Dikira Janda

Dikira Janda
BAB 65 MENAGIH JANJI


__ADS_3

Bayu melangkah menuju lift sebuah apartemen yang ada di salah satu ibu kota. Malam ini, ia memutuskan untuk menemui Andi untuk menanyakan kembali perihal permintaannya waktu itu.


Sudah sejak satu bulan yang lalu Andi memang membeli apartemen kelas menengah ini. Meskipun masih ia cicil, yang terpenting adalah barang-barang pribadi dan endors bisa tertata rapih.


Andi harus bekerja dengan penuh tanggung jawab. Agar ia bisa berumur panjang di dunia hiburan dan tetap bisa memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarganya yang ada di kampung halaman.


"Masuk." Ucap Andi setelah ia membukakan pintu.


Bayu langsung masuk. Menelisik setiap sudut apartemen yang kini menjadi tempat tinggal Andi.


"Lumayan juga tempat tinggal mu sekarang. Tapi kenapa kamu tidak minta bantuan untuk membeli apartemen di DS Group?"


"Aku juga inginnya begitu. Tapi aku cukup tahu diri untuk tidak memanfaatkan orang yang dengan baik hati menjunjung martabat ku."


"Kamu nyindir aku?" Tanya Bayu tersinggung.


"Bagus kalau kamu merasa begitu." Ucap Bayu santai. Bayu langsung menuju dapur untuk mengambil minuman kemasan dingin yang ada di kulkas.


"Minum." Ucap Bayu setelah meletakkan dua botol kemasan kopi susu dingin. Ia langsung duduk di sofa.


"Kamu sudah mengatakan ke Reina?" Tanya Bayu sambil melihat hiasan dinding yang tertata sangat rapih.


"Belum. Lagi pula aku mana berani mengatakan hal itu ke bu Reina. Aku sayang pekerjaan ku Bay."


"Ck. Tinggal katakan saja apa susahnya. Reina orang baik kok, gampang banget dia buat nolongin orang yang pintar berkata manis."


"Sudah tahu bu Reina orangnya tulus. Kenapa juga kamu manfaatin dia?" Andi memperhatikan cara Bayu berjalan mendekatinya.


"Ck. Itulah be*gonya dia. Sudah jelas baru kenal sama aku. Sudah main baper saja di bilang dengan kata-kata manis." Bayu terkekeh mengingat hubungannya dengan Reina. "Sudah gitu kolot banget, pacaran saja nggak mau pelukan atau ciuman. Hari gini hanya pegangan tangan, mana enak."


"Kalau aku jadi bu Reina juga mungkin aku akan terbawa arus. Aku sendiri yang laki-laki saja sempat menilai kamu baik, pekerjaan keras, memahami orang sekitar, tidak suka merendahkan orang lain. Tapi ternyata zonk." Cibir Andi terus terang.


Bayu langsung meneguk air dingin di atas meja kemudian ia terkekeh mendengar dirinya di cibir Andi.


"Jalan kamu seperti aneh tadi. Kenapa?"


"Kemeng junior ku."


Andi tersenyum sinis. "Kamu masih main sama partner ranjang mu?"


"Ya enggak lah, yang ada uang aku habis kalau make itu perempuan."

__ADS_1


"Jangan bilang kamu kena HIV." Tebak Andi.


"Amit-amit." Bayu bergidik. "Aku main sama tante-tante berduit. Aku harus cari cara biar pembayaran apartemen dan mobil tetap lancar."


"Kamu jadi gi*golo?"


"Lebih tepatnya simpanan seorang tante yang kurang belaian dari suaminya."


"Gila kamu Bay. Jangan ngerusak rumah tangga orang Bay."


"Makannya aku minta bantuan kamu buat masuk dunia entertainment lagi. Biar aku gak main sama istri orang. Gila itu perempuan maniak se**ks. Sekali ketemu gak cukup hanya satu atau dua kali."


"Jual aja itu mobil sama apartemen biar kamu nggak punya banyak tanggungan." Usul Andi yang menurutnya lebih baik.


