Dikira Janda

Dikira Janda
BAB 62 GHIBAHIN YUSUF


__ADS_3

Satu bulan sudah berlalu. Reina dan Hendri sudah pulang dari acara honeymoon romantis mereka berdua sejak satu minggu yang lalu. Sebenarnya bukan kali pertama bagi Reina mengunjungi negara yang masuk dalam list honeymoon nya. Namun karena kali ini ia bersama sang suami. Tentu itu memberikan sebuah momen dan kesan yang tidak akan mungkin ia lupakan sepanjang usianya.


Sudah tiga hari ini Reina dan Hendri kembali aktif dengan pekerjaan mereka. Meskipun sebenarnya mereka masih ingin liburan. Tidak dapat di pungkiri, akan banyak pekerjaan yang terbengkalai sekalipun sudah ada menghandle.


"Permisi bapak Hendri." Ucap Reina setelah masuk ke dalam ruang kerja suaminya.


"Ada yang bisa saya bantu, ibu Reina?" Tanya Hendri setelah melepas kaca mata yang selalu ia kenakan saat bergelut dengan layar komputer.


Reina langsung menghampiri suaminya, dan langsung duduk di pangkuan Hendri. "Mas."


"Kenapa?" Tangan Hendri melingkar erat Di pinggang Reina.


"Aku mau izin ke pabrik sama mbak Gita boleh nggak?" Tanya Reina dengan suara yang di manja-manjain.


"Mau sama Gita atau perlu aku antar?"


"Nggak usah sok menawarkan jasa deh mas." Tutur Reina setelah memukul pelan dada Hendri. "Tuh pekerjaan mas saja numpuk." Tunjuk Reina ke beberapa berkas yang menumpuk dan layar komputer. "Kalau mas mengesampingkan pekerjaan demi aku, bisa bahaya mas."


Hendri mengerutkan kening. "Bahaya gimana?"


"Bahaya kalau nanti kita nggak di gaji sama bapak Yusuf. Apalagi kalau kita sampai di pecat."


Hendri dan Reina terkekeh pelan. Bisa-bisanya mereka ngeghibahin ayah mereka sendiri.


"Jangan bicara sembarangan sayang. Banyak CCTV disini." Timpal Hendri yang di angguki Reina.


"Jadi bagaimana, boleh nggak?"


"Tentu boleh dong sayang. Yang terpenting harus hati-hati."

__ADS_1


Hendri sepenuhnya sadar dengan pekerjaan Reina. Maka ia tidak bisa mengekang apapun yang berkaitan dengan tanggung jawab dan karir yang Reina bangun. Bukanya hal mudah bagi Reina bisa merambah menjadi desainer disaat banyak orang yang sudah terkenal seperti saat ini.


"Hen..."


Seketika Reina lompat dari atas pangkuan Hendri dan Hendri pun spontan langsung berdiri, saat Yusuf masuk begitu saja.


"Hadeehhhh... Kalau mau mesra-mesraan sebaiknya pintu di kunci." Ucap Yusuf yang terdengar kesal namun malah memberi saran. Ia langsung menutup pintu kembali dan langsung menuju ruangannya sendiri.


"Ini masih jam kerja sayang."


"Aku tahu mas."


"Sepertinya kita akan dapat surat peringatan setelah ini."


"Apa setega itu pak Yusuf sama kita mas?"


*


Dimana tempat ia selalu mesra dengan Nissa. Seolah dunia milik berdua sedangkan yang lainnya hanya numpang lewat.


"Kok jadi kangen ya." Gumam Yusuf sambil meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja. Jarinya langsung bermain lincah pada layar ponselnya.


Nissa : "Assalamualaikum ayy."


Yusuf : "Waalaikumsalam. Sayang lagi apa?"


Nissa : "Lagi nunggu jam."


Yusuf : "Ngapain sayang nunggu jam. Lebih baik sekarang ke kantor dari pada di rumah."

__ADS_1


Nissa : "Mau ngapain aku ke kantor ayy? Lagian aku lagi nunggu Waktunya jemput Zen." Nissa sudah hapal dengan gelagat Yusuf yang suka mengerjainya.


Yusuf : "Sayang kirim aku makan siang. Baru jemput Zen." Mohon Yusuf dengan suara yang di buat sok manja pada istrinya.


Nissa : "Ini makan siang apa makanan singa?" Yusuf memang selalu bikin Nissa over thinking.


Yusuf : "Makan siang nambah makanan singa sayang."


Nissa : "Aku nggak mau ya ayy. Takut nanti telat jemput Zen. Pokoknya cukup makan siang."


Yusuf : "Ya sudah. Kita hanya makan siang sayang."


Setelah sambungan teleponnya berakhir. Yusuf tersenyum menyeringai, sungguh berkah baginya memiliki istri seperti Nissa yang selalu saja percaya pada ucapan Yusuf.


"Permisi bapak Yusuf." Ucap Reina yang mampu membuyarkan ide nakal yang ada di kepala Yusuf.


"Sudah selesai kalian?" Tanya Yusuf setelah berdeham menetralkan isi kepalanya untuk segera kembali bekerja.


"Sudah. Ini saya kembalikan sekertaris bapak." Ucap Reina sambil mendorong punggung Hendri agar masuk ke dalam ruangan Yusuf.


"Terimakasih atas pengertiannya."


"Sama-sama bapak Yusuf."


"Aku berangkat ya mas." Ucap Reina tanpa bersuara saat Hendri menatapnya.


"Hati-hati Ratu bekicot." Tutur Hendri ikut berbicara tanpa suara.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan πŸ₯° kasih like dan komennya πŸ’‹ tab favorit juga ya ❀️


__ADS_2