
"Huek ... huek ..." Hendri langsung keluar dari mobil setelah sampai di halaman rumah. Ia menutup mulutnya agar tidak memuntahkan semua isi perutnya.
"Loh, Papa Vy kenapa itu kok tiba-tiba mual?" Reina mengajak bicara anaknya yang sudah berusia tujuh bulan lebih. Ia segera keluar dari mobil untuk menyusul sang suami.
"Hendri kenek opo kae nduk?"
"Rere juga nggak tahu Bu." Reina memberikan Divya pada Bu Rumi. "Vy sama nenek dulu ya, Mama mau ngurusin Papa dulu."
Reina segera naik ke lantai atas dengan cepat. Ia juga jadi sangat khawatir dengan suaminya.
"Mas kenapa?" tanya Reina saat sudah ikut masuk ke dalam kamar mandi. Reina langsung memijat tengkuk Hendri agar apa yang ingin Hendri keluarkan segera tuntas.
"Sebenarnya sejak tadi perut ku rasanya nggak enak," ucap Hendri setelah membersihkan mulutnya.
"Mungkin mas masuk angin. Mau minum obat anti angin atau aku kerokin?"
"Kerokin saja sayang. Vy di mana?" tanya Hendri sambil menuju ranjang mereka.
"Sama ibu di bawah Mas." Reina langsung mengambil alat tempur untuk membuat warna di punggung Hendri. "Ayo Mas, buka bajunya."
Punggung Hendri sudah Reina lukis dengan karya terbaiknya. "Kok nggak merah sih Mas?" Reina keheranan melihat hasil kerokannya.
__ADS_1
"Mungkin aku memang hanya mual biasa sayang." Hendri langsung beranjak dari tempat tidur untuk ganti baju yang lebih santai. Karena mereka tadi pulang dari acara pernikahan Gita dan Andi.
Gita dan Andi pada akhirnya jauh lebih dekat karena kejadian saat Reina membawa pulang mobil Gita. Hingga saatnya mereka berdua memutuskan untuk menikah. Lagi pula kenapa harus menunda hal baik jika keduanya sudah sama-sama siap.
"Atau kita periksa saja Mas," Reina tentu sangat khawatir dengan keadaan Hendri saat ini.
"Nggak usah sayang. Nanti juga pasti sembuh."
.
.
.
Karena merasa khawatir dengan lelaki yang dulu di anggap adiknya sendiri dan ternyata kini menjadi menantu yang berhasil memberikan Yusuf cucu. Tentu saja keadaan Hendri saat ini membuat Yusuf khawatir. Karena Hendri tidak mau di ajak ke rumah sakit, akhirnya Yusuf memutuskan memanggil dokter Rudy.
Semua orang sedang menunggu hasil pemeriksaan yang sedang di lakukan dokter Rudy. Wajah semua orang bahkan terlihat sangat khawatir.
"Bagaimana dok?" tanya Rere yang sudah sangat khawatir.
"Tidak ada masalah yang serius. Tekanan darahnya normal, tidak ada masalah juga di perut Hendri." Tutur dokter Rudy.
__ADS_1
"Tapi Mas Hen sakit sudah tiga hari ini Dok. Bagaimana mungkin dokter bilang tidak ada masalah serius," Reina benar-benar tidak puas dengan hasil yang di utarakan dokter Rudy barusan.
"Kakak." Nissa menepuk punggung Reina agar merasa lebih tenang.
"Kita ke rumah sakit saja ya Mas."
"Nggak usah Re, nanti juga pusing ku hilang sendiri." Hendri langsung bangun dari posisi tidurnya.
"Maaf, Apa Rere sedang hamil?" tanya dokter Rudy tiba-tiba.
"A-apa dok?" tanya Reina tak percaya dengan pertanyaan dokter Rudy barusan.
Tentu semua orang yang ada di sana langsung menatap Reina.
"Dari cerita pak Yusuf saat menelepon tadi, saya berpikir kalau Rere sedang hamil." Melihat wajah Reina yang terkejut, dokter Rudy langsung mengambil alat tes kehamilan yang senagaja ia bawa. "Coba di tes dulu."
Wajah Reina sudah mulai memucat, melihat tangan dokter Rudy yang mengulurkan alat tes kehamilan.
Bersambung ...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan π₯° kasih like dan komennya π tab favorit juga ya β€οΈ
__ADS_1