Dikira Janda

Dikira Janda
BAB 7 KEBUN BINATANG


__ADS_3

Semua orang sudah kumpul di ruang makan, kecuali Reina yang belum turun juga. Nissa langsung melayani Yusuf terlebih dahulu.


"Zen mau sama apa sayang?" Tanya Nissa.


"Zen mau sama sup ayam nda."


Nisa langsung mengambilkan apa saja yang dimau Zen. Kecil-kecil begini, Zen makannya cukup banyak.


"Eh kecebong makannya banyak banget bong." Ucap Reina mengejek.


"Biarin. Dari pada kakak kaya bekicot. Apa-apa serba lama." Cibir Zen fakta.


"Re, Zen nggak boleh seperti itu. Kakak juga nggak boleh ajari adek panggil dengan cara seperti itu." Ucap Yusuf memperingati.


"Kok Rere sih yah, tuh adek tuh tadi yang awali mengejek Rere bekicot." Adu Reina mengungkapkan jujur.


"Kan emang kakak bekicot." Zen masih tidak mau diam.


"Rere, Zen." Ucap Yusuf menatap kedua anaknya bergantian.


Baik Yusuf maupun Nissa sama-sama heran. Sebenarnya kedua anak mereka ini seumuran atau bagaimana. Karena pada kenyataannya terkadang Reina yang bertingkah seperti bocah. Kadang Zen yang drama dengan gaya sok dewasanya. Benar-benar dua bibit unggul Yusuf yang saling melengkapi satu sama lainnya.


Sedangkan Hendri hanya bisa tersenyum melihat kehangatan keluarga bosnya. Sudah biasa baginya menyaksikan bagaimana hangatnya melihat interaksi keluarga ini.


Reina langsung membalik piring dan mengisi dengan nasi goreng dengan cukup banyak. Nggak kira-kira pokonya. Ngakunya diet tapi setiap makan pasti kebablasan.


Pling... (anggap saja begitu suaranya)


Tak sengaja Reina menjatuhkan sendoknya ke sisi kiri.


"Pake acara jatuh lagi." Batin Reina ngedumel.


Jeduk...


"Aww..." Rigis Reina saat tak sengaja kepalanya berbenturan dengan kepala Hendri. "Mas ngapain sih pake ikutan nunduk segala?" Tanya Reina sambil mengusap kepalanya.


Hendri langsung mengambil sendok Reina yang terjatuh. "Mau mengambilkan ini." Ucap Hendri sambil menunjukkan sendok lalu meletakkan di tepi karena tidak mungkin di pakai Reina lagi.


"Om kekebun binatang yuk." Ajak Zen tiba-tiba.


"Boleh." Jawab Hendri cepat. Lagi pula siapa juga yang menolak ajakan anak menggemaskan seperti Zen.


"Zen, nggak boleh begitu nak. Om Hendri waktunya istirahat." Ucap Nissa.


"Nggak apa-apa bu. Setelah ini kita berangkat berdua ok." Ucap Hendri sambil mengedipkan mata pada Zen.


"Siap om."


Mendengar kata berdua keluar dari mulut Hendri entah kenapa Reina merasa kesal sendiri. Karena itu artinya dia tidak akan di ajak.


"Memangnya hanya adek saja yang ingin liburan." Gerutu Reina dalam hati.

__ADS_1


.


.


.


"Ayo om berangkat." Ajak Zen semangat.


"Siap bos."


Hendri langsung mengemudikan mobilnya pelan untuk keluar dari halaman rumah Yusuf. Baru juga gerbang terbuka otomatis dan akan keluar dari sana, tiba-tiba saja Hendri harus menghentikan mobilnya.


"Stop ooommm..." Pekik Zen setelah melihat di kursi belakang.


"Kenapa bos?"


"Kak Re mana?"


Tanpa pikir panjang lagi Hendri langsung putar balik lagi mendekati rumah. Hendri mencoba menelponn Reina agar ia tidak sibuk memanggilnya keatas. Tapi sayangnya Reina tidak menerima panggilannya walau sudah dilakukan beberapa kali.


"Om atau Zen yang manggil kakak?"


"Om saja lah. Zen malas keatas."


Hendri langsung keluar dari mobil dan langsung memasuki rumah untuk segera naik ke lantai atas.


"Ada yang ketinggalan Hen?" Tanya Yusuf yang baru keluar dari kamarnya.


"Zen nanyain Rere pak."


"Saya ke atas pak." Ucap Hendri dan langsung dengan cepat dia menaiki tangga. Sepertinya lift dirumah ini hanya untuk pajangan saja.


