Dikira Janda

Dikira Janda
BAB 35 BERITA VIRAL


__ADS_3

Reina melangkah cepat menuju mobilnya setelah ia keluar dari lift. Mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Pagi ini jalanan sudah nampak rapat, kendaraan yang memadati jalanan.


"Hais, sepertinya aku perlu kedokteran mata untuk memeriksa kesehatan mata ini. Bisa-bisanya waktu itu aku tertarik dengan manusia mulut lamis." Gerutu Reina sambil bergidik ngeri.


"Apa hati ku juga terkontaminasi virus sehingga bisa menaruh hati dengan lelaki seperti itu? ouuuhhh..." Lagi-lagi Reina bergidik.


"Sepertinya aku harus benar-benar ke rumah sakit agar dokter cepat mengobati mata dan hati ku." Reina terdiam. "Kyaaa... Bahkan aku juga harus membersihkan otak dan tangan ku juga karena pernah memikirkan dan disentuh pria seperti dia." Semakin nggak jelas sendiri Reina berbicara di dalam mobilnya sendiri.


Reina masih terus melakukan mobilnya hingga sampai mobil kesayangannya memasuki halaman rumah. Reina langsung keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah.


"Dari mana Re?" Tanya Hendri saat Reina melewati ruang tamu begitu saja.


"Eh mas. Kok disini?" Reina melangkah mendekati Hendri yang duduk di sofa.


"Kamu dari mana?" Tanya ulang Hendri.


"Habis buang sampah masyarakat mas."


"Aku sudah meminta pihak yang membeli rancangan mu untuk memberi klarifikasinya. Beruntung pihak sana tidak menyulitkan kita. Mereka mengakui rancangan itu milik mereka karena telah membeli dari seseorang dan memberikan dengan cuma-cuma hak karya."


"Lagian orang bodoh mana yang mau merancang lalu di jual cuma-cuma hanya demi uang yang tidak seberapa. Dasar parasit." Marah Reina.


"Kenapa tadi tidak cepat menghubungi aku hem."


"Mas pernah bilang ke aku masalah seperti apapun aku harus coba hadapi dan selesaikan sendiri. Jika sudah tidak bisa baru meminta bantuan." Ungkap Reina.


pletak...


"Aw... mas, sakit." Reina menggosok-gosok keningnya.


"Ini beda Re, kamu datang ke apartemen Bayu seorang diri."


"Tunggu mas jangan salah paham. Disana bukan hanya ada aku dan Bayu, tapi ada perempuan bayaran Bayu." Lagi-lagi Reina bergidik. "Untung aku buang tu laki hidung zebra, kalau aku sampai jadi nikah sama dia pokoknya mas yang salah."


"Kenapa jadi aku?"


"Mas sih nggak gercep rebut aku. Coba kalau bukan aku yang ci..."


Hendri yang tahu arah tujuan ucapan Reina langsung bertindak cepat membekap mulut Reina. Sekate-kate saja Reina mau membocorkan perbuatan mereka yang kelewat hot. Kan bahaya kalau sampai ada yang dengar. Apalagi kalau sampai bapak Yusuf tahu. Bisa-bisa Hendri kena kartu merah.


"Jangan dibahas lagi soal itu." Reina mengangguk mendengar ucapan Hendri. "Masih perlu menambah pelajaran untuk Bayu?"


"Aku ingin." Ucap Reina pelan saat mengingat bagaiman Bayu menghina Ayah dan bundanya yang sudah tiada. "Tapi aku nggak mau menyimpan dendam. Tapi jika sampai berulah, aku pastikan dia akan menyesali perbuatannya sendiri mas."

__ADS_1


Hendri mengangguk. Meski tidak setuju tapi Hendri memilih mendukung apa yang menjadi keputusan Reina. "Aku kembali kantor sekarang."


"Loh mas bukannya mau jemput calon mertua."


"Calon mertua kan sudah cuti kerja karena anaknya mau menikah."


"Mas juga seharusnya cepat cuti kerja."


"Iya. Hari ini juga aku terakhir ke kantor mengikuti ucapan pak bos." Jelas Hendri yang langsung berdiri.


Reina juga ikut berdiri dan merentangkan kedua tangannya. "Peluk." Pintanya manja.


"Kita lakukan setelah sah ok."


"Sebentar saja mas." Semakin manja saja Reina dalam merayu.


