Dikira Janda

Dikira Janda
BAB 80 DIMINTAI CICIT


__ADS_3

Jika sudah ada Hendri, tentunya Zen lari pagi dengannya. Dan hal itu di manfaatkan Yusuf dengan sangat baik untuk menambah pekerjaan Nissa.


Di hari libur seperti ini, pasti banyak penghuni perumahan yang keluar dari rumah untuk menikmati suasana sekitar.


"Ayo mas, lari..." Teriak Zen sambil lari ngebut dengan langkah kecilnya.


"Duluan saja bos." Teriak Hendri sambil mengikuti Zen.


Bocah kecil itu apa ya tidak sadar. Kalau Hendri ikut lari ngebut, tentu saja dia akan tertinggal jauh. Membuat Hendri hanya bisa geleng-geleng kepala sendiri.


Meskipun Zen lari lebih dulu. Tapi sesekali ia menengok kebelakang, pikirnya takut kalau Hendri tertinggal jauh.


Tapi ternyata, Zen malah di buat jengkel dengan orang sekitar. Karena banyak perempuan dewasa yang menatap Hendri seolah sedang terpana.


Jika Zen menyadari hal itu, tentu tidak dengan Hendri. Suami Reina ini hanya fokus pada Zen tanpa perduli dengan sekitarnya.


Zen langsung melangkah cepat menuju Hendri saat ada tiga orang perempuan tiba-tiba menghadang Hendri yang lari santai.


"Daddyyy..." Teriak Zen yang langsung lari.


Suara Zen yang khas membuat Hendri langsung melihat adik iparnya. Dan ke tiga perempuan itu langsung menyingkir dari depan Hendri agar Zen bisa lewat.


"Daddy kenapa lama sekali?" Tanyanya sambil merentangkan kedua tangannya agar Hendri segera menggendongnya.


Hendri langsung menggendong Zen. Ia paham, Zen sedang mengajaknya akting.


"Maafkan daddy, tante-tante ini tanya ke Daddy dimana pintu utama keluar dari perumahan ini?"


Zen menatap tidak suka pada tiga perempuan disana. "Tidak semua orang bisa masuk ke perumahan ini tante. Jangan bohong buat dekati daddy Zen."


Seketika ucapan Zen barusan membuat wajah tiga perempuan disana lecek.


"Ayo dad, kita pulang. Mommy pasti sudah menunggu kita pulang."

__ADS_1


"Ayo."


Tanpa permisi, Hendri langsung melangkah meninggalkan tiga perempuan disana. Sedangkan Zen semakin mengeratkan kedua tangannya di leher Hendri. Menatap tajam kearah tiga perempuan yang masih menatap Zen.


.


.


.


Wati : "Assalamualaikum sayang." Salam Wati setelah menerima panggilan video call dari Reina.


Reina : "Waalaikumsalam. Oma sehat?"


Wati : "Alhamdulillah, Oma sehat nak. Rere sehat juga kan?"


Reina : "Alhamdulillah. Rere sangat sehat."


Wati : "Bahagia sekali ya sekarang cucu Oma."


Wati : "Oma mau Ziarah ke makam opa, oma, dan bunda kamu sayang."


Reina : "Rere bahkan belum ziarah." Ucap Reina lesu.


Wati : "Nggak apa-apa. Oma mewakili kita semua. Yang terpenting Rere selalu doakan yang sudah lebih dulu berpulang."


Reina : "Tentu oma."


Reina menatap Hendri yang baru keluar dari kamar mandi. Tubuh segar dan wangi yang hanya di tutupi handuk yang melilit pinggangnya.


"Dasar kang pamer aurora nggak kenal waktu. Perasaan di kamar mandi ada bethrobe deh." Gerutu Reina dalam hati. Sungguh pemandangan indah yang sedang melambai seolah ingin di nikmati. Reina langsung menggelengkan kepalanya kuat-kuat untuk mengusir pikiran terkutuk di pagi hari.


Wati : "Kenapa sayang?" tanya Wati yang heran melihat Reina.

__ADS_1


Reina : "Itu oma, ada roti sobek yang begitu menggugah selera."


Hendri yang sedang mengenakan baju dan mendengar jelas ucapan Reina langsung menoleh menatap sang istri.


"Mesum." Ejek Hendri tanpa suara. Membuat Reina langsung melengos.


Wati : "Kok tumben Rere


sarapan di kamar?" tanya Wati. Ia jelas tahu sekarang memang jam sarapan.


Reina : "Ehm iya oma. Karena dikamar ada roti sobek sisa semalam jadi Rere mau ngabisin sekarang. Sayang kalau di buang."


Wati : "Oh... tapi setelah ini Rere harus makan makanan yang sehat. Biar oma cepat dapat cicit."


Ucapan Wati barusan tentu membuat Reina salah tingkah dengan wajah yang mulai memerah. Reina menatap Hendri, dan seketika itu Hendri mengedipkan satu matanya untuk menggoda Reina.


Reina : "Ehm... doakan Rere ya oma. Semoga Rere cepat di karuniai malaikat kecil."


Wati : "Aamiin... doakan oma sehat dan panjang umur. Agar oma di beri kesempatan untuk gendong cicit."


Reina : "Aamiin..."


Hendri langsung naik keatas ranjang setelah sambungan video call berakhir.


"Mas mau apa?" tanya Reina saat Hendri semakin ingin mengungkungnya.


"Bukannya kamu ingin menghabiskan roti sobek sisa semalam? Jadi dengan suka rela aku berikan." Jawab Hendri sengaja menggoda Reina.


Reina menjatuhkan tubuh Hendri kesamping dan dengan cepat ia turun dari atas ranjang.


"Mas Hen mesuuummm..." Pekik Reina. Ia langsung melarikan diri keluar dari kamar.


"Perasaan tadi dia yang mesum." Ucap Hendri sambil terkekeh melihat tingkah Reina yang sudah kabur.

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan πŸ₯° kasih like dan komennya πŸ’‹ tab favorit juga ya ❀️


__ADS_2