Dikira Janda

Dikira Janda
BAB 126 MENGURUS BAYI TENGAH MALAM


__ADS_3

Setelah menyelesaikan administrasi rumah sakit, Hendri langsung membawa Reina dan bidadari mungilnya pulang ke rumah.


Bu Rumi dan Pak Makruf tentu menyambut anak dan mantunya serta cucu pertamanya dengan rasa suka cita.


Para tetangga yang kenal akrab dengan keluarga Pak Makruf juga datang untuk melihat bayi yang masih merah itu. Tentu dengan catatan tidak boleh mengabadikan momen apapun menggunakan alat elektronik yang mereka miliki.


.


.


.


Di sekolah Zen saat istirahat, Zen nampak berkumpul dengan beberapa teman akrabnya.


"Kalian tahu nggak." Ucap Zen.


"Apa?" tanya salah satu temannya.


"Tadaaa ..." Zen mengeluarkan selembar foto keponakannya yang kemarin baru saja lahir.


Tentu saja kemarin Nissa meminta salah satu pekerja untuk mencetakkan salah satu foto princess sesuai dengan permintaan Zen.


"Waaahhh ... adik bayinya siapa ini Zen?" salah satu teman Zen langsung menyambar selembar foto yang Zen letakkan diatas meja.


"Adik bayi ku dong, cantik kan?" Bangga Zen memamerkan foto keponakannya.


"Cantik Zen, kaya adik aku. Cantik."


"Cantikan adik aku." Ucap lain.


"Adik akulah yang paling cantik." Sambung yang lainnya lagi.


"Hei hei ... yang menang itu aku, karna punya adik cantik dan ganteng." Tutur yang lain.


"Ganteng juga adik aku." Sahut yang lain tidak mau kalah.


"Stop ... stop ..." Zen melerai teman-temannya dengan gaya sok bijaknya.


"Semua adik perempuan kita itu cantik dan yang punya adik laki-laki juga semuanya ganteng."


"Itu bener kata Zen." Sambung yang lain.


"Tapi tetap saja yang paling cantik itu adik aku, dan yang paling ganteng itu aku." Tambah Zen dengan sikap over dosis tinggi tingkat kepedeannya.


"Adik kamu memang paling cantik Zen. Apa lagi kalau fotonya buat aku." Ucapnya sambil menyambar foto di tangan Zen lalu ia lari sekuat tenaga.

__ADS_1


"Hai kembalikan foto adik aku ..." Zen yang tidak terim foto adiknya di sambar temannya tentu ia langsung mengejar temannya itu.


.


.


.


Setelah menjemput Zen pulang sekolah, Nissa langsung menuju bandara untuk menjemput kedua orang tuanya yang sudah tidak sabar melihat cicit mereka.


Sedangkan Amira yang masih aktif sekolah tentu tidak di ajak. Amira mereka titipkan pad Luna dan Adam untuk sementara waktu.


Sesampainya di rumah Pak makruf mereka saling bersalaman dan berbagi kabar mereka. Disana juga sudah ada Yusuf. Om yang baru baru ini mendapatkan gelar Opa itu sepertinya sudah tidak betah berada di kantor. Karena terus terbayang wajah mungil cucu pertamanya.


Jumiasih memeluk Reina erat. Mengucapkan selamat karena kini telah menjadi seorang ibu. Kehidupan yang tentu sangat sempurna di mata para senior.


Mereka semua saling berbincang, membuat suasana rumah itu benar-benar ramai.


Reina tersenyum melihat semua orang yang ia sayangi berkumpul. Meski keluarganya belum lengkap berada disana.


Reina menatap Jumiasih dan Jaya yang sejak tadi terus menimang bayinya. Nampak jelas terlihat wajah berseri bahagia saat menimang anaknya. Wajah yang nampak bahagia sama seperti saat menimang Zen dulu.


"Terimakasih Oma, telah menjodohkan Ayah dengan Nda. Membuat Rere merasakan kasih sayang seorang ibu tanpa pernah kurang sedikit pun meski sudah adanya Zen. Perempuan yang dulu sangat tidak Rere sukai tapi sangat menyayangi Rere dan keluarganya pun begitu menyambut hangat Rere . Menyayangi dan mencintai Rere seperti cucu mereka sendiri," Ucap Reina dalam hati. Tanpa terasa, air mata Reina jatuh bebas begitu saja.