Hendri langsung menyentuh kedua pundak Reina lalu memutar tubuh ramping calon istrinya. "Disana ada mata-mata sejak tadi." Ucap Hendri berbisik.


Reina langsung meringis menatap Yusuf dan Jaya yang berdiri di ambang pintu. Kedua tangan Reina pun langsung jatuh begitu saja. "Ayah, Mbah." Reina langsung menghampiri kedua lelaki yang mengawasinya.


.


.


.


Reina dengan muka bantalnya langsung keluar menuju balkon.


"Itu rame-rame ngapain sih pak?" Tanya Reina pada petugas yang membersihkan halaman.


"Itu mbak, banyak wartawan yang ingin bertemu dengan bapak Yusuf."


"Loh memang ada apa pak?" Reina jadi Heran sekarang.


"Saya kurang tahu mbak."


Reina langsung masuk ke dalam kamarnya dan langsung mengambil ponselnya. Pasti ada sesuatu yang tengah menjadi pembahasan sehingga banyak wartawan yang tengah menunggu ayahnya.


...Dampak kenakalan remaja seorang Yusuf Dzuhairi Sucipto saat berusia 17 tahun hingga mengakibatkan seorang mahasiswi cantik hamil hingga tewas....


...Pimpinan DS Group tidak mempublikasi anak hasil Zina karena malu....


...Dosa yang di lakukan Yusuf, Hingga membuat istrinya meninggal dunia....

__ADS_1


...Erlin Naura Hidayat meninggal dunia karena malu telah memiliki anak di luar nikah....


...Ternyata owner R-DS Fashion adalah anak haram....


...Anak haram Yusuf Dzuhairi Sucipto adalah pemilik R-DS Fashion....


...Pewaris utama DS Group adalah anak pimpinan yang masih berusia lima tahun....


...Anak hasil zina pimpinan DS Group tidak berhak mendapatkan warisan....


Setidaknya itulah kabar berita yang kini viral di berbagai media sosial. Reina terduduk di lantai karena tubuhnya yang tiba-tiba saja terasa lemas.


Sungguh diluar dugaan Reina, jika berita yang sudah silam, tidak pernah menjadi topik pembahasan kini kembali Viral dan menjadi topik pencarian utama.


Sejak tadi bahkan Reina mengabaikan ketukan pintu karena terpaku pada layar ponselnya.


"Ternyata kamu masih mau bermain-main dengan ku? Baru tadi pagi aku ingin membiarkan mu, agar kamu bisa tetap mencari uang untuk keluarga mu di kampung."


Reina mencengkram erat bajunya dengan rasa marah yang ingin ia lupakan.


Jari Reina langsung bergerak cepat pada layar ponselnya untuk menghubungi nomor seseorang.


"Blokir nomor rekening atas nama Bayu Hardityan. Dan blacklist namanya agar dia tidak bisa masuk ke dunia entertainment lagi. Termasuk media sosial yang dia gunakan. Lakukan apapun yang berkaitan dengan nama itu, agar dia jera dan sadar diri sedang berbuat masalah dengan siapa dia sekarang ini." Perintah Reina setelah orang diseberang sana menerima teleponnya.


"Sejak tadi saya sudah melakukannya."


"Siapa yang menyuruh mu."


"Pak Hendri."


Barulah Reina ingat jika ia memiliki nomor orang yang sedang berbicara dengannya itu dari Hendri.


"Bagus. Cepat lakukan apapun agar berita ini segera tenggelam. Aku tidak mau nama ayah dan bunda ku bahkan seluruh keluarga ku menjadi bahan pergunjingan orang diluar sana."


"Siap bos."


"Ck ck ck aku yakin setelah ini kamu menyesal mengambil langkah seperti ini Bayu." Gumam Reina setelah mengakhiri panggilan seluler dengan orang kepercayaan.


Bersambung...


Selamat siang beb beb nya aku yang sudah setia dukung karya-karya ku. Aku mau minta maaf ya jika mulai besok sampai tanggal 10 Mei aku gak setiap hari update di karena nanti sore aku mudik ke Jawa, tepatnya Sumowono, Semarang, Jawa Tengah. mungkin disini ada orang Jawa tengah.


Tapi aku akan tetap nulis jika memang ada kesempatan ya. Tapi jika nggak update jangan di cariin namun harus tetap setia menunggu aku update ok ok ok πŸ’œπŸ’œπŸ’œ

__ADS_1


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan πŸ₯° kasih like dan komennya πŸ’‹ tab favorit juga ya ❀️


__ADS_2