Tok... tok... tok...


Hendri langsung mengetuk pintu kamar Reina saat sampai di depan kamar Reina. Tak perlu menunggu lama Reina sudah membuka pintu.


"Kenapa?" Tanya Reina saat melihat Hendri lah yang mengetuk pintu kamarnya. Wajahnya bahkan terlihat masam saat melihat Hendri. Ia juga hanya menampakkan wajahnya dan menyembuntikan tubuhnya di belakang pintu.


"Kenapa nggak angkat telpon aku kalau lagi pegang hape?" Tanya Hendri saat melihat tangan Reina yang tengah menggenggam elektronik canggihnya.


"Suka-suka aku. Hape-hape aku. Masalah buat kamu mas." Ucap Reina kesal.


Sedewasa ini bahkan Reina masih sering mengeluarkan sikap aslinya yang sangat manja pada orang terdekatnya. Membuat Hendri hanya bisa menghela nafas memahami Reina yang memang apa adanya.


"Tapi setidaknya kalau ada yang menghubungi kamu itu harus di angkat Re, siapa tahu penting." Nasehat Hendri.


"Karena aku tahu itu nggak penting makannya aku nggak angkat. Aku masih mau main game."


Tangan hendri langsung menahan pintu saat Reina ingin menutupnya. "Yakin nggak mau ikut kita nih?"


"Enggak, enak juga dirumah tidur-tiduran dari pada ikut kalian."

__ADS_1


"Zen nyariin kamu loh."


"Zen atau mas yang kasian sama aku karena nggak ada yang ajak aku kemana-mana." Masih juga Reina berpegang teguh pada hatinya yang kesal hanya perkara nggak di ajakin.


"Aku minta maaf tadi nggak ajak kamu Re, tapi Zen beneran cari kamu."


"Serius mas?" Tanya Reina mulai luluh.


Hendri mengangguk dan tersenyum melihat wajah Reina yang mulai sumringah. "Ayo cepat siap-siap aku tunggu di bawah."


Entah siapa yang membuat Reina senang. Apakah Zen yang masih mengingat kalau adiknya tadi belum mengajaknya. Atau kah Hendri yang meminta maaf karena telah melupakannya. Entahlah.


"Tunggu sebentar mas. Aku hanya perlu ambil tas." Ucap Reina yang langsung menyambar tas Selempang.


"Aku tunggu dibawah saja."


Hendri tahu, menunggu Reina untuk berganti baju dan berdandan hanya akan menghabiskan waktu lama untuk menunggu.


"Aku sudah siap kok." Ucap Reina yang sudah keluar dari kamarnya.


Hendri melihat penampilan Reina yang memang sudah siap. "Kok kamu sudah rapih saja Re?" Tanya Hendri heran.


"Karena aku tahu Zen pasti ingat aku." Ucap Reina yang langsung berlalu begitu saja.


Heran kan. Hendri saja heran dengan ikatan yang dimiliki Zen dan Reina, keduanya seolah sudah mengerti apa yang dapat dirasakan dan di pikirkan satu sama lainnya.


"Tadi aku disuruh nunggu kenapa sekarang aku yang ditinggalin." Gerutu Hendri saat sadar Reina sudah berlalu.


Kini Hendri sudah mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Fokus pada perjalanan agar mereka selamat selama menempuh perjalanan.


"Loh mas kok belok kiri, kan seharusnya kita masih terus." Protes Reina.


"Kita pulang kerumah ku dulu."


"Mau ngapain mas?"


"Mau kasih tahu ibu bapak ku dulu, kalau aku tadi gagal nyari mantu gara-gara serangan bekicot dan kecebong."


"Itu salah mas sendiri." Ucap Reina mulai membela diri.


"Yang salah jelas bekicot sama kecebong. Kenapa jadi aku?"


"Ini nih bibit-bibit playboy nggak sadar diri."


"Siapa yang playboy?"


"Ya mas lah siapa lagi, masak iya Zen."


"Kenapa jadi aku?" Tanya Hendri tak terima. Mobilnya sudah berhenti karena tanpa sadar juga sudah sampai di halaman rumah Hendri.


"Kenalan itu cukup sama satu orang mas, tadi mas nggak tanggung-tanggung. Kenalan sama tiga perempuan sekaligus. Apanya coba kalau bukan playboy." Tutur Reina menjelaskan. "Adek nanti kalau sudah besar nggak boleh seperti om hendri ok." Ucap Reina memperingati.

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan πŸ₯° kasih like dan komennya πŸ’‹ tab favorit juga ya ❀️


__ADS_2