"Terus aku harus tinggal dimana? kalau aku mau kemana-mana aku naik apa?"


"Ya tinggal di kostan seperti dulu lalu beli motor."


"Ogah."


"Gengsi jangan di gedein Bay."


"Kamu ngomong gampang. Coba kamu jadi aku biar tahu rasanya gimana kehilangan semuanya."


"Sindir saja terus." Kesal Bayu.


"Lagian, bukannya pak Yusuf sudah mulihkan akun ojek online mu, dan media sosial mu. Manfaatkan saja itu dengan baik."


"Aku pernah sekali ngojek online pake mobil. Dan kamu tahu setelah tahu aku drivernya, dengan seenak jidat dia ngata-ngatain aku dan langsung cancel pesanannya. Dan waktu itu aku coba aktif lagi di media sosial, hanya satu postingan foto saja semua komentarnya hanya berisi hujatan."


"Coba kamu berubah Bayu. Demi kebaikan diri kamu sendiri."


.


.


.


Setelah makan malam tadi, Bu Rumi dan pak Makruf hanya sebentar ikut menonton cara televisi di ruang keluarga. Mereka berdua lebih memilih untuk segera istirahat lebih dulu.


Hendri melihat jam yang ada di ruangan itu. "Tidur yuk." Ajaknya.

__ADS_1


"Mas sudah ngantuk?" Tanya Reina masih terpaku dengan acara yang sedang tayang.


"Kita lanjut nonton di kamar saja." Usul Hendri melihat Reina yang masih nampak seru melihat acara azab.


"Ide bagus. Tapi nunggu iklan ya mas."


"Lagian kamu kaya emak-emak aja suka acara begituan. Yang emak-emak sepuh saja udah masuk kamar duluan tuh."


"Ih mas ini, sejak tadi pasti gak perhatikan acaranya."


"Lebih menarik kamu yang aku lihat dari pada televisi."


"Sumpah mas gombal banget. Tuh lihat judulnya mas biar mas tahu kenapa aku lihat." Ucap Reina sambil mengarahkan wajah Hendri agar melihat televisi.


"Azab suami berselingkuh dengan teman sekantornya." Ucap Hendri membaca judul. "Astagfirullah sayang. Untung aku nggak lihat dari tadi acaranya." Hendri meraih remote lalu mematikan televisi. "Perasaan punya channel sendiri ngapain lihat acar channel tetangga."


"Awas saja mas sampek berani selingkuh dari aku. Jangan salahkan aku kalau mas sampai ngerasain sunat dua kali."


"Ganas ya kamu sayang. Lagian siapa juga yang mau selingkuh dari kamu." Hendri langsung beranjak.


"Loh aku kok di tinggal sih mas." Pekik Reina tidak terima.


"Lagian siapa suruh negatif thinking sama suami sendiri."


Reina langsung beranjak dari sofa. Dengan cepat ia lari dan langsung hinggap di punggung Hendri. Beruntung tubuh Hendri tinggi besar jadi tidak membuatnya oleng. Hendri sigap menggendong Reina dari belakang. Sungguh sikap kekanakan yang sangat Hendri sukai. Membuat Hendri tersenyum dengan tingkat Reina sekarang.


"Mas marah?" Bisik Reina tepat di telinga Hendri.


"Enggak. Kamu pasti bucin banget ya sama aku sampek mikir jauh kesana?"


"Eh, yang bucin itu kan mas. Kenapa jadi aku." Meski ucapan Hendri benar tapi Reina jelas gengsi mengakuinya.


"Ya ya ya, aku mau menagih janji."


"Janji apa mas?" Tanya Reina merasa tidak punya janji dengan sang suami.


"Menagih tiga ronde ku." Hendri sedikit berlari menaiki anak tangga agar mereka cepat sampai kamar.


"Mas mesuuummm..." Pekik Reina tertahan takut kalau mertuanya mendengar suaranya.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan πŸ₯° kasih like dan komennya πŸ’‹ tab favorit juga ya ❀️


__ADS_2