"Kenapa menangis hemmm ..." Tanya Hendri yang sejak tadi duduk di sisi istrinya. Tangannya mengusap air mata Reina yang tiba-tiba saja jatuh.


"Aku selalu berharap kamu akan terus bahagia seperti ini sayang."


"Aku pasti akan bahagia jika bersama Mas dan keluarga kita."


.


.


.


Hendri terbangun saat mendengar suara tangis anaknya. Ia melihat Reina yang nampak masih lelap tak terusik. Wajar saja, karena mereka baru satu jam yang lalu tertidur.


Hendri segera bangun dan langsung turun dari atas ranjang untuk menuju box bayi yang ada di dekat Reina.


Sesuai dengan pengetahuan yang di dapat dari dokter dan aplikasi merah, Hendri mengecek terlebih dahulu popok yang di gunakan Princess.


"Uluh uluh anak Papa eek ya."


Hendri bergegas membersihkan boko*ng anaknya. dan saat itu bayinya langsung diam tidak menangis lagi.

__ADS_1


"Oh iya. Papa belum ambil air hangat buat princess papa. Sebentar ya nak." Hendri menyelimuti anaknya terlebih dahulu. Kemudian Hendri segera ke kamar mandi untuk mengambil air hangat dan juga waslap.


Dengan penuh hati-hati Hendri mengusap bokong anaknya untuk membersihkan sisa eek yang menempel pada kulit anaknya. Setelah bersih Hendri segera mengeringkan dan mengganti alas tidurnya.


Hendri segera memakaikan popok anaknya. Setelah di rasa tubuh anaknya menggunakan pakaian hangat. Hendri langsung menggendong bayinya dan membangunkan Reina agar segera mengASI.


"Laaahhh ... pintarnya anak Papa. Selesai eek sekarang Pipis." Tutur Hendri saat merasakan telapak tangannya yang basah tiba-tiba. Ia kembali meletakkan bayinya dan segera mengganti popok bayinya lagi.


"Sayang." Hendri mencoba membangunkan tidur lelap Reina. Sejujurnya ia tidak tega membangunkan istrinya, tapi mau bagaimana lagi karena bayinya butuh penampung nutrisi terbaik di dunia agar kembali lelap lagi. "Sayang ..."


Reina langsung membuka kedua matanya saat tubuhnya terasa mendapatkan sentuhan. "Eh Mas."


"Maaf aku bangunkan kamu, tapi princess bangun tadi karena eek."


"Oh iya, aku ganti dulu popoknya sini." Pinta Reina.


"Popoknya sudah aku ganti sang. Sekarang kamu su*sui dulu ya, biar dia kembali tidur."


Reina langsung mengambil alih princess. "Ya Allah ... Mas aku minta maaf, aku pasti tidur kaya kebo sampai nggak tahu princess eek jadi Mas yang menggantikan popoknya."


"Princess anak kita sayang. Jadi aku juga harus ikut andil mengurusnya. Sudah cepat keluarkan itu." Hendri menunjuk dada Reina.


"Oh iya." Sepertinya nyawa Reina belum terkumpul seratus persen. Reina segera mengASI bayinya agar kembali terlelap.


"Kenapa Mas nggak cepat tidur?"


"Aku tunggu kamu selesai ASI sayang." Jawab Hendri setelah menguap.


"Sebaiknya Mas tidur lebih dulu. Biar bisa gantian meleknya. Kalau Mas tunggu aku nanti takutnya karena terlalu mengantuk kita berdua tidak dengan saat princess menangis."


"Kalau begitu, aku tidur duluan ya sayang." Reina tentu langsung mengangguk. Hendri mencium kening Reina terlebih dulu baru kembali tidur.


Benar apa yang di katakan Reina, Hendri terbangun saat mendengar rengekan bayinya. Sedangkan Reina masih nampak lelap.


Yang dilakukan Hendri pertama kali tentu seperti semalam, ia harus mengecek popoknya terlebih dahulu.


"Eh Mas, princess bangun?" Reina segera beranjak.


"Biar aku saja yang ganti popoknya sayang."


"Nggak apa-apa Mas, biar aku saja. Maaf ya Mas, kok bisa sih aku jadi ibu nggak peka begini anaknya menangis." Gumam Reina menyalahkan diri sendiri.


Bersambung...


Ada yang mau usul nama buat anak Mas Hen sama Reina πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

__ADS_1


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan πŸ₯° kasih like dan komennya πŸ’‹ tab favorit juga ya ❀️


__ADS_2