti Reina dan Nissa.


Namun seperti yang di ketahui. Reina dan Nissa adalah dua karakter yang berbeda tapi juga sangat cocok di padu antara keduanya.


Nissa yang memang memiliki sikap keibuan, karena telah membantu Jumiasih merawat Amira sejak bayi baru lahir.


Sedangkan Reina yang notabennya kehilangan ibunya diusia 3 tahun, dan akhirnya jatuh ke asuhan omanya, Wati. Reina yang begitu di manja oleh wati, namun meski tidak kurang kasih sayang dari Wati. Tentu saja Reina kecil merasa iri dengan teman-temannya yang lain.


Kurangnya kasih sayang dari orang tuanya. Jika Erlin, Ibunda Reina meninggal. Berbeda dengan Yusuf yang disibukkan dengan pendidikannya yang masih harus diselesaikan.


Nissa tiduran setengah duduk sambil mengusap pucuk kepala Reina. Sedangkan Reina masih betah memeluk perut Nissa hingga lelap. Nissa langsung melepaskan diri saat merasakan pelukan Reina merenggang.


"Good night gadis cantik." Ucap Nissa setelah mendaratkan kecupan di pucuk kepala Reina. Ia langsung keluar dari sana.


Nissa langsung membuka pintu kamarnya bersama sang suami setelah sampai dilantai bawah.


"Belum tidur ayy?" Tanya Nissa sambil menutup kembali pintu kamar. Yusuf sendiri terlihat sedang fokus dengan tabletnya.


"Lama banget sayang?" Tanya Yusuf. Bukanya menjawab pertanyaan Nissa, sekarang Yusuf terdengar tengah komplen.


"Maaf. Aku ke kamar mandi dulu ayy." Ucap Nissa.


Setelah selesai dari kamar mandi dan sudah berganti dengan baju dinasnya. Nissa langsung keluar dari walk in closet. Ia langsung mendekati Yusuf.


"Anak-anak sudah tidur semua sayang?"


"Sudah." Jawab Nissa sambil memeluk leher Yusuf. Ikut melihat layar tablet. Mengganggu suaminya yang sedang fokus dengan tabletnya adalah keahlian Nissa.


"Tadi aku lama di atas karena Rere juga minta di kelonin." Jelas Nissa.


"Jadi habis ngelonin Zen, gantian ke Rere?"


"He'em." Jawab Nissa begitu saja. "Ayy masih banyak pekerjaannya?"

__ADS_1


"Lumayan."


Nissa langsung beranjak menuju ranjang, setelah mendaratkan kecupan di leher dan rahang Yusuf. "Kalau begitu aku tidur duluan ya ayy."


Yusuf yang sengaja cuekin Nissa, langsung mematikan tabletnya dan langsung mengangkat tubuh mungil istrinya.


"Ayy..." Nissa terkejut karena tiba-tiba tubuhnya terasa melayang keudara. Meskipun perlakuan seperti ini sudah biasa ia rasakan. Tapi tetap saja, Nissa selalu kaget menerimanya.


"Jadi tadi sudah ngelonin dua anak kan?"


Nissa mengalungkan kedua tangannya pada leher Yusuf. "Iya."


"Jadi sekarang giliran ayahnya yang di kelonin."


Dasarnya Yusuf, tua-tua keladi. Semakin tua semakin jadi saja. Apa lagi kini ia memiliki istri daun muda yang sangat segar bugar.


Maka urusan ranjang seperti ini sangat jarang absen mereka lakukan. Masih terasa seperti pengantin baru, yang selalu menggebu untuk memburu sebuah kesenangan yang begitu menagihkan jiwa dan raga.


Kini, keduanya saling berpelukan setelah usai memanjakan diri. Saling membelai mesra penggung mereka yang lembab bekas peluh percintaan mereka.


"Ayy..."


"Hem..."


"Bagaimana kalau kita jodohkan saja Rere dengan anak teman bisnis ayy." Usul Nissa.


Yusuf langsung membuka kedua matanya. "Sayang lebih tahu Rere bagaimana. Nggak akan mudah menjodohkan anak gadis itu."


"Iya sih." Nissa nampak memilirkan sesuatu. "Ayy sebenarnya punya criteria khusus nggak sih ayy untuk calon Reina nanti?"


"Maksud sayang?"


"Ya maksudnya, apa mungkin suami Reina harus setara status sosialnya atau bagaimana?" Tanya Nissa hati-hati.


"Astagfirullah sayang. Memangnya aku terlihat seperti orang yang harus mencarikan Reina suami yang setara sosialnya atau harus lebih gitu?" Tanya Yusuf sedikit kesal.


"Bukan begitu ayy. Aku tahu ayy tidak memandang hal itu. Hanya saja, mungkin ada orang yang memang sangat menyukai Rere tapi tidak berani mengungkapkan ke Rere. Entah itu karena perbedaan status sosial atau apa kan kita nggak tahu ayy."


"Aku hanya ingin Reina menikah dengan orang yang memang ia cintai dan mencintai diasesuai seperti keinginannya. Tapi bukan berarti aku akan setuju begitu saja sayang. Kita tetap harus memastikan lelaki itu tanggung jawab atau tidak. Kita tidak bisa melepaskan anak kita pada lelaki yang salah."


Bersambung...


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan πŸ₯° kasih like dan komennya πŸ’‹ tab favorit juga ya ❀️

__ADS_1


__ADS_2